Pengobatan Kedokteran Nuklir Bisa Jadi Solusi Defisit BPJS

Reaktor Nuklir Kartini Yogyakarta. - Dok. Harian Jogja
08 September 2019 06:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJALayanan kedokteran nuklir diklaim jauh lebih hemat dibandingkan kedokteran pada umumnya atau metode pengobatan konvensional. Penggunaan kedokteran nuklir juga diklaim mampu menjadi solusi dalam mengatasi BPJS.

Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) Eko Purnomo menakui pelayanan diagnostik dan terapi kedokteran nuklir jauh hemat biaya dibandingkan metode pengobatan konvensional. Ia menyebutkan metode pengobatan kedokteran nuklir selain murah dan nyaman bagi pasien juga mampu menekan pengeluaran BPJS Kesehatan.

"Metode pemeriksaan dan pelayanan pengobatan di kedokteran nuklir sangat murah. Ini bisa menghemat program pemerintah melalui BPJS Kesehatan," kata Eko dalam Indonesia Nuclear Expo (Nexpo) 2019 di Jogja, Jumat (8/9/2019).

Ia menambahkan pengobatan atau terapi penyakit kanker ganas tiroid dengan metode konvensional seperti kemoterapi bisa menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah. Namun dengan pengobatan kedokteran nuklir melalui metode ablasi yang hanya membutuhkan biaya sekitar Rp9 jutaan dan bisa dicover dengan tarif BPJS.

"Dulu sebelum ada pengobatan nuklir, pasien [kanker tiroid] setelah dioperasi oleh dokter bedah, biasanya didiamkan kalau tumbuh [kanker] lagi maka dioperasi lagi. Di kedokteran nuklir ada metode ablasi, pasien tidak usah berulang-ulang operasi cukup dibersihkan di kedokteran nuklir sisa-sisa kankernya," kata dia.

Sehingga selisih sangat besar dibandingkan pengobatan konvensional. Dengan demikian, karena murahnya pengobatan kedokteran nuklir, sebenarnya bisa menjadi solusi mengatasi persoalan BPJS yang memiliki tunggakan sangat besar. Karena sebagian besar pengobatan kedokteran nuklir juga bisa dicover dengan BPJS.

“Kalau memang menggunakan BPJS, yang Rp9 juta itu pasti gratis karena kedokteran nuklir juga bisa discover,” ujarnya.

Selain murah, menurut Eko, metode pengobatan kedokteran nuklir juga lebih nyaman bagi pasien. Tingkat keamanannya juga tidak perlu diragukan oleh masyarakat. "Pengobatan ablasi cukup nyaman, hanya diminumkan. Berbeda dengan kemoterapi yang harus melalui infus sampai rambut pasien rontok," kata dia.

Spesialis Kedokteran Nuklir, Johan S Mansyur mengakui kendati biayanya murah, diagnostik dan terapi kedokteran nuklir masih menghadapi kendala, yakni persepsi masyarakat mengenai istilah kedokteran nuklir yang dipandang sebagai momok yang menakutkan.

"Pasien kalau mendengar istilah kedokteran nuklir takut. Tetapi kalau pergi ke radiologi X-ray (merasa) tidak masalah," kata Johan.

Padahal, Johan mengatakan radiasi yang digunakan dalam diagnosis kedokteran nuklir justru lebih rendah dibandingkan dengan radiologi X-ray. "Jadi banyak yang salah paham. Kita tidak mengobati kecelakaan nuklir, kita tidak mengobati yang kena bom atom. Bahkan kita mengobati pasien dengan dosis radiasi yang lebih kecil," kata Johan

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan menyatakan Batan siap menyediakan berbagai suplay untuk kebutuhan kedokteran nuklir melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka. Ia memastikan untuk kebutuhan radioisotop dan radiofarmaka bisa dipenuhi oleh Batan sesuai yang dibutuhkan.

“Begitu juga dengan SDM nuklir kami juga bisa menyiapkan,” ujarnya.

Sumber : Antara