BGN Buka Skema Shifting Relawan SPPG, Ini Jumlah Acuannya
BGN menegaskan relawan MBG tidak wajib dikurangi. Pengaturan tenaga SPPG tetap memperhatikan biaya operasional Rp3.000 per orang.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, saat menyampaikan pemaparan dalam acara penandatanganan naskah kesepahaman BKKBN dan Tanoto Foundation yang ditayangkan secara virtual, Kamis (20/5/2021). /ANTARA-Andi Firdaus
Harianjogja.com, JAKARTA—Angka kelahiran total (TFR) di Indonesia masih mengalami disparitas (kesenjangan) yang cukup tinggi, meski rata-rata secara nasional terpantau baik.
“Saya belum puas karena kesenjangannya masih cukup tinggi. Disparitas masih tinggi, padahal rata-rata kita secara nasional sudah 2,18 berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020 BPS. Padahal pembangunan itu harus equal equity,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, Sabtu (15/7/2023).
BACA JUGA: BKKBN dan DPR RI Sosialisasi Percepatan Penurunan Stunting
Hasto menuturkan, angka TFR yang masih berbeda-beda di tiap provinsi menyebabkan pembangunan negara sulit diwujudkan secara merata dan adil. Ditambah letak geografis yang luas dan cakupan wilayah perifer (jauh dari pusat) yang besar.
Di Jawa Tengah misalnya. Angka TFR di sana sudah di bawah rata-rata nasional. Namun berbeda ketika melihat TFR di Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua dan Sumatera Barat, kata Hasto mencontohkan.
Dalam pantauannya, beberapa pemicu kesenjangan TFR masih terjadi di lapangan ialah kondisi perekonomian sebagian masyarakat yang masih lemah dan tingkat pendidikan yang rendah.
Terkait dengan lingkup sosial budayanya, masih ada golongan masyarakat yang menjadikan hubungan seks sebagai rekreasi, akibat dari kemungkinan tidak adanya wadah hiburan lain yang bisa didapatkan.
“Di daerah perifer itu justru mereka jadi mempunyai banyak anak,” katanya.
Menurut Hasto, akses terhadap layanan kontrasepsi berperan dalam pengendalian penduduk tumbuh seimbang. Maka dari itu, BKKBN terus berupaya menembus daerah-daerah yang dengan TFR yang tinggi dengan hadir memberikan layanan kontrasepsi secara gratis seperti halnya ketika Hari Keluarga Nasional ke-30 Tahun 2023 yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan tanggal 4-6 Juli 2023.
Dibukanya akses kontrasepsi itu diwujudkan melalui program Sejuta Akseptor yang menyasar masyarakat terutama di pedesaan yang membutuhkan layanan namun belum bisa terlayani dengan baik. Layanan itu, juga ditujukan agar TFR di daerah yang angkanya terlampau tinggi jadi menurun secara perlahan.
Pelayanan pengadaan alat kontrasepsi juga direalisasikan dengan bantuan pemerintah daerah terkait hingga TNI/Polri baik itu pelayanan KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) maupun non MKJP.
“Saya puas dengan 2,1 tapi yang bikin tidak puas karena tidak rata. Ada yang masih 2,5 ada 2,7 tapi ada juga yang sudah 1,9. Itu tidak rata, itu saja saya belum puas, meskipun kita sudah 2,1 yang terbaik itu harus merata,” katanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BGN menegaskan relawan MBG tidak wajib dikurangi. Pengaturan tenaga SPPG tetap memperhatikan biaya operasional Rp3.000 per orang.
Bulog Kanwil Yogyakarta memperkuat penyaluran jagung SPHP dan penyerapan telur untuk membantu peternak ayam petelur skala mikro.
Pesawat Hercules C-130 Australia mulai melakukan water bombing di Samarinda. Sementara itu, Barito Selatan memperpanjang tanggap darurat karhutla.
Pemprov Jateng melibatkan kader posyandu untuk mempercepat registrasi Perlinsos Digital. Saat ini, sekitar 2 juta KK telah terdaftar.
Dishub Kota Jogja memetakan 10 ruas jalan rawan kecelakaan saat musim hujan dan menyiapkan pemantauan serta penanganan gangguan lalu lintas.
Museum Sandi meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2026 kategori museum berkat komitmennya melestarikan sejarah persandian nasional.