Mutan Virus Corona Inggris Lebih Cepat Menular

Ilustrasi - Freepik
03 Maret 2021 14:17 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dokter Relawan Covid-19 Muhammad Fajri Adda memastikan mutasi baru virus Corona B117 asal Inggris yang kini ditemukan di Indonesia bersifat lebih cepat menular.

Temuan ini berdasarkan penelitian di Inggris yang berhasil mengurutkan genom atau infromasi genetik virus Corona di wilayahnya.

"Ketika dibandingkan (dengan varian yang lama) itu lebih cepat, 50-70 persen lebih cepat menular," ujar Fajri dalam video singkat di akun Instagram pribadinya, dikutip JIBI, Rabu (3/3/2021).

Dampaknya ketika virus cepat menular, angka orang yang terinfeksi berat juga akan meningkat dan tentu rumah sakit lagi-lagi penuh. 

"Walaupun belum terbukti, analisis peneliti di Inggris ada korelasi. Dihubungkan peningkatan kejadian reinfeksi dengan angka mutasi pada daerah tersebut itu 0,3-0,5%. Tetap butuh data lebih lanjut," tuturnya.

Fajri menjelaskan dari mutasi varian Inggris ada 23 kode genetik yang berubah. Begitu pula dengan protein spike (yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan). Kata dia dalam mutasi ini 8 protein spike berubah dari virus Covid-19 terdahulu.

"Tanduk (spike) digunakan virus untuk masuk ke dalam sel. Ketika berubah, nanti antibodi akan kena di sini (tidak bisa mengenali). Dia lebih efisien masuk lebih cepet, gampang," sebutnya.

Varian baru Covid-19 kata Fajri juga tidak bisa dideteksi melalui tes PCR. "PCR hanya melihat komponen bagian saja," tambahnya.

Dia menuturkan setidaknya materi genetik virus corona ini berubah 2 kali per bulan sejak ditemukan di Wuhan. Mutasi ini terjadi karena ketika penularan antar manusia semakin luas. Varian Covid-19 yang lama pun bisa saja tergantikan dengan varian baru ketika penularan semakin luas.

Lantas apakah lebih berbahaya atau mematikan? Fajri menyebut data dari Inggris belum bisa memberi kesimpulan. Sebab beberapa peneliti mengatakan ini bisa lebih mematikan dan orang yang terinfeksi bisa mengalami gejala lebih berat, sementara yang lainnya mengatakan tidak.

Sejauh ini gejala yang ditimbulkan tidak jauh berbeda dengan varian yang lama. Gejalanya seperti batuk, nyeri tenggorokan, pegal, demam,  nyeri perut, nyeri dada, sesak nafas, malas makan, nyeri sendi, hidung bermasalah, sakit kepala, diare, demam, dan delirium.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia