Ragam Komentar Mahasiwi Belajar Online Akibat Pandemi

Dosen memantau sejumlah tugas perkuliahan secara daring, Sabtu (14/03/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
17 Mei 2020 11:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Pandemi corona COVID-19 di Indonesia membuat para mahasiswa dan mahasiswi harus melakukan kegiatan belajar secara virtual. Kegiatan belajar di kelas secara virtual yang digelar online melalui aplikasi teleconference ini pasti menimbulkan dua sisi. Ada sederet keuntungan, tapi ada juga dampak negatif yang dirasakan.

Seperti penuturan dari Muslimah Siregar, mahasiswi kedokteran Universitas Andalas, Padang satu ini mengaku meski ada sederet nilai minus dari kegiatan belajar mengajar online. Sebagai anak rantau yang harus kos, tentu ia merasa jauh lebih enak ngampus online dibanding kuliah biasa normal di kelas harus datang ke kampus.

“Buat anak rantau, termasuk buat mahasiswa yang tinggalnya jauh dari kampus tidak perlu repot dengan masalah transportasi. Selain itu, dengan kelas online proses pengajaran kuliah pengantar bisa direkam dan diarsip oleh mahasiswa,” ungkap Muslimah saat dihubungi Okezone-Jaringan Harianjogja.com, Minggu (17/5/2020) melalui pesan.

Terlepas soal tak perlu repot memikirkan transportasi ke kampus, sebagai mahasiswa kedokteran Muslimah menambahkan justru jadwal kelas mata kuliah jarang yang dibatalkan karena para dokter yang ada di rumah sakit tidak perlu repot harus datang ke kampus.

“Dosen yang berada di rumah sakit tidak perlu repot untuk memberikan kuliah di kampus, sehingga jadwal kuliah jarang di-reschedule. Jadi saya sih lebih merasa enak ngampus online gini,” katanya.

Sementara itu, berbeda dengan Muslimah di atas, Melisa Damayanti, mahasiswi jurusan Ilmu Fisika Institut Teknologi Bandung ini memilih lebih enak kuliah normal ke kampus seperti biasanya dibandingkan harus belajar online di rumah.

Mahasiswi semester empat tersebut mengaku, justru dengan kuliah online ia merasa materi perkuliahan jadi semakin sulit untuk dipahami. “Beberapa mata kuliah model soal ujiannya jadi lebih sulit sebab tingkat analisis soal dibuat lebih tinggi menyesuaikan standar soal open book,” curhat Melisa.

Selain itu, Melisa merasa selama berbulan-bulan ngampus online ia malah cukup kewalahan dengan setumpuk tugas yang diberikan oleh para dosen.

“Kadang kala dosen-dosen tuh ada yang kasih tugas jauh berkali lipat banyaknya. Karena jurusan saya ini biasanya banyak praktikum dan RBL [Research Based Learning], ketika kelas online kayak sekarang kami hanya ditugaskan review paper, justru lebih sulit. Sedangkan biasanya kami terbiasa mengeksplor alat-alat dan sebagainya,” ujarnya.

Sumber : Okezone.com