Advertisement
Jokowi Hingga Pemimpin G20 Hadir di KTT Iklim COP26, Ini Hasilnya
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato pada KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26, di Glasgow, Senin (1/11/2021) - BPMI Setpres - Laily Rachev.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - KTT Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia yang sempat dihadiri pemimpin dari 20 ekonomi terbesar dunia (G-20) termasuk Presiden Joko Widodo telah mencapai puncak. Draf akhir hasil kesepakatan dari pertemuan ke-26 ini diharapkan menjadi titik terang keseriusan negara-negara dunia menghadapi tantangan perubahan iklim.
Salah satu isu krusial perdagangan karbon dalam draf akhir ini juga dapat lebih diterima. Kelompok lingkungan mengatakan kerangka kerja yang diusulkan untuk pasar karbon global sudah lebih baik dari sebelumnya, meskipun masih ditemukan celah.
Advertisement
Ada kekhawatiran jika negosiasi ini diakhiri dengan penegakan aturan yang lemah, maka akan ada risiko negara ataupun perusahaan yang mengklaim telah mengurangi emisi tetapi sebeltulnya mereka justru menyumbang polusi.
Dikutip dari Bloomberg Minggu (14/11/2021), salah satu kelemahan dari draf yang dipublikasikan untuk hasil KTT COP26 di Glasgow tahun ini adalah hilangnya poin tentang keinginan negara berkembang mendapatkan fasilitas untuk mengakses klaim terhadap kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim.
"Apakah Glasgow memberikan fasilitas keuangan yang tepat adalah bagaimana KTT ini akan dinilai oleh negara-negara paling rentan di dunia,” kata Mohamed Adow, Direktur Power Shift Africa melalui akun Twitter.
Kendati demikian, pertemuam di Glasgow ini memperoleh komitmen 197 negara di dunia untuk meninggalkan batu bara dan menghapus subsidi bahan bakar fosil. Lainnya, peserta sepakat meningkatkan target iklim resmi pada tahun depan.
Jika seruan penghapusan pembangkit listrik tenaga batu bara dan subsidi bahan bakar fosil menjadi keputusan akhir yang ditandatangani, itu akan menjadi pertama kalinya teks COP membuat referensi seperti itu dalam 25 tahun.
Selain itu, dalam perjanjian ini juga disebutkan bahwa adanya transisi dalam meninggalkan energi yang menjadi sumber emisi tinggi, sehingga menenangkan konsumen dan produsen bahan bakar fosil yang khawatir akan adanya kehilangan pekerjaan besar-besaran ketika transisi dilakukan terlalu cepat.
Dalam draf tersebut, negara-negara sepakat untuk mengikuti hasil laporan PBB pada 2018 agar menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat celcius, ketimbang mengikuti Perjanjian paris yang cenderung lemah, yakni hanya 2 derajat celcius.
Draf teks juga mengatakan bahwa negara-negara harus mengakui masih ada kesenjangan antara janji pada target iklim mereka dan berapa banyak lagi emisi yang perlu diturunkan untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris.
Untuk itu, COP26 telah meminta negara-negara untuk mengajukan janji baru yang lebih ambisius sebelum akhir 2022, tetapi menambahkan kualifikasi yang berarti dengan mempertimbangkan keadaan nasional yang berbeda.
“Teks ini masih cukup bagus dan saya harap semua negara dapat merangkulnya. Sudah waktunya bagi negara-negara untuk berhenti berdebat tentang teks dan mulai mengambil tindakan yang telah dijanjikan," ujar Bob Ward, Direktur Kebijakan dan Komunikasi Grantham Research Institute on Climate Change.
Kendari seluruh yang tertulis dalam draf hasil dari KTT tahunan PBB ini dapat ditegakkan secara hukum yang ketat, ini tetap saja deklarasi yang ditandatangani oleh konsensus global. Keputusan yang dibuat akan mengirimkan sinyal yang jelas tentang betapa seriusnya pemerintah dalam menangani krisis iklim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- 22 Biksu Sri Lanka Ditangkap Bawa 110 Kg Ganja dari Thailand
- Suhu Tembus 34C! Tangerang Raya Jadi Wilayah Terpanas Jabodetabek
- Jejak Kelam Washington Hilton: Dua Insiden Penembakan Presiden AS
- Pemerintah Keluarkan PMK 24/2026, Harga Tiket Pesawat jadi Lebih Murah
- Mensos: Data DTSEN Harus Dimulai dari Desa
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Viral Balik Nama Tanah Warisan Kena Pajak? DJP Tegaskan Tak Ada PPh
- Akademisi UGM: Program Magang Nasional Bantu Tekan Pengangguran
- Sam Altman Minta Maaf, Kasus Penembakan Kanada Seret OpenAI
- Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
- Command Center MBG Resmi 17 Mei 2026 Perbaiki Tata Kelola
- Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 27 April 2026, Tarif Rp8.000
- Prabowo Hadiri Resepsi El Rumi-Syifa Hadju di Raffles Jakarta
Advertisement
Advertisement









