Siswa Masa Kini Masih ke Perpustakaan Sekolah & Cinta Buku

Ilustrasi Buku - Reuters
15 Mei 2018 11:35 WIB Bernadheta Dian Saraswati/Maya Arina Pramudita News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menyambut Hari Buku Nasional 17 Mei 2018, Harian Jogja menyusun ulasan tentang bagaimana siswa sekarang melihat perpustakaan sekolah mereka. Dan bagaimana mereka memaknai buku-buku sebagai sumber informasi dan ilmu.

Siswa usia SMP dan SMA masa kini sangat akrab dengan ponsel pintar dan akses Internet tak terbatas. Mereka bisa mendapatkan apa saja dan membaca informasi secara instan. Namun di antara mereka masih banyak yang menggali informasi dari buku dan gemar mengunjungi perpustakaan sekolah. Sebuah cara lama yang memang seharusnya tetap dilestarikan.

Siswa Kelas I SMP Yohanes Don Bosco Jogja, Margareta Verlin, mengatakan ia suka ke perpustakaan sekolah karena koleksi bukunya lebih komplet dibanding miliknya di rumah. “Seringnya sih pinjam buku Bahasa Jawa. Buat nambah pengetahuan karena Bahasa Jawanya agak susah,” kata Verlin.

Tidak hanya itu, ia juga meminjam komik untuk dibaca saat ada waktu luang. Menurutnya, sekolah tidak hanya menyediakan buku ilmu pengetahuan tetapi juga menyediakan buku ringan yang bisa dibaca siswa untuk sekadar refreshing. “Buku-bukunya menarik,” kata Verlin.

Hal serupa juga dikatakan Raditya Kharisma Daneswara, siswa Kelas XI SMAN 6 Jogja. Ia kerap ke perpustakaan sekolah karena koleksi buku di sana dianggap sudah ideal. Ia sendiri jarang meminjam buku untuk dibawa pulang dan lebih suka membaca di tempat dan memilih bacaan-bacaan ringan seperti novel dan buku ringan lainnya.

Ia menjelaskan sekolahnya juga menyediakan fasilitas tempat membaca lain selain di perpustakaan. “Kebetulan sekarang juga ada Pojok Literasi di luar perpustakaan, seperti di dekat kantin, di lobby, dan beberapa tempat lainnya di sekolah. Jadi bisa baca di situ,” katanya.

Pojok Literasi itu berisi koleksi buku yang menarik dan penempatannya dirasa sudah tepat. Buku-buku bisa dibaca sambil santai karena isinya novel, kumpulan cerpen, dan buku nonfiksi yang ringan. Adit mengakui jika saat ini akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bisa diperoleh melalui Internet. Namun baginya, membaca buku fisik lebih menarik dibandingkan membaca buku elektronik.

“Kalau aku pribadi lebih suka buku fisik sih. Soalnya lebih kerasa baca bukunya. Tapi kalau bukunya belum ada di perpustakaan atau aku sendiri belum punya tapi pengen banget baca, ya nyari e-book-nya juga sih,” tuturnya.

Tantangan terbesar perpustakaan sekolah untuk menarik minat baca siswa zaman sekarang memang berasal dari ponsel pintar dan Internet. Seperti yang disampaikan Maria Angelita, murid Kelas VIII SMP Tumbuh. Lita begitu namanya kerap disapa mengunjungi perpustakaan saat ada tugas atau ketika kegiatan lain di sana. “Aku jarang ke perpustakaan karena aku tipe orang yang suka explore, buat video, melukis dan mengakses sosial media. Dari sana [Internet] aku juga bisa dapat banyak informasi yang luas,” terang Lita.

Meski demikian, Lita merasa bahwa jumlah buku dan varian buku yang terdapat disekolahnya sudah ideal. Fasilitas yang nyaman dan mendukung juga menjadi nilai lebih. Meski begitu, ia merasa karena minat dan bakat yang dimilikinya lebih kepada bidang seni dan videografi, membuatnya lebih mudah mengasah keterampilan melalui fasilitas lain.

 

Fasilitas Sudah Memadai

Fasilitas perpustakaan sekolah yang disediakan di sejumlah sekolah di DIY sebenarnya telah bagus dan memadahi. Sejumlah sekolah juga gencar mendorong literasi siswa. Tumbuh High School misalnya.

Sekolah yang terletak di Jalan Ali Maksum, Panggungharjo, Sewon, Bantul ini menyediakan perpustakaan secara terpadu untuk murid-murid SD Tumbuh 4 dan murid Tumbuh High School yang terdiri dari murid tingkat SMP dan SMA.

Tanti Lisnyawati, guru pendamping di Tumbuh High School kehadiran murid-murid ke perpustakaan mengalami pasang surut. Padahal perpustakaan sudah dibangun dengan konsep yang unik menggunakan kontainer yang dilukis tokoh-tokoh dunia untuk emmberikan konsep yang berbeda pada perpustakaan. Koleksi buku yang dimiliki sangat beragam, lokasi yang dilengkapi air conditioner (AC) juga mendukung kenyamanan perpustakaan.

“Perpustakaan buka saat aktivitas di sekolah berlangsung. Dari pihak sekolah mendukung upaya peningkatan kunjungan murid melalui tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran yang membuat mereka akan pergi ke perpustakaan,” terang Tanti. Selain itu, pihak sekolah juga mengadakan program Kebijakan Literasi untuk meningkatkan minat membaca dan menulis.

Pustakawati dari SMAN 1 Pakem, Siti Isti Qomah juga mengatakan jika kesadaran siswa di sekolahnya untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan masih tinggi. Hal itu terbukti dari kehadiran para siswa saat jam istirahat dan bukan saat jam pelajaran. “Mereka datang karena kebutuhan, atas inisiatif mereka sendiri,” kata Isti.

Kepala Sekolah SMPN 8 Yogyakarta, Nuryani Agustina juga mengakui jika inisiatif para siswa untuk mengunjungi perpustakaan secara mandiri sudah terbentuk, terutama untuk Kelas VIII dan IX. “Bagi siswa kelas VII, perlu bimbingan dan motivasi,” katanya.

Kondisi perpustakaan di SMPN 8 Jogja juga sudah representatif karena pihak sekolah melengkapi ruang perpustakaan dengan sarana dan prasarana seperti pendingin ruangan atau AC, e-catalog, e-book, menambah jumlah koleksi buku baik pelajaran maupun nonpejalaran dan masih banyak lagi.

Seperti Tumbuh High School, SMPN 8 juga membuat program gerakan literasi. Program pertama adalah 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM). Program ini bertujuan agar siswa mampu meningkatkan minat baca serta mengembangkan wawasan dan mengolah imaginasinya. “Sehingga tidak melulu soal pelajaran dan juga untuk menambah referensi siswa juga,” katanya.

Program kedua dengan pengembangan literasi, penulisan fiksi dan nonfiksi, sinopsis, karya tulis ilmiah, buletin, dan masih banyak lagi.

 

Harus Dilestarikan

Pakar pendidikan Profesor Wuryadi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengatakan kendati saat ini buku elektronik sudah berkembang, tetapi tidak semua pengetahuan atau informasi dapat diperoleh dari Internet. E-Book menurutnya masih terbatas dalam memberikan informasi bagi para siswa di Indonesia. “Pengetahuan di Internet itu masih berwawasan global,” katanya.

Sampai tingkat SMP, menurut Wuryadi, siswa masih banyak membutuhkan informasi tentang lingkungan sekitar atau berwawasan lokal seperti pengetahuan sosial dan budaya. Sementara informasi di internet tidak sepenuhnya mampu menyediakan informasi itu. “Pengetahuan berwawasan lokal bisa diperoleh dari buku sehingga budaya membaca buku masih harus dilestarikan,” ujarnya.

Ia melihat, pola membaca buku antara siswa di kota dengan di pinggiran memang berbeda. Di kota, akses internet dan sarana prasarana yang memadai membuat para siswa bisa lebih mudah mengakses pengetahuan berbasis Internet.

Pergeseran dari membaca buku menuju membaca artikel Internet pun bisa terjadi. Lain halnya dengan siswa di pinggiran yang hanya bisa mengandalkan bacaan dari perpustakaan di sekolah maupun perpustakaan keliling.

Kendati demikian, menurtunya buku masih akan terus menjadi sumber pengetahuan bagi kalangan pendidikan karena ada orang yang bisa puas hanya dengan memegang dan membaca buku. “Menjadi kepuasan tersendiri ketika bisa membaca buku,” katanya.