Kisah Inspiratif Lulusan Fisipol UGM yang Memilih Jalan Hidup Menjadi Seorang Petani

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
14 Juni 2020 10:47 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebuah cerita tentang jalan hidup seorang pemuda menjadi viral di twitter. Penyebabnya, pemuda yang merupakan lulusan Fisipol UGM ini memilih jalan hidup menjadi petani.

Kisah itu diungkapkan pemuda asal Sukabumi bernama Dipa tersebut melalui thread di akun twitternya @tanikelana.

Mengawali ceritanya, ia menyebutkan bahwa tujuh bulan lalu ia lulus dari Fisipol UGM. "Januari lalu akhirnya aku pulang kampung, dan bulan Maret aku mulai ambil cangkul dan pergi ke kebun. Sedikit cerita tentang memilih jalan seorang petani!" tulisnya pada Jumat (12/6/2020).

Kegiatan pertanian ia pelajari dari sebuah komunitas yang ditemuinya semasa kuliah, yakni komunitas @sektimuda, yang merupakan wadah belajar bersama tentang pertanian alami. Ternyata banyak anak muda yang tertarik dunia pertanian.

"Nah di sana akhirnya aku belajar tentang tanaman, cara buat pupuk dan pestisida nabati, juga belajar langsung ke para petani," tulisnya.

Ia dan teman-temanya juga sempat belajar langsung pada Daliman, praktisi pertanian alami di Bantul.

Setelah banyak ketemu petani, Dipa kemudian belajar bertaanam di kos. Rupanya, jiwa bertani yang dipupuknya sejak kecil karena main Harvestmoon makin menjadi. "Di situ aku makin yakin, cita-citaku adalah jadi seorang petani," tegasnya.

Namun bagaimana memulainya? Beruntung meski bukan berasal dari keluarga petani sehingga tidak mewarisi lahan yang luas dan bukan dari kelas pemodal, Dipa tetap mendapatkan dukungan dari keluarganya.

Ia bahkan meminjam uang ke keluarganya untuk modal modal, sisanya ia jual buku-buku yang dikumpulkan selama kuliah. Di bulan Maret akhirnya ia mulai bertani, mulai belajar mencangkul, belajar lagi banyak hal langsung dengan para petani lain.

Ia memulai dengan tanaman kangkung dan bayam. Dan di pertanian ternyata banyak faktor yang sulit diperhitungkan. Fluktuasi harga, iklim, hama, dan penyakit. Di situlah, ia benar-benar belajar pentingnya sabar dan tekun.

Setelah tiga hingga empat minggu, kangkungnya tumbuh besar. Ia pun menjualnya sebagian. Setiap hari ia harus berangkat jam 6, panen kangkung lalu keliling ke beberapa tukang sayur. "Hasilnya cukup lumayan buat sehari-hari," ungkapnya haru.

Setelah bertani selama empat bulan, Dipa mengungkapkan manfaat yang dirasakannya dalam hidupnya. "Aku sendiri benar-benar bertani baru sekitar empat bulan, dan sejak aku mulai bertani rasanya hidup bener-bener tenang dan bahagia banget!" tulisnya.

Bukan hanya tentang uang, dari bertani ia merasakan hidup yang merdeka, bisa terus saling berbagi lewat hasil tani, dan semakin sadar bahwa sepenuhnya manusia bergantung pada alam yang sayangnya terus dirusak oleh manusia itu sendiri.

Dipa juga mengungkapkan alasannya memilih bertani sebagai jalan hidup. Salah satunya adalah mencari sumber penghidupan yang terjamin halal dan berkah. Lainnya, karena dalam hidup yang singkat, amat sayang hanya lahir untuk turut merusak bumi dan seisinya.

Thread Dipa ini rupanya menarik perhatian warganet. Dalam waktu dua hari, postingan awal tentang cerita ini telah disukai oleh 43.100 orang dan dibagikan ulang oleh 12.100 orang.

Salah satunya akun @Anantaanugrohoo yang menulis "Njenengan orang mana mas? Saya sudah bertani sejak kecil sampai sekarang hampir lulus kuliah Sering dipandang sebelah mata sama teman2 makanya saya tidak pernah terlalu memperkenalkan diri saya kalo saya suka bertani
Tapi stlah lihat tweet nya mas ini saya jadi lebih bersemangat".

Ada pula yang mengungkapkan pengalaman yang sama, yakni akun @mohammadiqrom. Ia menulis "Pulang dari merantau cari ilmu di Surabaya, tiba-tiba kepincut sama pertanian. Akhirnya tanam pepaya Calina/California. Kisah kita sama, bung".