Ini Sosok Chikmawan, Eks PNS Pemilik Lahan Keraton Agung Sejagat

Chimawan Muhsin. - Detikcon/Pradito R Pertana
23 Januari 2020 12:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, PURWOREJO - Pemilik lahan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Chikmawan Muhsin, 53, akhirnya muncul di depan publik. Dia mengungkap alasan merelakan tanah pribadi untuk dijadikan 'istana' bagi orang lain.

Eks-PNS ini menjabat 'Mahamenteri' Keraton Agung Sejagat. Chikmawan mengaku mengenal Toto Santoso, sang 'raja', sejak 2015. "Awal kenal Toto lewat teman," kata dia.

Sedangkan perkenalannya dengan Fanni Aminadia, sejak dia bergabung dengan World Empire pada 2018. Chikmawan mengaku tertarik bergabung karena Fanni menawarkan untuk mengembalikan budaya Jawa dengan membangun Keraton Agung Sejagat.

"Ide Bu Fanni itu agar kita mengembalikan budaya Jawa yang sudah meluntur, bahasanya ben ora lali karo Jawane [tidak lupa dengan budaya Jawa]. Seperti ada kegiatan membatik, latihan tari dan pendopo rakyat. Terus rencananya juga akan ada taman bermain anak, museum-museum perjuangan kami dan mini zoo," bebernya.

Karenanya dia merelakan di tanahnya didirikan bangunan yang kemudian disebut Keraton Agung Sejagat itu. Bahkan dia menyetorkan uang pribadi untuk biaya membangun keraton yang mulai dibangun pada 2019 itu. Sepengetahuannya, apa yang disebut sebagai Keraton Agung Sejagat itu adalah untuk destinasi wisata.

Chikmawan menuturkan Fanni lalu mulai mendesain kolam dan pendopo, sedangkan Toto yang mendesain prasasti. Dari situlah muncul rencana pembangunan Keraton Agung Sejagat.

"Jadi ini tanah warisan dan tidak saya berikan, tapi digunakan karena pemahaman kami untuk embrionya destinasi wisata, khususnya budaya Jawa. Karena kami, khususnya anggota kangen dengan budaya Jawa yang bertata krama dan unggah-ungguh," ujarnya.

Selanjutnya, Chikmawan menjabat sebagai petinggi di 'kerajaan' yang baru dibangun dan didirikan itu. "Saya dapat [jabatan] Mahamenteri, Pak. Kalau awalnya itu [Keraton Agung Sejagat] dari DEC, Sunda Empire, World Empire, terus berubah Keraton Agung Sejagat ini," jelasnya.

Namun bukan dia saja yang mendapat jabatan itu. Mereka inilah yang dijadikan kaki tangan sang 'Raja' Toto. "Bahasa kami koordinator ndalem, total ada 11 orang kalau tidak salah, dan rata-rata Mahamenteri. Kalau saya termasuk yang ditunjuk [Toto], saya mahamenteri bintang empat," jelasnya.

"Otomatis kalau kasih jabatan dijanjikan kesejahteraan. Saya pribadi mahamenteri, bintang empat, kalau sudah berjalan mestinya mengarahnya ke sana [diberi gaji perbulan], tapi sampai saat ini belum," tuturnya.

"Kalau kami kan tidak tahu persis, tapi kami sangat menyesal, tidak menyangka kalau sampai kayak gini. Karena niat kami hanya kirab budaya Jawa dan mengembalikan budaya-budaya Jawa, dan konotasi kami untuk Keraton Agung Sejagat itu, sejagat dunia maya, jadi hanya untuk memviralkan di dunia maya saja. Tapi kok jadi seperti ini," tutur Chikmawan.

Siapa pemodal pembangunan 'istana' itu? Rupanya 'sang mahamenteri bintang 4' inipun tak paham benar. Namun, ia mengaku mengeluarkan uang untuk membantu biaya pembangunan keraton.

"Keluar materi, tapi kira-kira berapa saya lupa," kata dia.

Ketika ditanya apakah uang yang dia keluarkan itu hingga puluhan juta rupiah, dia mengakuinya. "Kurang lebih [puluhan juta]," ucapnya.

Chikmawan sebelumnya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS). Selanjutnya dia memilih keluar dari PNS.

"Tahun 2017 itu pindah ke [sebuah instansi] Purworejo dan di tahun itu juga dia keluar [dari PNS]. Saya juga bingung kok malah keluar, padahal sudah jadi PNS," kata Kepala Desa Pogung Juru Tengah, Slamet Purwadi.

Namun Chikmawan menepis dia keluar dari PNS karena iming-iming gaji besar dari 'Raja' Toto.

"Pada waktu itu karena istri kan meninggal, anak saya ya aleman [butuh perhatian], gitu kan. Nah, terus saya sering bolos dan kena indisipliner. Jadi tidak ada kaitannya dengan ini [ikut Keraton Agung Sejagat] saya keluar dari PNS," akunya.

Sumber : detik.com