Sejumlah Monumen Perjuangan Akmil Jogja Dibangun

Anggota Ikatan Keluarga Akmil Jogja membangun monumen perjuangan di Jembatan Bogem Kali Opak, Sabtu (12/10 - 2019).Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
13 Oktober 2019 00:57 WIB Abdul Hamied Razak News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sejumlah monumen perjuangan para Taruna Akademi Militer (Akmil) Jogja di era 1940an dibangun di sejumlah titik. Monumen tersebut dibangun agar masyarakat dan generasi selanjutnya mengetahui sejarah dan perjuangan yang dilakukan para Taruna Akmil.

Penasehat Ikatan Keluarga Akmil Jogja Indroyono Susilo mengatakan monumen yang dibangun tersebut meliputi monumen jembatan di Bendan (depan RM Sendang Ayu Kalasan) yang menghubungkan jalan Jogja-Solo. Jembatan tersebut berhasil diruntuhkan oleh para gerilyawan Taruna Akmil Sub-Wherkeise 104.WK III.

"Jembatan dirobohkan oleh ahli demolisi Herman Johannes yang juga pernah menjadi mantan Rektor UGM. Jembatan ini diledakkan pada 24 April 1949 agar Belanda tidak bisa masuk ke Jogja," katanya di sela-sela peresmian monumen perjuangan Akmil Jogja, Sabtu (12/10/2019).

Selain itu, jembatan Bogem Kali Opak mampu dirusak oleh para Taruna Akmil Peleton H1 dan H2 yang tergabung dalam para gerilyawan Taruna Akmil Sub-Wherkeise 104.WK III pada 15 Januari 1949. Hal itu dilakukan karena jalur Jogja-Solo adalah jalur penting.

"Para gerilyawan dibantu rakyat, mampu menyerang iring-iringan pasukan Belanda yang datang dari Jogja. Jembatan dirusak oleh bom yang dibuat Herman Johannes," katanya.

Monumen tersebut dibangun, katanya, untuk mengingatkan para generasi bangsa bahwa Indonesia dibangun dengan kegigihan para pejuang dibantu oleh rakyat. "Waktu itu, semangat meraih kemerdekaan sangat tinggi. Ini harus ditularkan kepada generasi bangsa agar mereka kukuh menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Di sini penguatan karakter kebangsaan harus dilakukan," katanya.

Putri mendiang pahlawan nasional Herman Johannes, Christine Johannes mengatakan selain kedua jembatan tersebut, ada beberapa jembatan lainnya yang juga diledakkan. Hal itu dilakukan untuk menghalau pasukan Belanda bergerak. "Saya pernah diajak ayah untuk melihat-lihat jembatan yang pernah dibom saat itu. Ada juga di daerah Mlati," katanya.

Wakil Ketua Ikatan Keluarga Akmil Jogja Aminah mengatakan selain di dua jembatan tersebut ada lima monumen lainnya yang dibangun. Yakni di lima lokasi markas para gerilyawan Taruna Akmil. "Monumen-monumen ini kami bangun untuk mengingatkan sejarah perjuangan para Taruna Akmil Jogja yang hanya tiga angkatan waktu itu," ujarnya.

Sementara Kepala Ajudan Jenderal Akmil Magelang Letkol Caj. llham monumen tersebut diharapkan bisa meningkatkan moral para Taruna Akmil bahwa seniornya dulu berjuang dengan gagah berani. Para Taruna Akmil akan melakukan napak tilas ke lokasi-lokasi ini.

"Monumen ini untuk menunjukkan kepada Taruna Akmil di Magelang, meskipun sedang mengikuti pendidikan mereka juga ikut bertempur. Taktik gerilya dilakukan karena dari segi persenjataan saat itu memang tidak imbang," katanya.