AstraZeneca Jelaskan Isu Pembekuan Darah akibat Vaksin Covid

Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Bloomberg
16 Maret 2021 22:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - AstraZeneca mengklarifikasi isu trombotik atau pembekuan darah yang dikaitkan dengan penggunaan vaksin buatannya.  Indonesia saat ini turut menunda penggunaan vaksin asal Inggris itu.

Chief Medical Officer Ann Taylor mengatakan sekitar 17 juta orang di Uni Eropa dan Inggris telah menerima vaksin AstraZeneca dan jumlah kasus pembekuan darah yang dilaporkan dalam kelompok ini lebih rendah daripada ratusan kasus yang diperkirakan terjadi pada masyarakat umum. 

"Pandemi ini telah meningkatkan perhatian dalam kasus individu dan kami akan melakukan upaya lebih dibanding praktik standar dalam memantau keamanan obat-obatan yang diedarkan terkait dengan pelaporan kejadian akibat vaksin, untuk memastikan keamanan publik," ujarnya dalam pernyataan resmi yang diterima JIBI, Selasa (16/3/2021).

Dia menjabarkan tinjauan yang cermat terhadap semua data keamanan yang tersedia pada lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di Uni Eropa (UE) dan Inggris dengan Vaksin Covid-19 AstraZeneca tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko emboli paru, trombosis vena dalam (DVT) atau trombositopenia, dalam kelompok usia, jenis kelamin, kelompok tertentu ataupun di negara tertentu.

Sejauh ini di seluruh Uni Eropa dan Inggris, terdapat 15 kejadian DVT dan 22 kejadian emboli paru yang dilaporkan di antara mereka yang diberi vaksin, berdasarkan jumlah kasus yang telah diterima oleh AstraZeneca pada 8 Maret. Angka tersebut dianggap jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka kejadian pada masyarakat umum dan kurang lebih sama dengan vaksin Covid-19 lainnya yang telah mendapatkan persetujuan izin edar. 

Laporan keamanan bulanan kata Taylor akan dipublikasikan di situs web Badan Obat Eropa (European Medicines Agency) pada minggu berikutnya, sejalan dengan langkah-langkah transparansi luar biasa (exceptional transparency measures) untuk Covid-19.

Lebih lanjut, dalam uji klinis, meskipun jumlah kejadian trombotik kecil, jumlah kejadian ini katanya juga lebih rendah pada kelompok yang divaksinasi. Selain itu tidak ada bukti peningkatan perdarahan di lebih dari 60.000 peserta yang ikut serta dalam uji klinis.

Taylor menambahkan dalam hal kualitas, juga tidak ada masalah yang dikonfirmasi terkait dengan batch vaksin AstraZeneca yang digunakan di seluruh Eropa, atau di seluruh dunia. "Pengujian tambahan telah dan sedang dilakukan oleh kami sendiri dan juga secara independen oleh otoritas kesehatan Eropa serta tidak satu pun dari tes ulang ini yang menunjukkan kekhawatiran," tegasnya.

Dia menjabarkan selama produksi vaksin, lebih dari 60 pengujian kualitas dilakukan oleh AstraZeneca, mitra, dan lebih dari 20 laboratorium pengujian independen. Semua tes perlu memenuhi kriteria ketat untuk kontrol kualitas dan data ini dikirimkan ke regulator di setiap negara ataupun wilayah untuk peninjauan independen sebelum batch apa pun dapat dirilis ke negara-negara tersebut.

"Keamanan bagi seluruh masyarakat akan selalu diutamakan. AstraZeneca akan terus mengkaji masalah ini dengan ketat, walaupun bukti yang tersedia tidak mengkonfirmasi bahwa vaksin adalah penyebabnya," sebut Taylor.

Sementara itu, untuk mengatasi pandemi, menurutnya penting bagi masyarakat untuk melakukan vaksinasi jika diminta oleh pemerintah. Saat ini, sebagian besar negara diketahui tetap melanjutkan penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca bahkan di Eropa diantaranya adalah Perancis, Inggris, Belgia, hingga Spanyol.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia