BNPB Sebut Masih Ada 727 Titik Panas di Sumatra

Karhutla yang terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Senin (9/9) lokasinya tak jauh dari kawasan sekolah dan permukiman penduduk sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat yang terpapar kabut asap. - Istimewa
16 Oktober 2019 06:57 WIB Setyo Aji Harjanto News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan berdasarkan Pantauan citra satelit modis-catalog embaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dalam kurun 24 jam terakhir dengan tingkat kepercayaan 30 persen, teridentifikasi 727 titik panas atau hot spots di wilayah Sumatera Selatan.

Kepala Pusat  Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan Titik panas terbanyak berada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Ia menyebutkan Titik panas juga teridentifikasi di beberapa kabupaten, seperti Banyuasin 188 titik, Musi Banyuasin 90, Muara Enim 26 dan Ogan Ilir 17.

“Dilihat arah angin pada citra satelit Himawari pukul 16.00 WIB, asap kebakaran hutan dan lahan [karhutla] mengarah umumnya dari tenggara ke barat laut,” kata Agus dalam keterangan resmi, Selasa (15/10/2019).           

Agus mengatakan berdasarkan pantauan BNPB pukul 16.00 WIB, kualitas udara di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih bertengger di angka 194 yang berarti sangat tidak sehat. Kualitas tersebut dilihat dari indikator PM2,5.

“Sementara itu, rilis BMKG pada hari ini (15/10) mencatat bahwa berdasarkan pantauan satelit Modis (Terra Aqua), Suomi NPP dan NOAA 20 selama seminggu terakhir (8 Oktober - 14 Oktober 2019), terdeteksi peningkatan jumlah titik panas di beberapa wilayah, salah satunya di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Dia mengatakan berdasarkan Informasi dari BPBD Provinsi Sumsel, Asap terpantau berkurang dibandingkan kemarin (14/10). Kendati begitu, katanya, aktivitas kegiatan belajar mengajar masih diliburkan hingga hari ini.

Agus juga menyebutkan berdasarkan citra satelit, asap terdeteksi di wilayah Sumatera, seperti di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Lampung. Dia menyatakan sebaran asap tidak sampai melewati batas negara.

Lebih lanjut, Agus menyatakan, penanganan karhutla masih terus diupayakan oleh pos komando penanganan darurat bencana asap wilayah Sumsel. Pemadaman darat dilakukan dengan dukungan pengeboman air dari udara.

“Personel gabungan yang disiagakan di Sumsel mencapai 8.679 personel dan 7 helikopter water-bombing dan 2 untuk patroli,” katanya.

Berdasarkan data Januari hingga Agustus 2019, luas lahan terbakar di Sumsel mencapai 11.826 hektare. Sementara itu uasan lahan terbakar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 328.722 ha.

Selain itu, beberapa wilayah terdampak karhutla masih menunjukkan kualitas udara  buruk. Data BNPB kualitas udara hari ini (15/10) dengan indikator PM 2,5 di wilayah Jambi menunjukkan kualitas udara sangat tidak sehat (199), Kalimantan Tengah tidak sehat (129), Kalimantan Selatan tidak sehat (93), Riau tidak sehat (52), sedangkan Kalimantan Barat baik (10).

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia