Setelah JT610 Jatuh, Tingkat Fatalitas Lion Air Mendadak Naik

Pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 beregister PK-LQP di apron bandara. - Jetphotos
31 Oktober 2018 18:25 WIB Budi Cahyana & Lingga Sukatma Wiangga News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Lion Air adalah salah satu penguasa pasar penerbangan sipil Indonesia. Sejak didirikan pada 1999 dan beroperasi pada Juni 2000, maskapai berlogo figur kepala singa ini sudah mencatat sejumlah insiden penerbangan, mulai dari tergelincir di Bandara Sepinggan, Supadio, dan Juanda; terhalang tiga ekor sapi saat mendarat di Bandara Djalaludin, Kabupaten Gorontalo; hingga mengalami ledakan mesin di Bandara Kuala Namu Medan. Tak ada nyawa yang melayang dalam kecelakaan tersebut. Sebelum kecelakaan JT610 tujuan Jakarta-Pangkalpinang, satu-satunya tragedi fatal yang melibatkan pesawat Lion Air adalah pada 30 November 2004.

Lion Air McDonnell Douglas MD-82 dengan nomor penerbangan JT538 tergelincir saat hendak mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Pesawat yang mengangkut 146 penumpang tersebut awalnya lepas landas dari Jakarta dengan tujuan Surabaya pada pukul 17.00 WIB. Burung besi ini transit terlebih dahulu di Solo, tetapi malah keluar landasan dan masuk ke sawah di ujung bandara sebelum akhirnya berhenti di permakaman umum.

Akibatnya, 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang luka ringan.

Berdasarkan hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), penyebab kecelakaan pesawat itu adalah fungsi sistem pendaratan pesawat yang tidak optimal serta cuaca buruk.

Lion Air kemudian memensiunkan semua pesawat MD. Berdasarkan catatan Planespotters, Lion Air pernah memiliki 20 MD-80 dan lima MD-90. Kini maskapai yang dimiliki Rusdi Kirana itu memiliki 114 pesawat, semuanya produksi Airbus dan Boein: meliputi tiga Airbus A330, 110 Boeing 737, dan satu Boeing 747. Lion Air juga baru saja memesan 50 Boeing 737 Max 10 yang akan didatangkan mulai 2020.

Jumlah pesawat Lion Air hanya kalah dari Garuda Indonesia. Perusahaan pelat merah ini memiliki armada paling banyak di Indonesia, yakni 142 unit dari yang diproduksi Boeing, Airbus, hingga Bombardier.

Hanya Lion Air dan Garuda Indonesia yang memiliki lebih dari 100 pesawat. Maskapai lain yang masuk dalam enam besar pemain besar di ceruk penerbangan sipil Indonesia adalah Air Asia Indonesia (25 pesawat), Sriwijaya Air (37 pesawat), Citilink (52 pesawat), dan Batik Air, anak usaha Lion Air (54 pesawat).

Dengan jumlah armada sebesar itu, fatalitas Lion Air tergolong rendah.

Dalam kurun 18 tahun terakhir, terdapat 10 kecelakaan fatal di dunia aviasi sipil. Ini tidak termasuk kecelakaan Hercules C-130 milik TNI AU pada 30 Juni 2015 yang menewaskan 141 orang tewas.

Dari 10 insiden penerbangan yang merenggut nyawa, hanya satu yang melibatkan Lion Air, yakni di Adisumarmo 14 tahun lalu. Bandingkan dengan Garuda Indonesia yang terlibat kecelakaan fatal dua kali pada 16 Januari 2002 di Sungai Bengawan Solo (satu pramugari tawas) dan 7 Maret 2007 di Adisutjipto (21 penumpang dan satu awak pesawat tewas).

Pesawat lain yang pernah mengalami kecelakaan fatal dalam kurun 14 tahun atau sejak Lion Air beroperasi adalah Trigana Air pada 25 Mei 2002; Mandala Airlines pada September 2005; Adam Air pada 1 Januari 2007, Merpati pada 2 Agustus 2009 dan 7 Mei 2011, serta Air Asia pada 28 Desember 2014. Namun, armada maskapai itu tak sebanyak Lion Air.

Kemudian, pada Senin (29/10), Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang terjatuh di Laut Jawa. Ada 189 orang di dalamnya. Kini, Lion Air sudah menjadi maskapai dengan tingkat fatalitas tertinggi di Indonesia.

Meski demikian, bukan berarti naik pesawat tidak lagi aman. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan persentase jatuhnya pesawat di Indonesia, apalagi yang sampai merenggut nyawa, sangat kecil jika dibandingkan dengan seluruh jumlah penerbangan di Tanah Air.

“Persentase jumlah kecelakaan harus dibandingkan dengan jumlah penerbangan, 20 tahun lalu tidak ada kecelakaan, sekarang ada kecelakaan. Itu beda karena sama dengan di jalan. Kecelakaan itu cenderung lebih banyak  apabila kendaraan lebih banyak lewat, kemacetan dan sebagainya,” kata Kalla di kantornya, Selasa.

Dia menegaskan penerbangan adalah trasnportasi yang relatif paling aman.

“Lebih banyak orang meninggal akibat kecelakaan di darat daripada di udara, dari segi presentase jumlah orang atau jumlah penerbangan.”

Setelah tragedi JT610 di Laut Jawa, Kalla meminta perusahaan juga regulator harus lebih ketat dan lebih aktif untuk memeriksa keamanan maskapai.