Satelit Tangkap Gambar Gumpalan Gas Metana

Ilustrasi satelit - Lapan
11 Oktober 2021 08:47 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Tangkapan gambar satelit menunjukkan adanya awan besar metana di dekat infrastruktur bahan bakar fosil di Iran, yang merupakan salah satu produsen gas alam terbesar.

Gumpalan metana teridentifikasi dari perusahaan geoanalitik Kayrros SAS yang menggunakan data Badan Antariksa Eropa.

"Kebocoran terbesar terjadi pada 5 September, di barat daya di dekat perbatasan dengan Irak dengan tingkat pelepasan sekitar 95 ton per jam. Hal itu berarti sama saja dengan 4.700 mobil di Inggris yang berjalan selama satu tahun," seperti dikutip Bloomberg pada Jumat (8/10/2021).

Terdapat dua kebocoran lain yang ditemukan pada September di daerah yang sama. Pertama pada 17 September yang mengeluarkan emisi 34 ton per jam dan yang kedua pada 24 September yang mengeluarkan 36 ton emisi per jam. Selain itu juga ditemukan pelepasan metana pada 12 September di bagian selatan Tehran sebesar 54 ton per jam.

Gumpalan awan tersebut terlihat di dekat pipa gas yang dimiliki oleh Perusahaan Gas Nasional Iran. Kebocoran di selatan juga terlihat di dekat ladang minyak.

Juru bicara Kayrros mengatakan pipa menjadi sumber yang paling mungkin karena kebocoran itu sering terjadi selama pemeliharaan rutin. Sementara itu, perwakilan dari Perusahaan Gas Nasional Iran tidak mau berkomentar soal ini.

Metana merupakan komponen terbesar dari gas alam yang memililki dampak pemanasan karbon dioksida 80 kali lebih besar dalam jangka pendek.

Para ilmuwan mengatakan mengurangi emisi metana menjadi salah satu langkah tercepat untuk memperlambat pemanasan global. Untuk itu, perusahaan minyak dan gas menjadi yang paling penting untuk menerapkannya.

Monitoring melalui satelit telah membantu sejumlah temuan kebocoran gas rumah kaca super kuat dari infrastruktur bahan bakar fosil. Bukti temuan tersebut juga telah memaksa perusahaan untuk mengungkapkan kebocoran yang sebelumnya tidak dilaporkan dan mendorong regulator membuka penyelidikan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia