Pria Botak Disebut Lebih Berisiko Alami Infeksi Covid-19 yang Parah

Pria botak - mirror.co.uk
06 Juni 2020 05:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Para peneliti di Amerika Serikat menyebut pria botak berisiko mengalami infeksi virus Corona yang parah.

Kaitan kebotakan dengan potensi infeksi Covid-19 ini dipicu dari kematian Dr Frank Gabrin, dokter AS pertama yang mati karena virus ini. Gabrin tidak memiliki rambut kepala alias botak.

"Kami benar-benar berpikir bahwa kebotakan adalah prediktor sempurna dari tingkat keparahan,” ujar Profesor Carlos Wambier dari Brown University, penulis utama studi ini dilansir dari Boldsky, Jumat (5/6/2020).

Baru-baru ini para ilmuwan berhipotesis bahwa pria lebih mudah terinfeksi Covid-19 daripada wanita karena hormon testosteron.

Dokter di Italia sebelumnya menemukan pasien yang diberi terapi kekurangan androgen, yang secara masif memotong kadar testosteron, empat kali lebih kecil kemungkinannya meninggal akibat coronavirus. Para ilmuwan berpikir virus dapat menggunakan protein TMPRSS2 untuk membantunya membuka sel.

Para peneliti di London Institute for Cancer Research sedang memeriksa tautan lebih lanjut mengenai hal ini, sementara University of California, Los Angeles mencari terapi pemblokiran testosteron untuk membantu pengobatan coronavirus.

Testosteron dapat menghasilkan dihidrotestosteron (DHT) yang dapat menyebabkan kerontokan rambut. Namun ada kemungkinan pria memiliki hormon testosteron yang rendah tetapi tingkat DHT-nya yang tinggi.
Sebuah penelitian di tiga rumah sakit di Madrid menemukan bahwa 79 dari 122 pasien pria, tidak memiliki rambut kepala alias botak.

Karen Stalbow, Kepala Kebijakan di Prostate Cancer UK, mengatakan ada beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan mungkin ada hubungannya antara hormon pria dan peningkatan risiko Covid-19. “Ini mengarahkan beberapa peneliti untuk menyelidiki apakah terapi hormon yang biasa digunakan untuk mengobati kanker prostat, seperti enzalutamide, dapat mengurangi risiko ini,” sebutnya.

Namun, sebagian besar penelitian masih meneliti apakah terapi hormon ini akan menjadi pengobatan yang efektif untuk Covid-19.

Profesor Nick James dari Institute for Cancer Research telah memperingatkan agar tidak menggunakan perawatan pemotongan testosteron sebagai tindakan pencegahan karena efek sampingnya cukup parah. “Memakai obat ini setara dengan pria yang mengalami menopause,” tegasnya.

Sementara itu NHS sebelumnya telah merilis daftar orang-orang yang dianggap sangat rentan mengalama infeksi Covid-19 cukup parah. Antara lain, orang yang telah menjalani transplantasi organ, orang yang menjalani kemoterapi atau pengobatan antibodi untuk kanker, radioterapi intens, perawatan kanker yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, orang yang menderita kanker darah atau sumsum tulang , mereka yang pernah menjalani transplantasi sumsum tulang atau sel induk dalam enam bulan sebelumnya, atau masih menggunakan obat imunosupresan, mereka yang memiliki kondisi paru-paru yang parah, mereka yang memiliki kondisi kecanduan obat dan ibu dengan penyakit jantung.

Sedangkan mereka yang berisiko sedang yakni mereka yang berusia di atas 70 tahun, ibu hamil, mereka yang memiliki kondisi paru-paru yang tidak parah, mereka yang menderita penyakit jantung, penderita diabetes, mereka yang memiliki penyakit ginjal kronis, mereka yang memiliki penyakit hati, mereka yang memiliki kondisi mempengaruhi otak atau saraf dan mereka yang mengalami obesitas.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia