Pandemi Mereda, Jubir Satgas Ingatkan Prokes dan 3T

Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9)- KPCPEN, Selasa (9/11/2021). - Ist.
10 November 2021 11:27 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kasus Covid-19 di berbagai daerah cenderung mereda selama beberapakn pekan terakhir. Akantetapi semua pihak diingatkan agar tetap memperketat protokol kesehatan (prokes), selain itu pemerintah daerah terus melakukan testing, tracing dan treatment atau 3T.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi situasi pandemi di Indonesia memang makin membaik. Kepatuhan terhadap prokes dinilainya cukup baik, terutama dalam mengenakan masker. Namun situasi pandemi bukan hanya terkait prokes namun juga 3T yang harus terus dilakukan.

BACA JUGA : Ini Penyebab Kasus Covid-19 di DIY Melonjak Lagi

“Unsur lain seperti bagaimana mobilitas dibatasi, testing atau deteksi dini untuk menemukan kasus positif dan memisahkan dengan masyarakat yang sehat, serta vaksinasi,” ujarnya dalam rilis yang dikirim Bidang Media KPC-PEN, Selasa (9/11/20210.

Ia menambahkan hingga saat ini sebanyak 205 juta dosis vaksin sudah disuntikkan. Masih ada tantangan dalam hal distribusi vaksin ke daerah, baik terkait transportasi dari pusat ke provinsi hingga kabupaten/kota, atau jarak dari tempat tinggal penduduk ke fasyankes terdekat.

Guna meminimalisasi, tenaga kesehatan harus berkoordinasi melakukan vaksinasi door to door. Sedangkan untuk daerah yang cakupan vaksinasinya mencapai 60-70% dapat dilakukan penyisiran.  Menurutnya butuh edukasi untuk meyakinkan masyarakat agar mau divaksin.

Ia menyampaikan abeberapa kriteria yang dilihat terkait bagaimana daerah menghadapi pandemi, terutama kolaborasi lintas sektor menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Menurutnya sektor kesehatan butuh dukungan sektor lain.

“Saat rem darurat, semua sektor harus melakukan hal yang sama. Bagaimana kebijakan pemerintah disikapi masyarakat dengan patuh, mengajak beberapa elemen masyarakat agar memahami penerapan aturan PPKM,” ucapnya.

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA menyatakan, meski situasi COVID-19 Indonesia sudah membaik, kewaspadaan tidak boleh dilonggarkan. Situasi membaik bukan berarti persoalan sudah hilang.

BACA JUGA : Menyebar ke 3 Kabupaten, Ini Awal Mula Kemunculan Klaster 

“Virus masih ada, makanya tetap waspada tidak boleh lengah. Sejak awal Bapak Presiden katakan kepada kita sistem penanganan yang kita gunakan untuk pandemi adalah strategi gas dan rem,” ujarnya.

Safrizal menyampaikan, dengan kerja sama semua pihak dan memperhatikan situasi yang berkembang, diharapkan bisa tercapai pertumbuhan ekonomi 4% bahkan 5% di akhir tahun 2021. “Kita akan genjot perekonomian namun tetap dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan saling melindungi,” ujarnya.