SDM Kompeten Bangun PLTN, Peneliti Tunggu Pemerintah untuk Go Nuklir

Pelaksanaan konferensi internasional bertajuk On High Temperature Gas Reactor yang berlangsung di Kota Jogja, Sabtu (6/6/2021). - Ist.
06 Juni 2021 12:37 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dari kalangan peneliti ahli nuklir di Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Bahkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berhasil membuat reaktor tercanggih generasi keempat berupa High Temperature Gas Reactor (HTGR) yang mampu menghasilkan energi listrik dan panas yang tinggi.

Karena kemampuan itulah Indonesia ditunjuk oleh badan atom dunia, International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai tuan rumah konferensi internasional bertajuk On High Temperature Gas Reactor yang berlangsung di Kota Jogja, Sabtu (6/6/2021).

BACA JUGA : Tersebar di Tiga Wilayah, Ini Jumlah Bahan Baku Nuklir 

Peneliti Senior Pusat Teknologi Limbah Radioaktif Badan Tenaga Nuklir Nasional Profesor Djarot S Wisnubroto memastikan Indonesia memiliki SDM yang mumpuni untuk mendukung pembangunan PLTN. Batan telah melakukan uji tapak pembangunan PLTN mulai dari di Semenanjung Muria Jepara, Pulau Bangka dan Kalimantan Barat dengan berbagai latar belakang kebutuhan listrik. Dari hasil studi ketiga tempat tersebut layak dibangun PLTN.

Berbagai persyaratan untuk pembangunan PLTN sebenarnya telah terpenuhi. Tetapi sayangnya belum ada pernyataan resmi dari pemerintah untuk pembangunan PLTN.

“Tetapi kembali pada keputusan pemerintah karena nuklir suatu hal butuh pernyataan dari kepala negara untuk meyakinkan baik investor maupun vendor dari luar negeri bahwa program ini berjalan dalam jangka panjang. Selama belum ada keputusan kami belum bisa menyatakan go nuklir, masih menunggu Presiden menyatakan go nuklir,” ungkapnya.

BACA JUGA : Perjalanan ke Mars Pakai Tenaga Nuklir Lebih Cepat

Peneliti Senior Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor, Badan Tenaga Nuklir Nasional Nuklir Geni Rina Sunaryo menambahkan izin pembangunan PLTN memang tidak mudah. Butuh komitmen jangka panjang yang saat ini masih jadi tantangan di Indonesia serta investasi yang tidak sedikit dan butuh. Proses izin tergolong lama karena harus bisa menjamin keselamatannya.

“Investasi awal mungkin bisa dibilang mahal tetapi bisa beroperasi untuk 60 tahun sehingga secara umum bisa murah,” ujarnya.

Reaktor Generasi Keempat

Geni mengatakan saat ini Batan telah berhasil mengembangan reaktor nuklir HTGR generasi keempat dengan sistem pendingin berupa gas yang didesain secara mandiri oleh para peneliti. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menggunakan pendingin air. Proyek pembuatan reaktor ini dimulai sejak 2014 silam dan didesain secara mandiri oleh peneliti Batan.

“Pada awalnya Rusia menawarkan desainnya tetapi mereka meminta sekitar Rp4,3 triliun, saat kami minta detailnya tidak memberikan, akhirnya tim Batan membuat desain sendiri dan berhasil, dengan biaya lebih murah, sekitar Rp2,3 triliun,” ujarnya.

Reaktor ini sangat cocok untuk dikembangkan di PLTN dan industri. Karena selain listrik juga menghasilkan panas yang mencapai 1.000 derajat celcius. Panas ini bisa untuk menginisiasi industri lain seperti produksi gas hidrogen, smelter kimia, sebagai katalisator suatu reaksi kimia.

BACA JUGA : Pengobatan Kedokteran Nuklir Bisa Jadi Solusi Defisit BPJS

“Proses PLTN, harus ada izin tapak sudah punya, lisensi desain dalam proses, izin konstruksi kalau sudah kita baru konstrusksi, izin commissioning dioperasikan secara dingin dan terakhir izin operasi, ini lama memang. Tetapi SDM kita cukup mampu, maka kami menunggu pemerintah karena ini berkaitan dengan politik,” ujarnya.