Riset: Vaksin Sinovac Kurang Ampuh Jinakkan Corona, Produk China Disorot Lagi

Vaksin Covid-19 Sinovac beserta jarum suntik terpajang di kawasan Masjid Istiqlal saat vaksinasi di Jakarta, Selasa (23/2/2021). - Antara
12 April 2021 16:37 WIB Oktaviano DB Hana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Vaksin Covid-19 Sinovac Biotech Ltd. dinilai kurang ampuh menjinakkan virus Corona dibandingkan dengan vaksin lainnya.

Dilansir Bloomberg, Senin (12/4/2021), sebuah studi yang diterbitkan pada akhir pekan memerinci bahwa pada pengujian tahap akhir vaksin Covid-19 Sinovac Biotech Ltd. di Brasil mengonfirmasikan perkiraan sejak akhir tahun lalu bahwa tingkat kemanjuran hanya sedikit di atas 50 persen atau tingkat yang hampir tidak melewati batas minimum perlindungan yang diperlukan untuk vaksin Covid-19.

Vaksin virus Corona lain yang dikembangkan oleh perusahaan China melaporkan tingkat kemanjuran antara 66 persen hingga 79 persen dalam mencegah penyakit simptomatik. Namun, itu masih berada di bawah tingkat perlindungan lebih dari 90 persen yang ditemukan dalam vaksin mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer Inc. dan Moderna Inc..

Menurut kantor berita lokal The Paper, George Fu Gao, kepala Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China, pada Sabtu (10/4/2021), mengatakan bahwa sesuatu perlu dilakukan untuk mengatasi rendahnya tingkat perlindungan vaksin China.

Pengakuan langka oleh pejabat senior China tentang tingkat kemanjuran yang relatif rendah itu pun menjadi viral di media sosial Negeri Tirai Bambu selama akhir pekan. Namun, unggahan dan laporan media tentang komentar Gao dengan cepat disensor atau dihapus.

Gao mengatakan kepada surat kabar yang didukung Global Times, pada Minggu, bahwa pernyataannya disalahartikan, dan hanya dimaksudkan untuk menyarankan cara-cara meningkatkan kemanjuran vaksin.

Dalam pidatonya pada Sabtu di sebuah forum tentang vaksin di kota barat Chengdu, Gao menyarankan agar menindaklanjuti vaksinasi dengan suntikan penguat tambahan dan pencampuran berbagai jenis vaksin agar dapat membantu mengatasi masalah keefektifan, menurut Global Times. Dia juga mengimbau orang untuk divaksinasi karena manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya.

Adapun, pengakuan tersebut memicu peningkatan keraguan akan vaksin yang sudah meluas di antara populasi China yang memendam kekhawatiran tentang keamanan dan kemanjuran vaksin lokal. Padahal, China menargetkan vaksinasi 40 persen populasinya, atau 560 juta orang, pada akhir Juni.

Di sisi lain, pengembang vaksin China dikritik karena kurangnya transparansi dan tertinggal dari produsen luar dalam menerbitkan data uji coba lengkap di jurnal medis. Studi terperinci tentang uji coba tahap akhir vaksin Sinovac di Brasil dilakukan tiga bulan setelah pembacaan tingkat keampuhannya, sementara Sinopharm belum menerbitkan data lengkap dari uji coba Tahap III untuk dua vaksin yang tidak aktif.

Dalam studi terpisah yang melibatkan lebih dari 10.000 orang di Turki, tingkat kemanjuran vaksin Sinovac menjadi 83,5 persen. Perusahaan mengatakan bahwa perbedaan tingkat keparahan wabah, berbagai jenis virus Corona yang beredar dan definisi kasus Covid-19 yang diidentifikasi dalam penelitian semuanya berkontribusi pada hasil yang berbeda di beberapa lokasi percobaan.

Salah satu alasan rendahnya kemanjuran dalam uji coba Brasil, menurut peneliti studi tersebut, adalah bahwa dua dosis vaksin diberikan dalam interval singkat selama 14 hari. Para peneliti mencatat kecenderungan keefektifan yang lebih tinggi di antara sejumlah peserta yang mendapat dosis kedua tidak kurang dari 21 hari.

Beijing sudah berusaha keras untuk mencoba menjaga tingkat vaksinasi setara dengan beberapa negara lain, terutama AS, untuk menghindari penundaan dalam mencabut pembatasan perbatasan dan melanjutkan perjalanan internasional.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia