Positivity Rate Covid Indonesia Sangat Tinggi, Ini 3 Penyebabnya

Sebuah kalimat penyemangat tertulis di hazmat salah satu tenaga kesehatan di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1/2021). - Antara
18 Februari 2021 19:07 WIB Amanda Kusumawardhani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Tingkat penularan kasus positif atau positivity rate Covid-19 menjadi salah satu indikator penting dalam penanganan pandemi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, positivity rate dihitung dengan membandingkan jumlah orang yang positif dengan jumlah orang yang diperiksa.

"Dalam kondisi normal, angka positivity rate saat ini masih tinggi, yakni mencapai 38,34 persen. Angka tersebut masih jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] di bawah 5 persen," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resmi, Kamis (18/2/2021).

Dia menyampaikan tiga hipotesis terhadap tingginya positivity rate di Indonesia. Pertama, banyak data mengenai hasil tes usap (PCR) yang hasilnya negatif belum langsung dikirim ke pusat sehingga data yang diterima itu lebih banyak data yang positif.

Setelah dicek ke beberapa rumah sakit dan laboratorium, penyebabnya cara memasukkan data ke sistem aplikasi dinilai rumit. Akibatnya, rumah sakit dan laboratorium lebih banyak memasukkan data positif dulu, sementara data hasil negatif belum di-input.

“Menurut mereka yang penting adalah data positif agar bisa diisolasi. Itu yang mengakibatkan positivity rate-nya naik,” ujar Budi.

Budi mengatakan Kemenkes telah memperbaiki sistem aplikasi tersebut sehingga akan memudahkan semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk memasukkan laporan secara otomatis.

Kedua, kemungkinan kasus positif sudah lebih banyak sedangkan tes ke masyarakat justru sedikit. Menurutnya, untuk mencapai hipotesa ini pihaknya akan meningkatkan jumlah pemeriksaan sejalan dengan penerapan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro menggunakan Rapid Tes Antigen untuk memperluas cakupan target pemeriksaan.

“Kami ingin lebih banyak mendeteksi kasus positif. Semakin luas cakupan target pemeriksaan, sehingga positivity rate yang ada lebih menggambarkan kondisi yang sesungguhnya," imbuhnya.

Hipotesa terakhir, yaitu banyak laboratorium yang belum konsisten memasukkan laporan kepada Kemenkes. Budi mengatakan perlu komunikasi yang baik dengan para peneliti Covid-19 di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan untuk memastikan agar mereka disiplin dan memasukkan data yang lengkap serta tepat waktu.

“Dengan demikian, pemerintah bisa melihat data positivity rate yang sebenarnya. Targetnya agar kami bisa mengambil keputusan dan kebijakan yang lebih tepat,” ungkap Budi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia