Batu Bara Diyakini Tetap Jadi Sumber Energi Masa Depan, Ini Penjelasannya

Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
26 September 2021 21:37 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Suryo Eko Hadianto meminta agar pemanfaatan batu bara tidak dibenturkan dengan upaya penekanan emisi karbon, karena komoditas itu disebut akan tetap digunakan di masa depan.

Selama ini, batu bara menjadi bahan baku utama energi di Indonesia melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Komoditas itu bahkan berkontribusi 38 persen dari total energi Tanah Air.

Seiring berkembangnya teknologi, pembakaran batu bara juga semakin baik, bahkan hampir mendekati zero emission. Selain itu, teknologinya juga akan semakin murah di masa depan.

“Sebetulnya ini isunya adalah climate change dan emisi karbon. Ini sesuatu yang tidak perlu dibenturkan antara penurunan emisi karbon dan pemanfaatan batu bara,” katanya saat webinar, Jumat (24/9/2021) malam.

Pemerintah sendiri mulai menyusun road map untuk mengoptimalkan PLTU melalui perkembangan teknologi lebih ramah lingkungan.

Beberapa di antaranya adalah penerapan carbon capture, utilization and storage (CCUS) maupun carbon capture and storage (CCS) hingga proses pencampuran batu bara dengan biomassa dalam proses pembakaran atau co-firing biomass.

Keberadaan berbagai teknologi itu diyakininya malah akan menjadikan minat dunia untuk mengonsumsi batu bara semakin besar.

“Saya sangat yakin dunia akan kembali menggunakan batu bara. Hari ini Inggris kembali menggunakan batu bara, beberapa bulan lalu Kanada kembali gunakan batu bara. beberapa minggu lalu Jerman kembali menggunakan batu bara, karena batu bara energi yang relatif murah.”

Penurunan pemanfaatan batu bara dinilai malah akan memberikan efek domino, termasuk pada penerimaan negara non pajak. Selama ini, komoditas itu menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara terbesar melalui ekspor.

Eko pun menolak upaya penurunan emisi karbon dengan membunuh keberadaan PLTU. Batu bara disebutnya ikut berkontribusi pada biaya listrik masyarakat tetap rendah meski masih disubsidi.

Perubahan energi baru terbarukan (EBT) secara masif dan menggantikan posisi batu bara secara serta merta justru akan menaikan tarif listrik. Bila tarif di masyarakat tidak naik dengan perubahan itu, maka subsidi negara untuk energi kian besar. 

Sumber : Bisnis.com