Epidemolog Sebut Penanganan Covid-19 di Indonesia Tak Terencana

Ilustrasi - Sampel darah yang terindikasi positif Virus Corona. - Antara
27 November 2020 13:37 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Pandu Riono menyebut penanganan Covid-19 di Indonesia tidak terencana dan tidak terkoordinasi dengan baik. Hal ini terlihat dari tren kasus harian yang secara konsisten cenderung naik.

Menurut Pandu, tren kenaikan kasus harian telah lama memberikan sinyal bahwa Indonesia memerlukan aksi untuk mengendalikan penyebaran virus Corona. Namun, hingga saat ini Pandu belum melihat hal tersebut.

“Pencegahan 3M masih kedodoran, surveilans masih kurang tenaga. Beginilah mengatasi pandemi tanpa rencana, tak terkoordinasi,” tulis Pandu melalui akun Twitter miliknya @drpriono1, Jumat (27/11/2020).

Adapun sebelumnya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus positif virus Corona di Indonesia sempat lebih dari 5.000 orang selama tiga hari. Selain itu selama sepekan terakhir penambahan kasus selalu melampaui 4.000 orang.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Kasus positif bertambah apabila tidak ada langkah serius dari masyarakat maupun pemerintah daerah,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, Kamis (26/11/2020).

Dia pun meminta masyarakat tidak lengah. Protokol kesehatan Covid-19 harus selalu diimplementasikan dalam setiap aktivitas. Disiplin memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak adalah kunci melindungi diri sendiri dan orang terdekat dari virus Corona.

“Bagi satgas di daerah jangan ragu menindak masyarakat yang masih abai,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penambahan kasus positif sebanyak 4.917 per hari ini, Kamis (26/11/2020), sehingga secara total menjadi 516.753 orang.

Pada sehari sebelumnya atau Rabu (25/11/2020), penambahan kasus positif virus Corona mencapai 5.534 orang sehingga totalnya menjadi 511.836 orang.

Satgas Covid-19 menaruh perhatian pada penambahan kasus di DKI Jakarta selama sepekan terakhir, hingga 22 November 2020. Selain Ibu Kota Negara, Satgas juga menyorot dua provinsi lain, yakni Riau dan Jawa Timur.

Dalam satu pekan tersebut dibandingkan dengan pekan sebelumnya ketiga wilayah itu, Riau, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, masing-masing mencatat kenaikan 139,4 persen, 44,4 persen, dan 23,9 persen.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia