Advertisement
Rusia Bebas dari New START, Masa Depan Perjanjian Nuklir Tak Pasti
Presiden AS Donald Trump (kiri) menerima bola sepak dari Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dalam konferensi pers bersama setelah keduanya bertemu membahas sejumlah isu di Helsinki, Finlandia. - Reuters - Grigoriy Dukor
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Mulai 4 Februari 2026, Rusia menyatakan bahwa pihak-pihak dalam Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START) tidak lagi terikat kewajiban dan deklarasi simetris, sehingga masing-masing bebas menentukan langkah berikutnya.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan pada Rabu (4/2) bahwa upaya perpanjangan perjanjian telah dilakukan, termasuk inisiatif terakhir yang diajukan Presiden Vladimir Putin pada 22 September 2025. Saat itu, Putin menyarankan agar pembatasan senjata strategis tetap berlaku setidaknya satu tahun setelah berakhirnya masa berlaku New START. Namun, Moskow belum menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat melalui saluran bilateral.
Advertisement
“Dalam situasi saat ini, para pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka New START, termasuk ketentuan intinya, dan secara prinsip bebas menentukan langkah selanjutnya,” jelas Kemlu Rusia.
Rusia menegaskan akan bertindak “secara bertanggung jawab dan seimbang” dengan mengembangkan kebijakan senjata strategis berdasarkan analisis mendalam terhadap kebijakan militer AS dan kondisi strategis global. Kementerian menekankan kesiapan untuk mengambil langkah militer-teknis tegas jika terjadi ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.
BACA JUGA
“Namun, negara kami tetap terbuka untuk mencari solusi politik dan diplomatik yang dapat menstabilkan situasi strategis secara menyeluruh, melalui dialog setara dan saling menguntungkan, apabila kondisi memungkinkan,” imbuh Kemlu Rusia.
New START merupakan satu-satunya perjanjian yang secara hukum mengikat kedua negara dalam membatasi kekuatan nuklir strategis AS dan Rusia. Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran tentang dimulainya era baru persaingan nuklir tanpa regulasi, sehingga potensi risiko global semakin meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa Darat M3,1 Guncang Pasaman, Getaran Terasa hingga Bukittinggi
- BGN dan Kemensos Matangkan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Disabilitas
- BPJS Kesehatan Jelaskan Mekanisme Reaktivasi PBI JKN, Begini Caranya
- Ormas Islam Pahami Alasan Prabowo Masukkan RI ke Dewan Perdamaian
- Seleksi Sekolah Rakyat Dimulai, Kemensos Siapkan Kuota 30 Ribu Siswa
Advertisement
Harga Cabai Fluktuatif, Disperindag DIY Pastikan Stok Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- DPD Tani Merdeka Bantul Dilantik, Dorong Kemajuan Pertanian Lokal
- KPK Dalami Komunikasi Bank BJB dan Ridwan Kamil di Kasus Korupsi Iklan
- Pemkot Jogja Tempuh Tahapan Panjang Menuju Malioboro Full Pedestrian
- Epson Perkenalkan Proyektor Portabel Lifestudio untuk Gaya Hidup
- BPBD Peringatkan Modus APAR Catut Damkarmat Bantul
- Jogja Percepat Vaksinasi PMK dan Batasi Masuknya Ternak Luar Daerah
- Pemuda Gunungkidul Tutup Usia di Malaysia, Berangkat Cari Pekerjaan
Advertisement
Advertisement



