Penanganan Masalah Stunting Butuh Sinergi Banyak Pihak

Pencanangan Great Babies Program (Program Bayi Hebat) oleh BKKBN, Senin (14/6/2021). - Ist.
15 Juni 2021 08:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penanganan stunting yang angkanya masih tinggi membutuhkan sinergi berbagai pihak baik dari pemerintah maupun kalangan swasta. Perhatian terhadap hari pertama kelahiran menjadi penting untuk mencegah stunting.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan stunting menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi dan perlu diatasi secara serius. Keterlibatan berbagai macam pihak diperlukan untuk mengatasi terjadinya masalah stunting.Saat ini, angka stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019, prevalensi stunting sebesar 27,67%, dan pemerintah mentargetkan angka stunting di Indonesia turun menjadi 14% pada 2024.

“Pondasi utama kehidupan manusia di masa depan dapat dipengaruhi oleh pengasuhan pada 1.000 hari pertama kelahiran, dimulai sejak awal konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir hingga anak berusia dua tahun,” kata Hasto dalam rilisnya, Selasa (15/6/2021).

Pada periode tersebut, lanjut Hasto, terjadi perkembangan otak, sistem metabolisme tubuh dan pembentukan sistem kekebalan tubuh yang begitu cepat. Sehingga apabila pada masa itu terlewati dan anak terlanjur stunting akan sangat sulit terkoreksi lagi. Mengingat kompleksitas masalah stunting di Indonesia, dibutuhkan sinergi semua pihak untuk mengatasi stunting.

“Penggalangan kemitraan pentahelix atau tetra helix dilakukan dengan prinsip menerima apapun yang diberikan mitra swasta terkait intervensi stunting, sehingga di posisi ini BKKBN adalah menjadi fasilitator kegiatan,” ujarnya.

Hasto mengatakan stunting harus ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh. Program edukasi menjadi penting agar anak tidak salah gizi dan yang juga harus diperhatikan adalah pola pengasuhan anak yang tepat, dan salah satunya keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan.

“Pandemi telah mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti, padahal selama ini Posyandu berperan besar sebagai langkah awal pengawasan gizi anak. Kami berharap kolaborasi dan kerajasama ini menjadi cara alternatif agar gizi dan kesehatan anak di Indonesia tetap terpantau melalui kegiatan posyandu,” ungkapnya.

Great Babies Program (Program Bayi Hebat) diluncurkan melalui kerja sama antara Rotary Club Mataram Yogyakarta (RCMY) dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, Senin (14/6/2021) di Dukuh Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Hasto menilai kolaborasi dari swasta seperti bantuan yang diberikan Rotary Club Mataram Yogyakarta sangat bermanfaat. Harapannya tidak berhenti dan bisa meneruskan dukungan bagi Ibu hamil, anak-

“Diharapkan juga mampu menguatkan peran generasi muda atau remaja sebagai calon keluarga, sehingga mampu membekali dirinya dalam upaya membangun keluarga berkualitas,” katanya.