Peneliti: Mahasiswa Terkadang Punya Literasi yang Rendah

Petugas memeriksa dokumen kependudukan warga yang akan masuk ke Surabaya di Bundaran Waru, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/4/2020). Petugas gabungan memperketat akses masuk ke Surabaya dengan melakukan screening atau pemeriksaan kepada warga di hari pertama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya. - Antara/Didik Suhartono\\n
11 Mei 2020 10:27 WIB Choirul Anam News Share :

Harianjogja.com, MALANG - Literasi mahasiswa tentang virus Corona penyebab Covid-19 cenderung mengkhawatirkan karena lebih suka mencari informasi yang kebenarannya sangat diragukan.

Salah satu tim peneliti dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bernama Ahmad Fauzi, bersama dengan Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia mengatakan literasi mahasiswa tentang Corona cenderung beragam, bahkan pada poin tertentu cenderung mengkhawatirkan.

“Repotnya, mahasiswa itu kan contoh bagi masyarakat. Agen penggerak dan pencerah. Ketika mahasiswa yang katanya generasi terpelajar saja memiliki literasi yang rendah, lalu bagaimana masyarakat umum dan awam? Ini pekerjaan yang berat bagi perguruan tinggi,” katanya dalam keterangan resminya, Minggu (10/5/2020).

Pernyataannya itu disampaikan pada seminar hasil penelitian online berskala nasional (webinar) bertema “Literasi Covid-19: Bagaimana Mahasiswa, Guru, dan Masyarakat Kita?”, Sabtu (9/5/2020), menggunakan platform Zoom meeting dan YouTube Streaming

Sebenarnya, kata dia, hal itu bisa diatasi dengan banyak membaca, akan tetapi masalahnya adalah menurut data mahasiswa cenderung lebih suka mencari informasi di media sosial yang kebenarannya sangat diragukan.

Atok Miftachul Hudha, dalam paparannya juga menyampaikan bahwa ada begitu banyak informasi salah yang beredar di media sosial saat ini. Informasi itu dengan mudah tersebar di WhatsApp, Instagram, Twitter, dan Facebook.

“Kami menemukan, minimal ada 41 informasi yang berbahaya untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kita menyebutnya beragam, fake news, misleading information, hoax, dan pseudo-science,” ucapnya.

Yang ditakutkan, masyarakat mempercayai informasi-informasi itu dan tertanam kuat di pikiran mereka. Dia melihat ada banyak kejadian-kejadian aneh dan mengenaskan tentang bagaimana masyarakat merespon Covid-19

“Kita takut, apa yang diramalkan oleh beberapa pakar dunia itu menjadi kenyataan, bahwa bisa jadi korban karena fake news hampir sama besarnya dengan korban Covid-19 itu sendiri," ujar dosen senior yang juga Editor in Chief JPBI itu menekankan.

Ketua Prodi Pendididikan Biologi UMM, Iin Hindun, menegakan literasi Corona merupakan salah satu topik yang harus dikampanyekan kepada masyarakat.

Bagaimanapun, masyarakatlah yang merupakan garda terdepan sebenarnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Tinggi dan rendahnya literasi masyarakat akan berpengaruh terhadap upaya Indonesia memerangi pandemi ini.

Menurut dia, ada empat tema penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti, yakni terkait dengan literasi Covid-19 pada mahasiswa, dampak e-learning di masa pandemi terhadap kognisi kerja dan kesadaran metakognitif guru, fake news/hoax tentang Covid-19 di masyarakat dan implikasinya dalam pembelajaran, serta persepsi dan pola pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru dan dosen.

“Hari ini kami fokus menyeminarkan tiga hasil penelitian yang datanya telah selesai dianalisis dan ada tiga keluaran berupa artikel yang sudah kami submit ke jurnal internasional terindeks SCOPUS,” ujarnya.

Bahkan, ada satu artikel yang dalam waktu singkat sudah diterima untuk dipublikasi di jurnal bereputasi tersebut.

Webinar ini banyak mendapat apresiasi dari peserta yang jumlahnya sekitar 400 orang tersebut. Para akademisi tersebut berasal dari unsur dosen, mahasiswa, dan guru dari hampir seluruh Indonesia, dari Papua hingga Sumatera.

Hampir semua peserta meminta copy bahan paparan, instrumen, dan artikel yang dibuat tim peneliti. Adapula yang meminta untuk didampingi analisis dan menulis artikel.

Sumber : Bisnis.com