Hasil Studi, Pria dengan Pendapatan Tinggi Cenderung Mengalami Obesitas, Ini Dampak Buruknya

Ilustrasi. - Ist/Freepik
26 Agustus 2020 10:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Salah satu penyakit tidak menular yakni Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Kondisi ini merupakan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 1,13 miliar orang di seluruh dunia mengidap hipertensi. Sebagian besar (dua pertiga) terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Berkaitan dengan hipertensi, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pria yang menerima pendapatan tinggi lebih berisiko terkena hipertensi.

Baca juga: Tak Perlu Dibersihkan, Telinga Ternyata Membersihkan Sendiri

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Jepang dan mereka menganalisis 4.314 karyawan (3.153 pria dan 1.161 wanita) dari 12 tempat kerja telah terdaftar pada 2012.

Semua pekerja tersebut bekerja pada siang hari dan memiliki tekanan darah yang normal.

Kemudian mereka mulai menyelidiki hubungan antara pendapatan dan tekanan darah tinggi selama dua tahun.

Baca juga: Tak Perlu Memukul Pantat, Ini 8 Cara Lain Mendisiplinkan Anak Anda

Lalu, peneliti membagi peserta studi menjadi empat kelompok berdasarkan pendapatan rumah tangga tahunan mereka, kurang dari 5 juta, 5 hingga 7,9 juta, 8 hingga 9,9 juta, dan 10 juta atau lebih (dalam satuan yen Jepang) per tahun.

Mereka menemukan, pria dalam kelompok pendapatan tertinggi hampir dua kali lebih mungkin terkena tekanan darah tinggi dibandingkan dengan kelompok pendapatan terendah.

Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara pendapatan dan tekanan darah pada perempuan.

Peneliti menemukan bahwa ini berkaitan dengan gaya hidup yang lebih banyak dilakukan para pria, daripada wanita.

Menurut peneliti, pria dengan pendapatan tinggi cenderung mengalami obesitas dan sering mengonsumsi alkohol setiap hari. Kedua perilaku ini merupakan faktor risiko utama hipertensi.

Jepang mencatat ada lebih dari 10 juta orang dengan tekanan darah tinggi di negaranya, dan jumlahnya terus meningkat, kata penulis studi Dr Shingo Yanagiya dari Sekolah Pascasarjana Kedokteran Universitas Hokkaido, Sapporo, Jepang.

Dilansir The Health Site, studi ini dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-84 dari Japanese Circulation Society (JCS 2020).

Sumber : Suara.com