Advertisement
Superflu Influenza A H3N2 Muncul di Jateng, Ini Penjelasan Dinkes
Ilustrasi seseorang flu - Freepik\\r\\n
Advertisement
Harianjogja.com, SEMARANG—Dinas Kesehatan Jawa Tengah mengungkap temuan satu kasus superflu akibat virus Influenza A (H3N2) subklad K dan menegaskan penyakit tersebut bukan virus baru.
Gejala superflu umumnya menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan radang tenggorokan. Kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid diminta meningkatkan kewaspadaan.
Advertisement
Pakar dari Fakultas Kedokteran UNS menegaskan virus H3N2 pernah memicu wabah global pada 1968 dan terus bermutasi hingga kini, sehingga kemunculan varian baru merupakan hal yang lazim dalam dunia kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, dr. Irma Makiah, mengonfirmasi adanya temuan tersebut. Namun, ia enggan membeberkan identitas pasien, termasuk asal daerah dan usia.
BACA JUGA
“Iya, ada satu kasus. [Terdeteksi] akhir tahun 2025. [Asal dan usia?] Ya rahasia to, intinya, sudah enggak apa-apa, sudah aman,” kata Irma kepada Espos, Rabu (7/1/2026).
Irma membenarkan bahwa penanganan dan pemeriksaan sampel superflu dilakukan di RSUP dr. Kariadi Semarang. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu rumah sakit sentinel di Jawa Tengah untuk pemantauan penyakit menular.
Tak Perlu Panik
Meski ada temuan kasus superflu, Irma menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Ia menekankan pentingnya menjaga kewaspadaan serta daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang virus.
“Waspada perlu, tapi tak usah panik. superflu bukan terminologi medis. Penularan memang cepat, tapi risikonya tak seberbahaya Covid-19,” jelasnya.
Dari sisi gejala, superflu tidak jauh berbeda dengan flu pada umumnya. Penderitanya dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan.
“Segi penularan, rentan untuk HIV/AIDS, orangtua. Komorbid, tergantung kondisinya, kalau imunitasnya bagus, ya aman,” ucapnya.
Bukan Virus Baru
Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tonang Dwi Ardyanto, juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.
Ia menegaskan bahwa superflu bukan virus baru. Influenza A H3N2 pernah menyebabkan wabah besar pada 1968, lalu mengalami mutasi hingga muncul varian baru.
“Sebetulnya ini bukan sesuatu yang baru. Virus Influenza A H3N2 ini pernah menimbulkan wabah besar tahun 1968. Namun virus ini bermutasi dan menyesuaikan diri, sehingga muncul kembali dengan varian baru,” ujar Tonang.
Pemahaman yang tepat mengenai superflu dan Influenza A H3N2 diharapkan dapat mencegah kepanikan serta memperkuat kesiapsiagaan kesehatan masyarakat Jawa Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jaringan PLN Sleman Diperbaiki, Hari Ini Warga Hadapi Pemadaman
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kasus Pengeroyokan Remaja di Bantul, Motif Diduga Rivalitas Geng
- Aturan Baru Pajak Mobil Listrik Berlaku, Industri Diminta Tetap Tumbuh
- Indonesia Protes Keras Spanduk Israel di RS Gaza
- KPK Usut Suap Kereta Api Mantan DPR Sudewo
- Polisi Buru 5 Anggota Geng Remaja Tewaskan Pelajar Bantul
- Lansia 80 Tahun Tewas di Simpang Jambon, Diduga Pengendara Lalai
- YouTube Patuhi PP Tunas Nonaktifkan Akun Anak
Advertisement
Advertisement








