Hunian Vertikal Direkomendasikan di Tengah Kebutuhan Rumah Terus Meningkat

Kuliah umum bertajuk Land Use and Housing Massive Industry 4.0 yang terpantau lewat Youtube, Sabtu (10/4/2021). - Ist.
10 April 2021 20:07 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kebutuhan akan perumahan bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan jumlah unit yang dihasilkan setiap tahun tak sebanding dengan penambahan kebutuhan akan rumah bagi masyarakat. Sejumlah akademisi menyarankan teknologi pembangunan hunian vertikal di tengah minimnya lahan perkotaan.

Ketua Prodi Magister Arsitektur UII Suparwoko menyatakan tidak banyak akademisi hingga pemangku pemerintahan mencermati materi jumlah kekurangan perumahan. Latar belakangnya tentu kekurangan unit rumah di Indonesia capai 1 juta unit per tahun. Sampai saat ini penumpukan kekurangan sampai 12 juta unit. Dengan adanya program sejuta rumah sampai saat ini belum selesai, dan ke depan masih ada potensi untuk dilanjutkan.

BACA JUGA : Hunian Vertikal, Solusi Terbaik Atasi Backlog di Jogja

“Ini menjadi tantangan industri, kita butuh bangunan rumah banyak khususnya untuk MBR [masyarakat berpenghasilan rendah], baik di perkotaan maupun di pinggiran kota, karena urbanisasi saat ini sudah melebihi 60 persen dari jumlah penduduk itu tinggal di kota,” katanya dalam kuliah umum bertajuk Land Use and Housing Massive Industry 4.0 yang terpantau lewat Youtube, Sabtu (10/4/2021).

Selama ini pemerintah merepsons rumah untuk MBR itu ada di pinggiran. Hal ini akan menjadi persoalan karena ekspansi pembangunan rumah ke pedesaan akan memakan lahan pertanian. Selain itu penumpukan antara perkotaan dengan pinggiran ini akan menimbulkan polusi. Sehingga alternatif industri massif  untuk perumahan sangat dibutuhkan. Aturan yang saat ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan, berkaitan dengan tata ruang karena butuh penggunaan lahan.

“Bagaimana antara kebutuhan perumahan dengan industrI perumahan yang massif itu bisa dipertemukan, apalagi saat ini penggunaan lahan yang bertingkat rendah. Sebagai referensi seperti di Amerika rata-rata perkotaan di negara maju huniannya rata-rata enam sampai tujuh lantai,” katanya.

BACA JUGA : Hunian Vertikal Tren Baru di DIY

Ia menambahkan sangat berbeda dengan perkotaan di Indonesia yang rata-rata baru berada di dua lantai sehingga penggunaan tanah memungkinkan untuk membangun enam lantai. Dari sisi aturan kebijakan sebenarnya sudah memadai untuk mendukung hunian bersifat vertikal untuk menghindari banyak alihfungsi lahan. Tetapi sayangnya belum banyak diterapkan secara nyata.  

“Untuk mewujudkan hunian antara empat, lima hingga enam lantai memang menjadi tantangan bagi perkotaan kita,” ucapnya.

Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII Arif Wismadi mengatakan, terkait masalah perumahan saat ini bukan hanya ketersediaan yang semakin kurang dan tidak bisa terpenuhi namun juga harga rumah yang semakin mahal. Tetapi menurutnya hal ini menjadi persoalan global, karena selain Indonesia beberapa negara seperti India mengalami hal serupa.

“Itu jumlahnya semakin tahun terus bertambah dan menjadi masalah bersama. Salah satu pendekatan solusinya adalah merubah kebijakan, mencari kebijakan yang paling tepat di Indonesia. Selain itu ada pendekatan partnership antara pemerintah dengan swasta,” katanya.