AS Sita Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China dari Kapal Tanpa Identitas

Ilustrasi - Pengikut gerakan Houthi menaiki sebuah bulldozer yang mereka rebut dari polisi anti huru-hara di sepanjang jalan utama menuju bandara di Sanaa, Yaman. - Reuters
10 Mei 2021 08:37 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Angkatan Laut AS menyita sejumlah besar senjata ilegal buatan Rusia dan China. Senjata ilegal itu disita dari kapal tanpa identitas negara yang berlayar di perairan internasional Laut Arab bagian utara.

Armada Kelima AS, yang bermarkas di Bahrain menyatakan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Monterey berhasil mencegat kapal itu. Mereka menemukan kargo berupa senjata dalam operasi rutin selama dua hari pada 6-7 Mei.

BACA JUGA : Korut Luncurkan Dua Rudal Setinggi 90 Kilometer

"Senjata itu termasuk belasan peluru kendali anti-tank canggih buatan Rusia, ribuan senapan serbu Tipe 56 China, dan ratusan senapan mesin PKM, senapan sniper dan peluncur granat berpeluncur roket," ujar pihak Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Aljazeera.com, Senin (10/5/2021).

Senjata-senjata itu dalam penguasaan AL AS dan sumber serta tujuan yang dimaksudkan sedang diselidiki.

Armada Kelima AS menyatakan Monterey beroperasi selama 36 jam dan memberikan jaminan keamanan bagi awak kapal tersebut.

"Setelah semua kargo ilegal dipindahkan, kapal itu dinilai layak laut dan kemudian dilepas setelah awaknya diberi makanan dan air usai diinterogasi.

BACA JUGA : Korea Utara Klaim Kesuksesan Uji Coba Rudal Balistik

Pernyataan itu tidak menyebutkan dari mana kapal itu berasal. Hanya dikatakan bahwa patroli rutin Angkatan Laut AS di wilayah tersebut berupaya mengawasi pengangkutan kargo gelap. D

isebutkan bahwa aktivitas kargo gelap itu sering digunakan untuk mendanai terorisme dan aktivitas yang melanggar hukum.

Bermacam-macam senjata yang disita terindikasi akan dikirim ke Yaman, tempat pemberontak Houthi yang berpihak pada Iran telah memerangi koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Houthi melakukan perlawanan sejak 2015.

Yaman dibanjiri senjata yang diselundupkan ke pelabuhan negeri itu tanpa terkontrol selama konflik bertahun-tahun.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia