Pemerintah Laporkan Kasus Covid-19 Turun, Epidemiolog Sebut Data Semu

Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pekerja sektor pariwisata yang berada di atas kendaraan saat vaksinasi Covid-19 dengan sistem 'drive thru', di Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (28/2/2021). Layanan vaksinasi dengan sistem 'drive thru' yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Grab dan Good Doctor tersebut merupakan layanan pertama yang dihadirkan di kawasan Asia Tenggara guna membantu mempercepat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. - Antara
01 Maret 2021 02:37 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dua pekan setelah vaksinasi perdana yang diterima oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada medio Januari 2021 lalu, diikuti oleh kelompok pelayanan publik, tenaga kesehatan, pedagang dan wartawan terlihat tren penurunan kasus harian Covid-19 yang signifikan.

Kendati demikian, sejumlah pakar kesehatan masyarakat menyebut penurunan itu tidak berhubungan langsung dengan kegiatan vaksinasi yang telah berjalan sebulan terakhir.

Malahan, mereka menduga tren itu dibarengi dengan penurunan kemampuan pemeriksaan dan pelacakan kasus konfirmasi positif Covid-19 di tengah masyarakat.

Berdasarkan kurva https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19, tren penambahan kasus harian Covid-19 berada di posisi 8.242 pasien dalam hitungan hari pada 8 Februari 2021.

Satu bulan sebelumnya — 8 Januari hingga 7 Februari 2021, penambahan kasus harian Covid-19 bergerak fluktuatif dengan batas atas mencapai 14.224 pasien dan batas bawah berada di posisi 8.692 orang.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menilai, tidak ada korelasi positif antara kegiatan vaksinasi yang tengah berlangsung dengan tren penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 harian.

Dicky berpendapat penurunan kasus harian itu menunjukkan gambaran data Covid-19 yang semu di Tanah Air.

Dicky beralasan latar belakang penurunan data kasus harian Covid-19 di Indonesia dibarengi dengan turunnya kapasitas pemeriksaan dan pelacakan kasus konfirmasi positif Covid-19 di tengah masyarakat. Padahal, menurut dia, persentase kasus konfirmasi positif atau positivity rate di Indonesia masih terbilang tinggi sebesar 18,5 persen per 27 Februari 2021.

“Fenomena penurunan ini semu, bisa misinterpretasi dan misleading juga dan misekpektasi dan ini harus diketahui masyarakat dan pemerintah,” kata Dicky melalui pesan suara pada Minggu (28/2/2021).

Dia menegaskan, penurunan kasus itu tidak memiliki kaitan langsung dengan kegiatan vaksinasi Covid-19 di sejumlah kelompok masyarakat terbatas. Pasalnya, hingga saat ini jumlah penerima vaksin Covid-19 pada suntikan pertama sebanyak 1.616.165 orang dan suntikan kedua mencapai 982.370 orang.

“Bahwa vaksin berdampak pada jumlah penurunan kesakitan dan kematian baru pada kelompok kecil ya, capaiannya 0,3 persen dari total populasi belum signifikan,” ujar Dicky.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno (kedua kanan) didampingi Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (ketiga kanan) berbincang dengan pekerja sektor pariwisata yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 di Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (27/2/2021). Vaksinasi Covid-19 kepada pekerja sektor pariwisata yang dimulai di Provinsi Bali tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 sekaligus sebagai salah satu upaya memulihkan sektor pariwisata./Antara
 

Herd Immunity

Ihwal kekebalan kawanan atau komunitas (herd immunity) masih belum dapat diukur dengan pasti. Alasannya, suntikan vaksin itu belum memberikan data yang ajeg ihwal tingkat kemanjurannya dalam memutus penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

Padahal, tingkat efektifitas itu menjadi standar baku dalam penghitungan proyeksi kekebalan kawanan atau komunitas terbentuk di tengah masyarakat. Selain itu, jumlah vaksinasi yang diberikan mesti sudah mencakup 70 persen dari total populasi.

“Apalagi, kalau efektifitas nanti bervariasi itu tidak akan sederhana bukan hanya menghitungnya tetapi respons immunitasnya itu sendiri kita masih belum tahu,” kata dia.

Menanggapi tren menurunnya kasus harian Covid-19, pihak Kementerian Kesehatan mengatakan data itu disebabkan karena sejumlah intervensi yang diinisiasi oleh pemerintah. Contohnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM dibarengi program vaksinasi pada awal tahun ini.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan untuk Vaksinasi Siti Nadia Tarmizi mengatakan, terlalu dini untuk mengukur efektifitas vaksin dalam penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 beberapa waktu terakhir.

Alasannya, cakupan vaksin masih terbatas pada sejumlah kelompok profesi tertentu dan masih jauh dari target 70 persen populasi.

“Kalau ini mungkin terlalu dini ya untuk menyimpulkan penurunan kasus akibat vaksin,” kata Nadia melalui pesan tertulis pada Minggu (28/2/2021).

Hanya saja, dia menegaskan, penurunan kasus harian itu dapat ditelusuri dari sejumlah kebijakan intervensi yang telah dikeluarkan pemerintah lewat PPKM dan program vaksinasi tersebut.

“Artinya, ini karena multiintervensi adanya vaksin, adanya PPKM, ini yang bisa berpengaruh terhadap penurunan kasus,” tuturnya.

Jokowi mendorong percepatan vaksinasi Covid-19 agar kekebalan komunitas (herd immunity) segera terbentuk dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Untuk mewujudkan target tersebut, Jokowi meminta agar proses vaksinasi dilakukan secara klaster, bukan per invidividu.

“Bukan orang per orang, karena kita ingin melakukan vaksinasi itu klaster, memagari supaya tercapai kekebalan komunal, tercapai herd immunity," kata Jokowi dalam acara Peresmian Pembukaan Acara Munas VI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (11/2/2021).

Jokowi meminta pemerintah daerah segera menyusun perencanaan detail vaksinasi agar program utama penanganan Covid-19 segera rampung dan akhirnya terbentuk kekebalan komunitas minimal 70 persen dari seluruh rakyat Indonesia.

Petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada seorang lansia, di Puskesmas Rawang, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (28/2/2021). Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum dibuka perdana di provinsi itu yang diutamakan bagi lansia dan pelaku pelayanan publik dengan target pertama sebanyak 5.000 orang untuk tiga kelurahan di Kota Padang./Antara

10 Tahun Lagi

Sebelumnya, Jokowi  menargetkan vaksinasi Covid-19 dapat dikerjakan sebanyak 5.817.000 dosis pada Januari 2021. Target itu seiring dengan hitung-hitungan untuk merampungkan pemberian vaksin Covid-19 kepada 181.554.000 orang di akhir 2021.

Target itu disampaikan Jokowi saat memberi kata sambutan dalam perayaan Hari Ulang Tahun Ke-48 Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Tahun 2021 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (10/1/2021).

Saat ini, dia membeberkan, pemerintah telah memiliki 3 juta dosis vaksin Covid-19 yang siap pakai. Malahan, bakal datang lagi vaksin Covid-19 dalam bentuk bahan baku sebanyak 15 juta dosis pada pekan depan.

“Rencananya vaksin ini akan kita gunakan untuk 1,6 juta tenaga kesehatan tenaga medis yang tersebar di 34 provinsi sebagai prioritas vaksinasi awal, setelah itu tentu saja yang berikutnya TNI, Polri, guru dan masyarakat,” kata dia.

Jokowi melanjutkan, pemerintah bakal melakukan vaksinasi Covid-19 sebanyak 10 juta dosis pada Februari, 13,33 juta vaksin Covid-19 pada Maret dan 20,4 juta vaksin Covid-19 pada April.

“Dan, bulan-bulan seterusnya, hingga nantinya pada akhir tahun nanti atau tahun awal tahun depan sudah tiba semuanya sebanyak 426 juta dosis vaksin. Ini sudah cukup untuk mencapai herd immunity,” tuturnya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia diprediksi baru akan berakhir 10 tahun lagi. Sedangkan, pandemi di dunia secara global diperkirakan berakhir 7 tahun lagi. Perhitungan ini, berdasarkan kalkulasi vaksinasi yang kini sedang dilakukan di Indonesia.

Perhitungan vaksinasi itu dirilis Bloomberg memperhitungkan jumlah vaksinasi yang dilakukan di masing-masing negara, termasuk Indonesia. Data Bloomberg mencatat saat ini sudah ada 119 juta dosis vaksin didistribusikan dan disuntikkan ke orang-orang, termasuk di Indonesia.

Dari data yang dirilis itu, Indonesia menempati urutan ke-10 dari negara-negara yang telah melakukan vaksinasi dengan jumlah cukup tinggi. Perhitungan 10 tahun tersebut berdasarkan jumlah vaksinasi harian yang dilakukan di Indonesia.

Berdasarkan data itu, per hari, Indonesia melakukan vaksinasi sebanyak 60.433 dosis vaksin. Sedangkan untuk mencapai herd immunity, vaksinasi harus mencakup 75 persen seluruh penduduk di Indonesia.

Jumlah penduduk di Indonesia saat ini mencapai 267,7 juta. Adapun, jumlah kasus positif di Indonesia telah mencapai 1,134 juta dengan jumlah orang meninggal sebanyak 31.202 orang.

 

Sumber : Bisnis.com