Masker Hibrida Direkomendasikan untuk Cegah Covid-19

Ingat Pesan Ibu, Jangan Lupa Pakai Masker. - Harian Jogja/Dok
02 Oktober 2020 15:07 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Saat ini banyak masker kain aneka motif dan bahan yang beredar di pasaran. Selain direkomendasikan untuk masyarakat umum, masker kain kini juga seolah sudah jadi kebutuhan fesyen. Tak sembarang kain, hal paling penting yang harus diperhatikan adalah bahan masker tersebut. Inilah yang kemudian menjadi dasar dianjurkannya pemakaian masker yang bernama masker hibrida.

Ternyata tidak semua jenis masker bisa melindungi diri dari virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Idealnya, masker harus mampu menghalangi droplet saat batuk atau bersin. Masker juga harus melindungi diri dari partikel kecil di udara yang disebut aerosol yang dihasilkan saat orang berbicara atau menghembuskan napas. 

BACA JUGA: Warung Mi Ayam di Bantul Ini Ramai dan Viral, Makan 5 Porsi Dapat Uang Rp100.000

Dari evaluasi dan penelitian terbaru, masker hibrida adalah salah satu opsi masker buatan rumah yang paling aman saat ini. Sebagai aturan umum, masker kain harus ditenun sekencang mungkin. Itulah mengapa kain dengan jumlah benang yang banyak dan ditenun erat lebih baik dalam menyaring partikel.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa masker kain wajib memiliki tiga lapisan. Lapisan tersebut masing-masing terdiri dari lapisan dalam yang berfungsi untuk menyerap; lapisan tengah yang berfungsi menyaring; dan lapisan luar yang terbuat dari bahan non-penyerap seperti poliester.

BACA JUGA: Dalam Sebulan di Masa Pandemi Corona, Ada 165.000 Turis Asing Kunjungi Indonesia

Tak dipungkiri masker N95 adalah yang paling protektif karena menutup rapat sekitar hidung dan mulut sehingga sangat sedikit partikel virus yang bisa masuk atau keluar. Masker ini juga mengandung serat kusut untuk menyaring patogen di udara. 

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa orang yang menggunakan masker N95 memiliki kemungkinan hingga kurang dari 0,1% dalam menularkan virus melalui droplet. Itulah mengapa jenis masker ini umumnya disediakan untuk petugas kesehatan. Ketersediaannya sangat dijaga di semua negara untuk kepentingan tenaga kesehatan. Sementara  masker bedah dinilai tiga kali lebih efektif dalam memblokir aerosol influenza daripada masker wajah buatan sendiri dari kain.

Akan tetapi , masih ada opsi masker kain buatan sendiri yang mendekati tingkat perlindungan N95 atau masker bedah. Masker itu dinamakan masker hibrida. 

600 Benang Kapas

Sebuah studi dari University of Chicago April lalu mengatakan bahwa masker hibrida adalah masker yang menggabungkan dua lapisan kain yang terdiri dari 600 benang kapas. Kain itu kemudian dipasangkan dengan bahan lain seperti sutra, sifon, atau kain flanel. 

Masker ini mampu menyaring setidaknya 94% partikel kecil (kurang dari 300 nanometer ) dan setidaknya 96% partikel yang lebih besar (lebih besar dari 300 nanometer). Kedua lapisan dari 600 benang kapas ini menawarkan tingkat perlindungan yang sama terhadap partikel yang lebih besar, tetapi tidak efektif untuk menyaring aerosol.  

Studi tersebut mengukur tingkat aliran udara yang rendah, sehingga masker menawarkan perlindungan yang lebih sedikit terhadap droplet batuk atau bersin. Tetapi beberapa lapis kapas dengan serat benang tinggi lebih disarankan daripada masker yang terbuat dari serbet atau kaos katun. 

BACA JUGA: Pandemi Ikut Pengaruhi Kecelakaan Lalu Lintas di DIY

Di sisi lain, kain seperti sutra atau katun memiliki penampilan yang lebih bervariasi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Hospital Infection pada Juni lalu menemukan bahwa masker yang terbuat dari kantong penyedot debu merupakan alternatif paling efektif untuk masker bedah, diikuti oleh masker yang masing-masing terbuat dari handuk teh, sarung bantal, sutra, dan kain katun 100%.

Sementara itu, penelitian dari University of Illinois menemukan bahwa serbet atau kain lap sedikit lebih efektif daripada kain katun 100% bekas dalam urusan menyaring droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Studi tersebut juga menemukan bahwa kemeja bekas yang terbuat dari 100% kain sutra lebih efektif dalam menyaring droplet. Efektivitas itu terjadi karena kemungkinan karena sutra memiliki sifat elektrostatis yang dapat membantu menjebak partikel virus yang lebih kecil. 

Namun, studi Universitas Chicago memiliki kesimpulan yang berbeda. Para peneliti tersebut menemukan bahwa satu lapisan sutra alami hanya menyaring 54% partikel kecil dan 56% partikel yang lebih besar. Sebaliknya, empat lapisan sutra alam menyaring 86% partikel kecil dan 88% partikel besar dengan laju aliran udara rendah.

BACA JUGA: Peneliti Berhasil Identifikasi 63 Flora dan 52 Fauna dalam Relief Candi Borobudur

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengingatkan mengingatkan bahwa penggunaan masker kain adalah empat jam. "Masker kain bagi orang yang sehat maksimal dipakai tiga sampai empat jam, setelah itu harus diganti," kata dia, dilansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), belum lama ini.           

Dia mengakui masker sempat menjadi barang langka di pasaran setelah pemerintah mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama. Meski saat ini masker telah dapat kembali diperoleh dengan mudah, akan tetapi Wiku mengatakan benda itu dapat dibuat sendiri di rumah masing-masing.

Syarat minimal masker kain yang direkomendasikan Wiku adalah berbahan katun, menggunakan tiga lapis kain, kemudian disesuaikan dengan bentuk wajah. "Yang penting adalah menutup dagu, mulut, sampai pipi" ujar dia.