Pedas! Warganet Sebut Kalung Antivirus Corona Bikinan Pemerintah sebagai Kalung Antibego

Inovasi antivirus berbasis eucalyptus hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian (Kementan). Produk ini diluncurkan di ruang utama Agriculture War Room (AWR), Jakarta, Jumat (8/5/2020) - Pertanian.go.id
04 Juli 2020 16:47 WIB Oktaviano DB Hana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kalung antivirus Corona yang dibikin pemerintah menjadi olok-olok warganet. Tanda pagar atau hashtag #KalungAntiBego menjadi salah satu topik yang tren (trending topic) di Twitter, Sabtu (4/7/2020).

Tagar bernada satire ini dikaitkan dengan kalung antivirus Corona yang kembali ramai dikabarkan sejumlah media. Berdasarkan pantauan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, kalung antivirus tersebut dipromosikan kembali oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ketika menemui Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Jumat (3/7/2020).

Bahkan, kalung hasil temuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) tersebut bakal diproduksi massal pada bulan depan.

Kementan sebenarnya telah meluncurkan inovasi antivirus berbasis eucalyptus di ruang utama Agriculture War Room (AWR), Jakarta, Jumat (8/5/2020). Produk inovasi ini merupakan hasil uji lab para peneliti pertanian yang dinilai mampu menangkal penyebaran virus.

Saat itu, Mentan Syahrul yang didampingi Kepala Balitbangtan Fajry Jufri dan Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono, mengatakan bahwa terobosan ini memiliki hasil pengujian eucalyptus terhadap virus influenza, virus Beta dan gamma corona yang menunjukkan kemampuan membunuh virus sebesar 80-100 persen.

"Bahkan Balitbangtan membuat beberapa prototipe eucalyptus dengan nano teknologi dalam bentuk inhaler, roll on, salep, balsem, dan defuser. Kami akan terus kembangkan dengan target utamanya korban terpapar virus Covid-19," kata Mentan, sebagaimana dikutip dari laman resmi pertanian.go.id.

Sementara itu, Kepala Balitbangtan Fajry Jufri menjelaskan bahwa penelitian ini sebenarnya adalah hasil identifikasi melalui beberapa tanaman herbal dari jamu-jamuan seperti temulawak, jahe, jambu biji, dan minyak Atsiri. 

"Kami sudah mencobanya ke paduan yang terpapar virus covid-19 dan hasilnya sangat baik. Namun untuk itu kita masih harus menunggu untuk dapat didistribusikan," jelasnya saat itu.

Sebelum kalung antivirus hasil penelitian Balitbangtan ini mengemuka, produk kalung antivirus bernama 'Virus Shut Out' terlebih dahulu mencuri perhatian di tengah wabah virus corona Covid-19 pada Maret lalu. Kala itu, produk tersebut sudah beredar dan diklaim bisa melindungi penggunanya dari virus patogen selama 30 hari per produk.

"ORIGINAL JAPAN 1000% . Produk yang lagi booming di Jepang. Dipakai di leher seperti pakai lanyard / tag, ampuh mengusir virus selama 30 hari. Melindungi virus dari jarak 1-2m . COCOK U/ ANAK” maupun DEWASA," bunyi penggalan iklannya di grup percakapan.

Di sana disebutkan kalau Virus Shut Out adalah perangkat perlindungan pribadi antivirus dan antibakteri. Cara kerjanya, melepaskan konsentrasi rendah klorin dioksida untuk menghilangkan kuman dan virus di udara sekitarnya dengan jarak 1-2 meter.

"Pilihan yang tepat untuk kamu yg bekerja di luar rumah dan banyak berinteraksi dengan banyak org. Mungkin di transportasi umum, dan ruang ramai lainnya di mana kuman dan virus di udara sangat beresiko."

Produk yang digolongkan sebagai pestisida ini telah dinyatakan dilarang masuk Amerika Serikat. Alasannya, belum terdaftar dan teruji. Selain itu, label yang dan arahan penggunaannya tak tersedia dalam bahasa Inggris.

Warganet langsung melambungkan kalung tersebut dengan tagar #KalungAntiBego. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia