MUBENG TIDAR: Penguatan UMKM Sebagai Upaya Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Iwing Setyowati, salah satu pengusaha batik khas Kota Magelang yang tetap bertahan di tengah Pandemi Covid-19. - Ist.
24 November 2021 08:37 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com. MAGELANG- Perekonomian di Kota Magelang, Jawa Tengah mengalami kontraksi akibat adanya pandemi Covid-19. Seiring dengan menurunnya level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari awal level III hingga saat ini menjadi level I, aktivitas ekonomi mulai menggeliat.

Wali Kota Magelang dr. Muchamad Nur Aziz mengungkapkan geliat ekonomi Kota Magelang di tengah Pandemi Covid-19 ini salah satunya ditandai dengan aktivitas perdagangan yang mulai buka serta pariwisata membludag di akhir pekan. "Mudah-mudahan geliat ekonomi ini bisa bertahan terus sampai kuartal berikutnya," katanya, baru-baru ini.

Pemkot Magelang, lanjutnya, memberikan bantuan stimulan yang bekerjasama dengan Baznas, TNI dan Polri untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Adapun pada UMKM, Pemerintah Kota Magelang memberikan pelatihan, pameran di tempat-tempat yang ramai serta memperbaiki peralatan yang diperlukan untuk mendukung usaha mereka.

BACA JUGA : Korban Tewas Diracun Dukun di Magelang Jadi 4 Orang 

Kabid Ekonomi dan Prasarana Wilayah di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang, Iwan Triteny S menjelaskan ekonomi Kota Magelang yang pada kurun waktu 2016 sampai 2019 mengalami peningkatan di kisaran 5,2% hingga 5,4%, pada 2020 mengalami penurunan hingga -2,45%. "Angka ini hampir sama dengan angka di Provinsi Jawa Tengah dan Nasional. Jadi pergerakan ekonomi Kota Magelang sejalan seperti kondisi nasional," kata Iwan.

Jika dilihat dari pertumbuhan lapangan usaha pembentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor yang mengalami kontraksi terbesar adalah transportasi dan pergudangan dengan penurunan hingga 27,68%. Di sisi lain, ada sektor yang meningkat pesat yakni informasi dan komunikasi yang peningkatannya mencapai 17,32%. "Kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap PDRB kecil, hanya 6,29% tetapi di masa pandemi tumbuh paling tinggi. Penyebabnya adalah banyak aktivitas masyarakat beralih ke digital," paparnya.

Meski pertumbuhannya paling tinggi, Pemerintah Kota Magelang tidak memfokuskan pada pengembangan sektor usaha tersebut. Penyebabnya, pelaku usaha di bidang informasi dan komunikasi merupakan perusahaan besar yang berpusat di ibu kota.

Pemerintah Kota Magelang, katanya, memfokuskan pada penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang banyak dijalankan oleh masyarakat Kota Magelang. Iwan menyebutkan jumlah UMKM di Kota Magelang yang di tahun 2019 sebanyak 6.600 unit, di tahun berikutnya saat terjadi pandemi Covid-19, meningkat pesat menjadi 8.663 unit. Tahun-tahun sebelumnya, peningkatan hanya di kisaran 500 unit.

Sejumlah upaya untuk meningkatkan kapasitas usaha UMKM dilakukan seperti penciptaan 1.500 wirausaha baru dan Program Pemberdayaan Masyarakat Maju Sehat dan Bahagia (Rodanya Mas Bagia) yang mendorong partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan di tingkat kelurahan yang berbasis di wilayah Rukun Tetangga (RT). Program dari Wali Kota baru ini memberikan Rp30 juta untuk setiap RT per tahun.

BACA JUGA : Identitas Mayat di SPBU Salam Terungkap Melalui Sidik Jari

“Saat ini ekonomi Kota Magelang mulai menggeliat. Pasar mulai ramai, tempat-tempat umum mulai ramai. Kami yakin pertumbuhan ekonomi akan bergerak positif. Kuncinya adalah pengendalian Covid-19. Semakin cepat kita bisa mengendalikan Covid maka semakin cepat untuk segera pulih," katanya.

Pemilik usaha batik khas Kota Magelang, Iwing Setyowati mengatakan usahanya sempat berhenti berproduksi selama 1,5 bulan di awal Covid-19, pada Maret 2020. Namun, pada Mei 2020, pesanan batik mulai datang lagi dan usahanya segera pulih. “Saat ini sudah berjalan seperti biasa,” katanya.

Iwing yang merupakan warga Wates, Magelang Utara ini menjalankan usaha batik dengan motif khas Kota Magelang seperti water torn, Diponegoro, Kebonpolo, Cempaka, Kantil, Gelatik dan lainnya. Usaha  yang dirintisnya sejak 2013 ini menerima pesanan rata-rata 300 lembar kain batik, dengan harga per lembar Rp150.000 hingga jutaan rupiah.