Praktik Asuhan Keperawatan Jadi Tantangan di Masa Pandemi

Pelantikan profesi ners sebelum bekerja di lapangan. - Ist.
10 November 2021 05:47 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Praktik keperawatan menjadi tantangan tersendiri saat pandemi Covid-19 terutama lulusan terbaru. Mereka harus mampu beradaptasi dengan standar operasional prosedur asuhan keperawatan yang berbeda dibandingkan saat situasi normal.

Begitu juga dengan praktik saat menempuh pendidikan profesi ners praktik asuhan keperawatan harus dimodifikasi dengan meminimalisasi terjadinya kontak. Sebanyak 123 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Ners Program Profesi Fakultas Kesehatan (Fikes) Unriyo dilantik dan diambil sumpah pada Selasa (9/11/2021). Pengambilan sumpah profesi itu sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Surat Tanda Register (STR) dan bekerja sebagai perawat kesehatan. Menjalani profesi ners menjadi tantangan tersendiri terutama saat pandemi Covid-19.

BACA JUGA : Ribuan Tenaga Kesehatan di Singapura Mengundurkan Diri

“Setelah lulus bekerja harus mampu melaksanakan praktiknya di masa pandemi yang memang agar sedikit berbeda, dengan APD berbeda dengan nanti asuhan keperawatan sedikit dimodifikasi. Kalau dulu sebelum pandemi memberikan asuhan keperawatan seperlunya, kalau sekarang APD harus lengkap,” kata Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fikes Unriyo, Deden Iwan Setiawan.

Dalam proses pembelajaran selama menempuh pendidikan karena sudah masuk pandemi pun harus dengan berbagai metode dengan meminimalisasi kontak pasien secara langsung. Akan tetapi proses pembelajaran didemonstrasikan secara maksimal sehingga bisa memberikan gambaran situasi yang nyata dalam pencapaian kompetensi.

“Sehingga pembimbing harus aktif dalam memodifikasi sehingga capaian target kompetensi. Kebetulan capaian angka kelulusan kami di atas rata-rata nasional yaitu 95,23 persen,” katanya.

Dekan Fikes Unriyo, Wahyu Rochdiat menambahkan kebutuhan sektor kesehatan menjadi sangat tinggi saat pandemi. Sehingga perawat memiliki tantangan lebih berat. Namun dengan berbagai kompetensi yang telah diberikan selama menjalani pendidikan, mereka akan dapat melaksanakan tugas profesi dengan baik.

Para lulusan tersebut merupakan angkatan pertama yang menerapkan ujian exit exam. Berbeda dengan tahun sebelumnya setelah lulus profesi bisa yudisium baru dilanjutkan dengan uji kompetensi. Tetapi saat ini dengan adanya aturan baru terutama UU no 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan dan UU no 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan maka harus setelah lulus profesi harus uji exit exam dahulu baru bisa yudisium.

BACA JUGA : Tenaga Kesehatan di Gunungkidul Bakal Disuntik Vaksin

“Sumpah ini menjadi salah satu syarat bagi perawat untuk mendapatkan STR sehingga mereka baru bisa praktik,” ujarnya.

Ketua Panitia Angkat Sumpah dan Pelantikan Ners Thomas Aquino Erjinyuare Amigo menyatakan dari 123 yang diambil sumpah, sebanyak 94 orang lulus dengan cumlaude dan sebanyak 15 orang di antaranya memiliki IPK 4.00. “Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, selanjutnya setelah mengurus STR tentu bisa mengabdi di bidang kesehatan berkontribusi untuk daerah,” tegasnya.