Terdampak Corona, Waskita Karya Akan Jual Jalan Tol

Interchange di Jalan tol Kanci-Pejagan. Jalan tol ini dikelola oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha PT Waskita Transjawa Roll Road. Waskita Toll Road memiliki 39,49 persen saham WTTR per 1 April 2020. - wtr.co.id
06 Juli 2020 07:17 WIB Ilman A. Sudarwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk. berencana menjual sebagian sahamnya di sejumlah proyek jalan tol untuk menyambung napas di tengah pandemi. Berapa potensi nilai transaksinya?

Emiten berkode saham WSKT itu berencana menjual kepemilikannya di tiga ruas jalan tol, yakni Tol Bekasi—Cawang—Kampung Melayu (Becakayu), Tol Kanci—Pejagan, dan Tol Pejagan—Pemalang. Selain itu, perseroan akan menjual sebagian kepemilikannya di Tol Cibitung—Tanjung Priok.

“Kami harapkan [divestasi] bisa terlaksana pada tahun ini, sehingga bisa mengembalikan ekuitas yang turun,” ujar Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono, kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

BACA JUGA : Waskita Beton Precast Dorong K3

Perseroan memiliki Tol Becakayu lewat 99 persen kepemilikan di PT Kresna Kusuma Dyandra Marga sebagai pemilik konsesi. Sementara itu, pada Tol Cibitung—Tanjung Priok perseroan perseroan memiliki saham sebesar 55 persen lewat anak usaha PT Waskita Toll Road (WTR).

Sementara itu, Tol Kanci—Pejagan dan Tol Pejagan—Pemalang dimiliki oleh PT Waskita Transjawa Toll Road (WTTR). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari WTR dengan porsi kepemilikan 99,99 persen.

Divestasi ini dilakukan untuk mengurangi beban neraca keuangan. Emiten berkode WSKT ini memiliki neraca yang cukup gemuk karena memiliki 16 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang terkonsolidasikan ke laporan keuangan mereka. Dengan demikian, perseroan harus menanggung utang dan kerugian dari BUJT tersebut.

Jika divestasi dapat dilakukan sesuai rencana, menurutnya perseroan akan memiliki ruang peningkatan ekuitas lebih tinggi. Selain itu, posisi debt to equity ratio (DER) perseroan juga akan lebih rendah.

BACA JUGA : Ini Barang Bukti yang Disita KPK dari Adhi Karya dan Waskita 

Dengan demikian, perseroan akan memiliki ruang lebih besar untuk mengerek ekuitas melalui utang baru. Hal ini juga akan menjadi modal perseroan untuk melaksanakan ataupun bersaing dalam tender proyek-proyek investasi baru.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan rencana divestasi oleh Waskita Karya akan mendatangkan keuntungan divestasi setelah pajak sebesar Rp726 miliar. Hal itu didasarkan pada asumsi penjualan dilakukan pada 1,25x nilai buku.

Dia menjelaskan asumsi tersebut didasarkan dari rencana penjualan tol-tol milik PT Waskita Transjawa Toll Road (WTTR) dan Becakayu saja. Menurutnya, potensi nilai divestasi bisa lebih besar apabila perseroan juga dapat merealisasikan divestasi Tol Cibitung—Tanjung Priok.

“Hingga saat ini, kami memahami bahwa perseroan telah mendapatkan letter of intent dari sejumlah investor potensial. Proses divestasi saat ini dalam tahapan penentuan skema transaksi dan uji tuntas,” ujarnya, dikutip dari riset.

Sementara itu, Analis PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya memperkirakan transaksi penjualan akan dilakukan pada 1,1x—1,3x nilai buku untuk tol-tol yang dimiliki Waskita Karya lewat PT Waskita Transjawa Toll Road (WTTR).

Dia juga memperkirakan divestasi Tol Becakayu akan dilakukan melalui penerbitan Dana Investasi Infrastruktur dengan target minimum 1,5x nilai buku.

“Dengan perkiraan divestasi dapat dilakukan pada perkiraan harga tersebut, maka Waskita Karya akan menerima sekitar Rp1,2 triliun—Rp1,5 triliun dari divestasi 34,8  di WTTR dan Rp3,4 triliun—Rp3,9 triliun dari divestasi Becakayu,” jelasnya, dikutip dari riset.

Dihubungi terpisah, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan memperkirakan bahwa divestasi dalam kondisi saat ini tidak akan dapat dilakukan pada valuasi optimum.

“Siapapun pasti tidak mau jual aset dalam kondisi sekarang, karena memang daya beli, dan semua aset mengalami penurunan, artinya akan ada diskon,” katanya.

Meski begitu dia meyakini perseroan tetap akan mendapatkan untung dari divestasi tersebut. Secara keseluruhan, Waskita Karya juga telah mendapatkan keuntungan dari proses konstruksi hingga pengadaan material proyek-proyek itu.

Dia juga meyakini, bagaimanapun rencana divestasi harus segera dilakukan Waskita Karya. Pasalnya, semakin lama rencana itu ditunda semakin tinggi beban yang akan ditanggung perseroan. Terlebih, dalam kondisi saat ini likuiditas perseroan kian seret karena penjualan tidak optimal.

“Akan tertolong sekali, likudiitas mereka [WSKT] ketika nanti mereka dana yang cukup besar masuk dari divestasi mereka bisa turunkan leverage, neracanya ringan. Sehingga kalau terbitkan lagi utang bunganya bisa lebih rendah. Tinggal urusan gengsinnya, soal harga jualnya,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia