Pertamina Resmi Luncurkan Road to MotoGP Indonesia 2026
Pertamina meluncurkan Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Jakarta dengan menghadirkan Mario Aji dan Veda Ega Pratama.
ilustrasi. /Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA-- Astronom Planetarium Jakarta mulai mengalami kesulitan untuk mengamati beberapa benda langit, karena polusi cahaya di Jakarta.
Ronny Syamara, salah seorang astronom Planetarium Jakarta kini mengaku sulit untuk mengamati benda langit yang masuk dalam kategori deep sky object atau objek-objek yang redup.
"Jakarta termasuk cukup parah untuk kualitas cahaya. Dampak kepada astronom, yang pasti kita banyak objek yang tidak bisa kita amati lagi, karena objek-objek redup itu sudah jadi kendala buat kita untuk lihat," ujar Ronny, di Planetarium Jakarta, Rabu (3/7/2019).
"Jadi, harus pakai alat bantu teleskop, itu pun dengan syarat kondisi langitnya harus cukup bagus," lanjut dia.
Menurut Ronny, lampu taman maupun lampu trotoar yang tidak mengarah ke atas atau tidak memiliki tudung menjadi salah satu penyebab polusi cahaya. Tidak hanya itu, baliho dengan penerangan yang mengarah ke atas, juga dapat memperburuk polusi cahaya di Jakarta.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin membenarkan bahwa kota Jakarta, terutama Jakarta Pusat yang menjadi lokasi Planetarium, berlimpah cahaya.
"Hanya sekedar planet terang yang bisa terlihat, bintang-bintang hanya sebagian," kata Thomas di Jakarta, Rabu.
Penelitian lain, menurut Thomas, pola tidur akan berubah. Bagi sebagian orang yang sangat peka terhadap kondisi cahaya polisi cahaya dapat membuat mereka mengalami gangguan tidur.
LAPAN telah mengkampanyekan gerakan Malam Langit Gelap, yang menjadi salah satu kegiatan tahunan dalam memperingati Hari Keantariksaan, untuk mengurangi polusi cahaya.
"Bukan berarti tidak boleh ada lampu, tapi Malam Langit Gelap meminimalisasi cahaya yang terhambur ke atas," ujar Thomas.
Kegiatan ini, menurut dia, dilakukan untuk membangun kesadaran publik terhadap adanya polusi cahaya, sekaligus merangkul instansi terkait.
"Kampanye ini sifatnya umum. Memang selama ini masih komunitas astronomi yang antusias, tapi kami ingin membangun kesadaran publik dulu. Ketika sudah mulai meningkat, mendekati ke instansi pemerintah lebih mudah," ujar dia.
Sementara itu, untuk membangun kesadaran publik terkait polusi cahaya, saat ini Planetarium Jakarta telah memiliki program edukasi ke sekolah-sekolah dasar.
"Tahun ini kita mulai di bulan April. Setiap tahun bisa 40 sekolah, target yang kita sasar SD dulu untuk pemahaman sejak dini," ujar Ronny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pertamina meluncurkan Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Jakarta dengan menghadirkan Mario Aji dan Veda Ega Pratama.
Jumog River Tubing resmi beroperasi di Karanganyar. Wisatawan bisa menyusuri sungai 800 meter selama 20 menit dengan tiket Rp25.000.
PSIM Jogja mempertahankan 12 pemain lokal usai evaluasi tim sebagai persiapan menghadapi Super League 2026/2027.
Basarnas Makassar menemukan lima korban KM Nurul Salsa dalam kondisi selamat di perairan Selayar. Sebanyak 20 penumpang masih dalam pencarian.
Apple dan Departemen Kehakiman AS mulai membahas penyelesaian gugatan antimonopoli yang diajukan sejak 2024.
Harga emas mencatat penurunan mingguan terdalam dalam sebulan akibat ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi meski konflik Timur Tengah memanas.