Wawancara Khusus Presiden Jokowi: Perlu Makam untuk Menghadapi Cacian & Hinaan

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan saat menerima kunjungan tim redaksi Harian Bisnis Indonesia, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/5/2019). - JIBI/Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
14 Juni 2019 06:17 WIB Tim Bisnis Indonesia News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rabu (29/5/2019), pukul 12.00 siang, tim Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia) diterima  Presiden Joko Widodo di ruangan yang kerap digunakan untuk menerima tamu di Istana Negara. Jadwal wawancara mundur sejam dari yang direncanakan.

Kala menerima redaksi Bisnis Indonesia, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Keduanya meninggalkan Presiden begitu wawancara akan dimulai.

Kabarnya, ada pembicaraan serius di antara Jokowi, Pratikno, dan Pramono sebelumnya. Informasi yang beredar, sebelum menerima Bisnis Indonesia, orang nomor satu di Indonesia itu juga bertemu dengan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

Maklum saja, hari-hari itu sedang diwarnai dengan tensi politik dan keamanan yang memanas pascapengumuman hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum.

Wawancara santai tetapi serius ini berlangsung singkat sekitar 20 menit karena setelah itu, Presiden Jokowi harus menerima tim Badan Pemeriksa Keuangan terkait dengan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan atas LKPP Tahun 2018 dan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2018.

Kendati singkat, wawancara ini mampu menjawab filosofi dan arah pemerintahan Presiden Jokowi, terutama di bidang ekonomi, dalam 5 tahun ke depan—walaupun kepastian penetapan pemenang pemilihan presiden 2019 masih menunggu hasil sidang di Mahkamah Konstitusi.

Secara tegas, Presiden Jokowi mengatakan akan melanjutkan pembangunan infrastruktur, menggenjot pengembangan sumber daya manusia, serta melakukan reformasi birokrasi dan kelembagaan.

Ketiga hal ini, ujarnya, menjadi fondasi utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi ke depan. Dia sangat berharap ekonomi Indonesia tumbuh berkualitas, bukan sekadar tumbuh kencang dengan polesan.

Presiden menyadari sejumlah masalah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pada periode kedua pemerintahannya.

Saat memaparkan sejumlah masalah itu, Presiden Jokowi beberapa kali mengetuk-etuk meja dengan bolpoin. Sebuah pesan yang mengindikasikan keinginan Presiden menuntaskan persoalan dasar—yang sudah bertahun-tahun tidak dibereskan—secara cepat.

Keinginan menyelesaikan sejumlah persoalan itu pula yang membuat Jokowi membayangkan kabinetnya ke depan akan diisi oleh menteri yang memiliki kecakapan manajerial dan berkarakter eksekutor.

Jokowi juga ingin menambah warna kabinetnya ke depan dengan tokoh-tokoh muda yang usianya di bawah 30 tahun. Tokoh muda itu akan dikombinasikan dengan tokoh senior agar gerak kabinet lebih dinamis.

Soal latar belakang menteri, apakah dari partai politik atau profesional, Jokowi tidak ambil pusing.

Adapun, terkait dengan berapa banyak menteri di Kabinet Kerja saat ini yang akan dipertahankan? “Itu nanti,” ujar Jokowi, singkat. Berikut petikan wawancaranya.

Dalam 5 tahun ke depan, bagaimana Bapak semakin mengintensifkan manfaat ekonomi untuk masyarakat, dan strateginya seperti apa?

Sama seperti apa yang sudah saya sampaikan, bahwa pembangunan infrastruktur 5 tahun yang lalu tetap akan diteruskan, tapi mungkin ada strategi yang kita geser ke pembangunan sumber daya manusia. Jadi, infrastruktur tetap, tapi konsentrasi, fokusnya, ke pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Kita iringi lagi dengan reformasi birokrasi, reformasi struktural, penyederhanaan kelembagaan, penajaman kelembagaan, kemudian penyederhanaan perizinan. Karena memang problem besar kita ini, untuk tidak terjebak pada negara berpendapatan menengah, middle income trap.

Menurut saya, fondasi tiga itu penting. Pertama, infrastruktur yang semakin baik. Kedua, pembangunan SDM yang betul-betul riil dan konkret, yang betul-betul meningkatkan kualitas SDM kita. Dan, yang ketiga, reformasi birokrasi, reformasi struktural. Itu menurut saya fondasinya. Lalu kita masuk ke empat, urusan teknologi dan inovasi.

Kalau empat ini sudah dapat, fondasi besar kita untuk masuk ke negara maju, kita pastikan tidak akan terjebak pada middle income trap. Jadi, percuma kita memiliki bonus demografi, tetapi skill rendah. Kemudian, pendidikan juga tidak meningkat dari sebelumnya.

Sehingga nanti yang kita lakukan di pembangunan SDM, ada reformasi di bidang pendidikan, baik nanti yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum. Mungkin yang kedua pelatihan vokasi. Itu yang mungkin porsinya akan lebih besar. Pelatihan itu larinya ke rescaling dan upscaling.

Apakah empat dasar ini yang jadi sasaran utama?

Meskipun kalau kita mau ambil return politik, sebetulnya gedein aja subsidi. Rakyat pasti seneng. Meskipun ini dianggap pahit, agak sakit, keputusan itu yang sudah lama sekali enggak kita ambil.

Dalam konteks mencapai itu, berarti ke depan Bapak butuh tim yang solid. Kira-kira gambaran tim Bapak seperti apa?

Jadi setiap periode itu memerlukan kabinet dan karakter yang berbeda yang disesuaikan dengan zamannya, disesuaikan dengan waktunya. Sekarang kita betul-betul membutuhkan figur-figur yang memiliki karakter eksekutor yang kuat. Mampu mengeksekusi program, mengerti masalah manajemen, manajerial, tentu saja yang lain-lain seperti integritas, loyalitas, tapi yang dua itu penting sekali. Ngerti masalah manajerial, eksekutor kuat.

Bapak pilih profesional yang punya kapasitas seperti itu?

Bisa profesional, bisa dari partai. Dua itu penting. Orang partai yang profesional juga banyak.

Bayangannya berapa persen dari kabinet sekarang yang dipertahankan?

Ya belum masuk ke sana. Belum bicara dengan koalisi, belum bicara masalah, nanti mungkin nomenklatur kelembagaan juga mungkin diubah atau tidak. Yang penting sebelum 20 Oktober sudah siap.

Bapak memberi sinyal ingin mengangkat anak-anak muda masuk kabinet?

Mungkin nanti anak-anak muda akan lebih mewarnai, akan ada warna-warna umur 20 tahun—25 tahun, 25 tahun—30 tahun. Zaman ini kan dinamis, kita memerlukan menteri-menteri yang enerjik, dinamis, memiliki karakter eksekutor yang kuat.

Termasuk di posisi kunci untuk anak-anak muda ini?

Iya, di kunci-kunci.

Sudah ada daftarnya?

Sudah. Nanti suatu saat akan dikeluarkan

Soal pembangunan SDM, bagaimana gambarannya?

Kita ini kan membangun fondasinya. Kalau masalah pertumbuhan ekonomi itu kan persoalan yang berbeda. Karena seperti yang kita bangun, infrastruktur, mungkin baru kita nikmati 10—15 tahun yang akan datang. Pembangunan SDM mungkin baru kita nikmati 15—20 tahun yang akan datang. Tapi buat saya harus.

Return economy-nya mungkin tidak sekarang dari investasi ini atau 5 tahun ke depan. Enggak. Pertumbuhan ekonomi itu sisi yang lain. Artinya, kalau mau bicara urusan pertumbuhan ekonomi kuncinya ada dua menurut saya, satu ekspor yang meningkat, yang kedua investasi yang meningkat. Itu saja. Karena kalau kita andalkan APBN enggak bisa.

Jadi 5 tahun ke depan APBN bukan jadi andalan untuk ekonomi?

Berapa sih APBN kita?

Untuk meningkatkan ekspor dan investasi, seperti apa? Karena faktanya ekspor sekarang justru cenderung melambat?

[Presiden Jokowi menunjukkan kertas presentasi berisi data-data]. Dibandingkan dengan 2015, 2016, 2017 naik. Tahunan lho ya, bukan bulanan. Kalau kita begini, investasi. Yang mau masuk ke negara kita itu banyak banget. Buanyak banget. Problem selalu di kita sendiri. Enggak usah di-marketingi-lah.

Bapak kesannya kemarin marah mengenai ekspor dan investasi?

Ya gimana, kita ngerti masalahnya enggak bisa diberesin, gimana. Problemnya di kita sendiri [bicara sambil mengetuk bolpoin di atas meja]. Perizinan yang bertele-tele, perizinan yang masih ruwet, baik di pusat maupun daerah.

Kalau yang Bapak gambarkan tadi, ekspor memang meningkat. Tapi kalau kita lihat hasil akhir berupa impor dikompilasi kemudian terjadi defisit perdagangan yang justru semakin melebar?

Ya itu tadi rumusnya tetap kembali lagi ke investasi dan ekspor. Kalau itu enggak dibenahi, transaksi berjalan kita ya masih defisit, neraca perdagangan kita sudah berpuluh tahun juga defisit. Wong enggak dibenahi. Industrialisasi enggak bisa berjalan di atas 5%, hilirisasi enggak bisa tumbuh di atas 5%.

Jadi fokus ekonomi Bapak ke sektor-sektor ini?

Pertama ekspor, kedua investasi. Ekspor itu apa? Ekspor itu kalau kita untuk meningkatkan nilai tambah yaitu hilirisasi. Yang kita ekspor raw material, bahan mentah. Seharusnya setengah jadi atau syukur kalau bisa jadi. Sehingga ada nilai tambah di situ. Berpuluh-puluh tahun kita ekspor kopi, mentahan kopi, enggak bisa sih kita buat bubuk dengan packaging dengan baik. CPO, padahal turunannya kan puluhan, kan banyak banget, kita ekspornya ya CPO yang enggak berubah-ubah. Komestik, sabun kan bisa.

Apakah ada regulasi yang membatasi ekspor bahan mentah?

Ini yang baru kita siapkan. Ya memang dengan regulasi, kalau enggak dengan regulasi enggak rampung-rampung. Regulasi, tapi ada transisinya, enggak langsung lah. Buat pabrik kan butuh 3—4 tahun.

Bapak sukses dalam menugaskan BUMN untuk infrastruktur. Apakah pola semacam itu akan diterapkan untuk minta tolong swasta?

Sekarang saya bicara peran swasta dulu, supaya nanti tidak confuse. Jadi sebetulnya kita komitmen sejak awal, untuk infrastruktur ya di swasta. Tetapi di kenyataan, yang berhenti-berhenti itu konsensinya yang diberikan [kepada] swasta dan berhenti. Sehingga kita ambil alih.

Yang dikerjakan oleh BUMN sekarang yang IRR [internal rate of return] rendah. Ada yang mau buat jalan tol di Sumatra? Kan enggak ada. Kalau BUMN bisa kita pakai instrumen PMN [penyertaan modal negara] sehingga IRR ditutup dari PMN. Nah tugasnya itu.

Sebetulnya green field yang dibangun, menjadi brown field, nah itu dilepas lewat sekuritisasi, itu yang sudah saya perintahkan sehingga fungsi-fungsi BUMN itu pionir, merintis, sehingga jadi. Pola-pola seperti itu juga yang ingin kita tawarkan kepada swasta, hilirisasi, industrialisasi, biar cepet, kalau endak, tak berikan BUMN.

Akan begitu polanya ke depan?

Mungkin.

Kalau begitu menteri Bapak akan fokus di investasi dan ekspor. Menteri Perdagangan seperti apa yang bapak harapkan?

Yang bisa meningkatkan ekspor. Hahaha. Satu, mengubah barang impor menjadi subtitusi impor. Artinya barang-barang impor harus kita produksi sendiri. Subtitusi impor seperti itu harus diberikan insentif, orientasi ekspor itu yang diberi insentif.

Saya sudah bilang ke kepala daerah, menteri, kalau ada orang datang ke sini, atau investor dalam negeri ingin membangun industri yang ekspor, tutup mata enggak usah pakai izin kalau perlu. Beri insentif sebanyak-banyaknya, entah tax allowance, entah tax holiday, beri! Subtitusi impor juga sama, bangun, kalau perlu enggak usah pakai izin dulu.

Banyak terobosan nanti?

Ya nanti dengan regulasi tadi. Kalau enggak diberi payung regulasi, mengambil kebijakannya maju mundur.

Artinya orientasi reformasi pajak 5 tahun ke depan terkait dengan insentif tadi, ada penurunan tarif dan sebagainya?

Ada, nanti kita beri jatah. Saya sudah sampaikan ke Menteri Keuangan. Jadi misalnya tax holiday, jatahnya berapa triliun itu jelas. Tidak orang minta diberi endak, diberi endak. Satu tahun, ini. Jatah untuk investor sekian. Artinya kita kehilangan apa itu, income sekian, tapi muncul income yang lain, double atau triple. Sekarang pakai angka.

KPI-nya jelas?

Ya KPI [key performance indicator] jelas. Tunjukkan dengan angka. Kalau kita hanya ngomong, beri tax holiday, sudah habis pak. Ini angkanya masih, misalnya, Rp150 triliun, beri. Karena orientasi ekspor, karena ini subtitusi impor. Semakin ketemulah yang semakin kongkret-kongkret, semakin ketemu.

Pak Presiden, program ekonomi bapak konkret dan banyak terobosan, tapi kita lihat ada hambatan terkait dengan perpecahan politik, bagaimana menyatukan?

Habis coblosan itu kita lihat di bawah sudah selesai. Masyarakat, dari survei pun ada angkanya 92% masyarakat bisa menerima. Yang kalah maupun yang menang. Yang petani sudah pergi ke sawah, nelayan sudah melaut, karyawan sudah pergi ke kantor masing-masing.

Cuma elite?

Elitenya saja yang ribut. Masyarakat sudah coblosan, dan mungkin juga sudah capek juga. Sudah capek, 7 bulan lebih, kampanye isinya politik

Legacy 5 tahun ke depan?

Yang paling penting itu kualitas. Kualitas itu betul-betul. Kualitas ekonomi, kualitas pertumbuhan ekonomi kita. Artinya sehat. Sehat itu ya seperti tadi. Kalau kita bisa mengatasi neraca perdagangan, bisa mengatasi transaksi berjalan ya kan, kita bisa terus memperkecil defisit di APBN.

Jangan kita hanya berpatokan pertumbuhan ekonomi 8%, pertumbuhan ekonomi 9%, kemudian yang menikmati siapa. Kan harus bicara masalah pemerataan, masalah keadilan ekonomi.

Terakhir, seberapa puas Bapak terhadap kinerja kabinet yang sekarang?

Kalau ditanya puas enggak puas namanya manusia. Yang paling penting menurut saya ke depan harus lebih baik, kemudian persoalan-persoalan yang sudah bertahun-tahun ada dan kita tahu masalahnya segera dicarikan jalan keluar dan solusinya.

Level optimistis makin meningkat?

Kita realistis saja, ekonomi global sekarang betul-betul menekan semua negara, tidak terkecuali Indonesia. Tapi sekali lagi, asal fondasi disiapkan, kualitas pertumbuhan ekonominya juga betul-betul dibenerin yang bener, ya ke depan kita akan lebih optimis. Optimis lah kita ini. Masak hitung-hitungan McKinsey, hitung-hitungan Bank Dunia, hitung-hitungan Bappenas sudah menunjukkan angkanya gini terus [sembari menaikkan tangannya]. Pada titik ini kita akan pada posisi ke-4 besar atau ke-5 besar ekonomi terkuat dunia.

Kemarin Indonesia sudah disebut macan baru di Asia?

Macan atau harimau hahaha. Paling penting perbaikan-perbaikan terus, jangan inilah, kalau saya kan selalu mengambil risiko-risiko, jangan polesan-polesan ekonomi, ekonomi polesan. Enggak lah kita ini. Karena banyak negara ternyata ekonomi polesan. Kita ini yang fundamental. Karena itu lebih sustain, lebih jangka panjang dan memberikan sebuah keuntungan untuk masyarakat yang akan dirasakan. Bagian sekarang dicaci maki, dihujat, dihina, itu bagian saya lah.

Jadi pendekatan ekonomi Bapak bukan retorika?

Saya kira kita garis besar, kita menyampaikan betul-betul yang expert di situ itu. Ini kan mengeksekusi dan menjalankan.

Rasanya dihina, dicaci tapi bisa menahan diri, bagaimana resepnya?

Perlu makam [jalan panjang dan bertingkat] lah. Hahaha. Harus ada tangga.

Pewawancara: Tim Bisnis (Arif Budisusilo/Chamdan Purwoko/Stefanus Arief Setiaji/Yodie Hardiyan)

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia