Advertisement
Starmer Akui Salah Pilih Dubes Inggris AS dalam Skandal Epstein
Starmer akui salah tunjuk dubes Inggris AS setelah skandal Epstein terbongkar, termasuk kebohongan Mandelson dan wacana pencabutan gelar Lord. - Instagram.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pengakuan terbuka Perdana Menteri Inggris Keir Starmer soal kesalahan fatal dalam penunjukan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat memicu sorotan baru terhadap skandal Epstein, termasuk lemahnya sistem verifikasi pejabat tinggi negara.
Pernyataan itu disampaikan Starmer di hadapan Majelis Rendah Inggris, Rabu (4/2), setelah terungkap bahwa Peter Mandelson—mantan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat—tidak jujur mengenai relasinya dengan pemodal AS sekaligus terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Fakta-fakta krusial tersebut baru sepenuhnya mencuat setelah Mandelson resmi menduduki jabatan diplomatik strategis itu.
Advertisement
Starmer menegaskan bahwa sejak tahap pemeriksaan pra-penunjukan, Mandelson telah memberikan keterangan yang menyesatkan. Ia disebut menyembunyikan kedalaman hubungan pribadinya dengan Epstein, sehingga lolos dari proses verifikasi keamanan yang semestinya ketat.
“Ia sepenuhnya menyalahartikan tingkat hubungannya dengan Epstein dan berbohong sepanjang proses verifikasi,” ujar Starmer saat menjawab pertanyaan pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, terkait mekanisme pemeriksaan keamanan sebelum penunjukan tersebut.
BACA JUGA
Penunjukan Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat dilakukan pada Februari 2025. Namun, jabatannya hanya bertahan hingga September tahun yang sama, setelah keterkaitannya dengan Epstein terungkap ke ruang publik. Tak lama setelah pemberhentian tersebut, pada Minggu, Mandelson menyatakan pengunduran diri dari Partai Buruh.
Dalam forum parlemen, Starmer secara terbuka menyampaikan penyesalan mendalam atas keputusan politik tersebut. Ia menegaskan bahwa penunjukan itu tidak akan pernah terjadi apabila informasi yang kini terungkap telah diketahui sebelumnya.
“Ia berbohong berulang kali kepada tim saya ketika ditanya tentang hubungannya dengan Epstein, baik sebelum maupun selama masa jabatannya sebagai duta besar. Saya menyesal telah menunjuknya. Jika saat itu saya tahu apa yang saya ketahui sekarang, ia tidak akan pernah berada di lingkaran pemerintahan,” kata Starmer.
Lebih lanjut, pemerintah Inggris saat ini tengah mempersiapkan rancangan undang-undang untuk mencabut gelar kebangsawanan Mandelson. Raja Charles III disebut telah menyetujui pencopotan Mandelson dari Dewan Penasihat Kerajaan Inggris sebagai langkah awal.
Menurut Starmer, kasus ini membuka ruang evaluasi lebih luas terkait aturan pencabutan gelar kebangsawanan bagi bangsawan yang terjerat skandal berat. Hingga kini, Mandelson masih menyandang gelar Lord karena ketentuan Dewan Bangsawan mensyaratkan undang-undang parlemen untuk mencabut status tersebut.
Keterbatasan kewenangan serupa sebelumnya juga muncul pada November 2025, saat upaya pencabutan gelar terhadap Andrew Mountbatten-Windsor—saudara Raja Charles III—yang juga dikaitkan dengan Epstein, dinyatakan harus melalui undang-undang parlemen. Bahkan, Halsbury’s Laws of England menegaskan bahwa Raja Inggris tidak memiliki kewenangan langsung untuk mencabut gelar kebangsawanan.
Skandal Epstein kembali menjadi perhatian global setelah Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, pada 30 Januari mengumumkan rampungnya publikasi dokumen kasus tersebut. Dengan pengungkapan terbaru ini, total data yang dirilis kini melampaui 3,5 juta berkas.
Dokumen tersebut mencatat bahwa Mandelson menerima dana sebesar 75.000 dolar AS—setara sekitar Rp1,3 miliar saat ini—dari Epstein pada periode 2003–2004.
Harian The Sun pada September 2025 melaporkan bahwa pada 2008 Mandelson sempat menenangkan Epstein dengan mengatakan, “teman-temanmu tetap bersamamu dan mencintaimu,” ketika pemodal itu menghadapi tuduhan memaksa seorang gadis di bawah umur melakukan prostitusi.
Tak lama sebelum Epstein dijatuhi hukuman 18 bulan penjara melalui kesepakatan pengakuan bersalah, Mandelson juga dilaporkan mendorongnya untuk “berjuang” demi memperoleh pembebasan lebih cepat. Dalam sejumlah surat, Mandelson bahkan menyatakan kemarahannya terhadap proses peradilan di Amerika Serikat dan menyarankan Epstein menyikapi perkara tersebut secara “filosofis,” sementara skandal Epstein terus
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa Darat M3,1 Guncang Pasaman, Getaran Terasa hingga Bukittinggi
- BGN dan Kemensos Matangkan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Disabilitas
- BPJS Kesehatan Jelaskan Mekanisme Reaktivasi PBI JKN, Begini Caranya
- Ormas Islam Pahami Alasan Prabowo Masukkan RI ke Dewan Perdamaian
- Seleksi Sekolah Rakyat Dimulai, Kemensos Siapkan Kuota 30 Ribu Siswa
Advertisement
Harga Cabai Fluktuatif, Disperindag DIY Pastikan Stok Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- KPK Hadirkan Gubernur Jatim Khofifah di Sidang Korupsi Dana Hibah
- Permenkes KLB 2026 Perkuat Respons Wabah dan Krisis Kesehatan
- KPK Sebut Dugaan Pemerasan Perangkat Desa di Pati Belum Menyeluruh
- Red Notice Interpol Persempit Gerak Buron Korupsi Minyak Riza Chalid
- Ombudsman Soroti Mangkraknya Proyek Jembatan Tambaksari Semarang
- DPD Tani Merdeka Bantul Dilantik, Dorong Kemajuan Pertanian Lokal
- KPK Dalami Komunikasi Bank BJB dan Ridwan Kamil di Kasus Korupsi Iklan
Advertisement
Advertisement



