Alarm Gas Medis Digital Buatan Lokal Siap Saingi Produk Impor

ALat kesehatan Algist yang merupakan inovasi produk sistem instalasi gas medis rumah sakit buatan alumni UII. - Ist/UII
24 Oktober 2021 06:17 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Universitas Islam Indonesia (UII) menjalin kerja sama dengan perusahaan produsen alat kesehatan Alarm Gas Medis Digital (Algist-IoT) terkait penelitian dan hilirisasi penelitian dalam pengembangan. Alat kesehatan buatan alumni UII ini siap bersaing dengan produk impor. Keberadaan alat ini turut dipamerkan dalam The 2nd International Biomedical Instrumentation and Technology Conference 2021 atau disingkat The 2nd IBITeC pada tanggal 20 dan 21 Oktober 2021.

Dosen Prodi Teknik Elektro FTI UII Firdaus menjelaskan Algist adalah inovasi produk sistem instalasi gas medis rumah sakit. Pada awalnya alat ini dikembangkan oleh tiga alumni UII yaitu Fanriado, Gilang dan Hasyim dan telah memiliki standar acuan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Gas Medik dan Vakum Medik. Produk Algist-IoT lokal ini diharapkan menjawab berbagai permasalahan dan menjadi produk unggulan karya anak bangsa pada sistem instalasi gas medik dan vakum medik. Karena selama ini produk serupa yang beredar di pasaran Indonesia didominasi oleh impor.

“Berharap dengan pengembangan Algist-IoT dapat memberi kemudahan bagi tenaga medis. Hal ini karena setiap rumah sakit memiliki standar untuk sentral penyimpanan gas yang disalurkan untuk pasien,” kata pria yang juga Ketua Tim Konsorsium COVID-19 UII ini dalam rilisnya, Sabtu (24/10/2021).

Ia menambahkan alat ini diharapkan menjadi solusi untuk memonitor besarnya tekanan gas yang bisa berpengaruh terhadap kinerja alat, terutama dengan alat medis seperti ventilator yang membutuhkan tekanan gas terjaga. Karena jika tekanan gas berlebih, maka kinerja ventilator bisa terdampak bahkan mengakibatkan kerusakan alat.

“Alat ini dapat memberikan alarm ketika terdapat tekanan gas berlebih ataupun persediaan gas telah menipis. Fungsi tambahan IoT bertujuan agar alat bisa dilihat, dikendalikan, dan dikontrol secara jarak jauh dari ruang sentral gas,” ujarnya.

Dosen Prodi Teknik Elektro FTI UII yang juga panitia IBITeC202 Alvin Sahroni menambahkan IBITeC 2021 mengangkat tema The Empowerment of Healthcare Technology to Achieve Universal Health Coverag yang membahas aspek keseimbangan dalam mendapatkan fasilitas dan layanan kesehatan diberbagai negara. Event itu dinilai penting untuk menjaga atmosfer penelitian dibidang rekayasa biomedis di Indonesia guna memberikan dampak positif baik di level nasional maupun internasional terkait fasilitas dan layanan kesehatan.

“Sekaligus membuka peluang kerja sama jejaring, meningkatkan awareness dalam penelitian dibidang rekayasa biomedis, dan isu-isu penelitian yang terkait lainnya, serta menjadi cikal bakal lahirnya kearifan lokal untuk memecahkan permasalahan kesehatan dimasa pandemi ini,” katanya.