Advertisement
Setelah Lebih dari Setahun, China Kembali Catat 2 Kematian Pasien Covid-19
Seorang pasien Covid-19 diizinkan pulang dari Rumah Sakit Leishenshan (Gunung Dewa Petir) di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (4/4/2020). Rumah sakit itu menutup area bangsal umum terakhirnya pada Kamis (9/4/2020)./Antara - Xinhua
Advertisement
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah lebih dari setahun, untuk pertama kalinya China kembali mengumumkan dua kematian pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di tengah lonjakan kasus Omicron di timur laut negara itu.
Dua kematian itu dilaporkan pada Sabtu (19/3/2022) di provinsi Jilin, sehingga jumlah kematian akibat virus corona di negara itu menjadi 4.638, seperti dilansir Aljazeera, Minggu (20/3/2022). Ini menandai peningkatan pertama dalam jumlah kematian di China sejak 26 Januari 2021, saat negara itu memerangi gelombang penyakit yang didorong varian Omicron.
Advertisement
China melaporkan 4.051 kasus baru pada Sabtu waktu setempat, turun dari 4.365 sehari sebelumnya, kata Komisi Kesehatan Nasional.
BACA JUGA: Wisatawan Viral Dikutip Rp250.000 di Tamansari Jogja Buka Suara, Begini Kronologinya
Negara tempat virus corona pertama kali muncul pada akhir 2019 ini sebagian besar telah menahan penyebarannya berkat kombinasi kendali perbatasan, karantina yang panjang, dan penguncian ketat. Upaya tersebut sebagian besar ditargetkan pada bangunan tempat kasus di kota-kota.
Dengan varian Omicron yang membuktikan ujian terbesar dari strategi "nol-Covid" negara itu, puluhan juta orang di seluruh negeri hidup di bawah perintah tinggal di rumah.
Jilin telah memberlakukan larangan bepergian, dengan penduduk yang memerlukan izin polisi untuk bepergian melintasi perbatasan, dan membangun delapan rumah sakit darurat dan dua pusat karantina untuk menangani lonjakan infeksi.
Presiden China Xi Jinping mengatakan pada hari Kamis bawah negara itu akan tetap pada strategi nol-Covid meskipun muncul peningkatan kasus.
Berbicara pada pertemuan para pemimpin tinggi China, Xi mengatakan negara itu harus “terus menempatkan orang dan kehidupan di garis depan, tetap dengan akurasi ilmiah dan nol dinamis, dan mengekang penyebaran epidemi sesegera mungkin,” demikian laporan penyiar negara itu.
Kota selatan Hong Kong saat ini sedang berjuang untuk mengendalikan wabah penyakit terburuk yang pernah ada, yang menimbulkan risiko serius bagi populasi lansia di wilayah itu, banyak di antaranya tidak divaksinasi.
Tingkat kematiannya saat ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia dengan 5.401 kematian sejak pandemi dimulai, 96 persen di antaranya berasal dari wabah terbaru dimulai pada 31 Desember 2021, menurut data pemerintah setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa Darat M3,1 Guncang Pasaman, Getaran Terasa hingga Bukittinggi
- BGN dan Kemensos Matangkan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Disabilitas
- BPJS Kesehatan Jelaskan Mekanisme Reaktivasi PBI JKN, Begini Caranya
- Ormas Islam Pahami Alasan Prabowo Masukkan RI ke Dewan Perdamaian
- Seleksi Sekolah Rakyat Dimulai, Kemensos Siapkan Kuota 30 Ribu Siswa
Advertisement
Harga Cabai Fluktuatif, Disperindag DIY Pastikan Stok Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- KPK Sebut Dugaan Pemerasan Perangkat Desa di Pati Belum Menyeluruh
- Red Notice Interpol Persempit Gerak Buron Korupsi Minyak Riza Chalid
- Ombudsman Soroti Mangkraknya Proyek Jembatan Tambaksari Semarang
- DPD Tani Merdeka Bantul Dilantik, Dorong Kemajuan Pertanian Lokal
- KPK Dalami Komunikasi Bank BJB dan Ridwan Kamil di Kasus Korupsi Iklan
- Pemkot Jogja Tempuh Tahapan Panjang Menuju Malioboro Full Pedestrian
- Epson Perkenalkan Proyektor Portabel Lifestudio untuk Gaya Hidup
Advertisement
Advertisement



