39,9% Masyarakat di Provinsi Ini Percaya Covid-19 adalah Konspirasi Global

Ilustrasi - Freepik
06 Oktober 2020 18:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, PADANG—Hasil survei Lembaga Riset dan Konsultan Spektrum Politika mengungkap 39,9% warga Sumatera Barat meyakini pandemi Covid-19 merupakan konspirasi global.

“Hampir 40 persen warga Sumbar memandang Covid-19 adalah persekongkolan negara-negara besar di dunia, tentu sikap ini akan memengaruhi perilaku mereka dalam mematuhi protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah," kata Peneliti Spektrum Politika Andri Rusta di Padang, Senin (5/10/2020).

Ia menjelaskan survei tersebut dilakukan pada 10-15 September 2020 di 19 kabupaten dan kota dengan mewawancarai 1.220 orang responden yang menjadi sampel diambil.

BACA JUGA: Sekjen DPR Beri Penjelasan Aksi Puan Maharani Matikan Mik yang Kini Viral

Sampel diacak secara proporsional dengan memperhatikan jumlah penduduk dan karakteristik penduduk yang ada di kabupaten/kota dengan margin of error sampel sebesar 2,9%.

Untuk menjaga kualitas survei ini, pihaknya menelepon ulang responden untuk mengkonfirmasi jawaban sebelumnya terhadap 60% dari total sampel yang diwawancarai oleh enumerator sebelumnya.

Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang menganggap Covid-19 adalah konspirasi sejumlah negara kapitalis yang ujungnya pembuatan dan penjualan vaksin kepada masyarakat di banyak negara.

BACA JUGA: Warga Desa di Bantul Pasang Gentong Raksasa untuk Tangkal Covid-19

Salah satu dampak dari pemikiran di atas menyebabkan masyarakat mengabaikan imbauan pemerintah untuk selalu melaksanakan protokol kesehatan seperti tidak keluar rumah kalau tidak ada agenda yang penting dan mendesak, memakai masker jika keluar rumah, menjaga jarak dengan individu lain serta selalu mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer pada setiap kesempatan.

"Padahal strategi inilah yang saat ini dianggap paling efektif untuk mencegah paparan virus ini sebelum vaksin ditemukan," ujarnya.

Ia melihat dalam penerapan protokol kesehatan oleh masyarakat di Sumbar masih ada yang menganggap pandemi Covid-19 ini bukan suatu keadaan yang mengkhawatirkan.

Ini terlihat dari sebanyak 28,5% masyarakat masih sering keluar rumah dan tidak mematuhi imbauan untuk tidak keluar rumah.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di Malang Menurun karena Warga Tertib Pakai Masker

Adapun untuk kepatuhan memakai masker, masyarakat Sumatera Barat masuk dalam kategori patuh dengan indikator sebanyak 60,3% sering menggunakan masker ketika berada di luar rumah.

Terkait kepatuhan menjaga jarak ketika beraktivitas di luar rumah sebanyak 52,2% warga sudah menerapkan dan sebanyak 66,3% warga selalu mencuci tangan.

Selain itu ditemukan sebanyak 89,1% masyarakat setuju bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan ekonomi semakin memburuk.

"Tentu keadaan ini harus menjadi perhatian pemerintah karena hampir semua masyarakat mengalami dampak ekonomi yang serius akibat Covid-19," ujarnya.

BACA JUGA: Tak Punya Uang, Ibu Rumah Tangga di Sleman Curi Ponsel untuk Beli Susu

Kemudian, sebanyak 49,8% masyarakat Sumatera Barat mengaku kehilangan pekerjaan sejak pandemi Covid-19 mulai menyebar. Namun, ada hal positif yang patut diapresiasi dari kerja pemerintah adalah sebanyak 86,8% masyarakat Sumatera Barat sudah mendapatkan informasi tentang pandemi Covid-19 .

Selanjutnya sebanyak 65,5% masyarakat Sumatera Barat yang berhak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah/pemerintah daerah telah menerima paket bantuan sosial.

"Artinya, masih ada 34,5 persen dari mereka yang belum menerima paket bantuan sosial tersebut. Padahal secara ekonomi banyak yang mengalami dampak ekonomi akibat Covid-19," kata dia.

Sebelumnya Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyampaikan Perda Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang digagas bersama DPRD setempat merupakan komitmen untuk mengendalikan Covid-19.

 

Sumber : Antara