UMY Berikan Pendampingan pada Suku Kokoda Papua

Murid SD Lab Kokoda menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh guru. - Ist/ Dok UMY
23 September 2019 15:47 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Berada jauh di ujung Timur Indonesia dan jauh dari Ibu Kota Negara bukan berarti bisa menyurutkan semangat untuk memperoleh pendidikan yang baik. Hal itu lah yang dilakukan oleh warga Suku Kokoda yang bermukim di Kampung Wormon Kokoda, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat, serta masyarakat Pulau Arar yang berada di wilayah yang sama.

Semangat luar biasa dalam menuntut ilmu ini lah yang menjadikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian serta pendampingan terhadap masyarakat setempat. Melalui Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), UMY menerjunkan kelompok Mahardika Bakti Nusantara (MBN) untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Wormon Kokoda sejak tahun 2016.

Fokus utama dari program ini adalah peningkatan kualitas pendidikan terhadap warga Kokoda itu. Hal ini dapat dilihat dari bangunan rumah baca bagi anak-anak disitu yang diresmikan pada bulan Januari tahun 2019 lalu oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, bersama dengan Rektor UMY, Gunawan Budiyanto, serta perwakilan dari Bank Mandiri Syariah .

Kepala Divisi Pengabdian dan Pelayanan LP3M UMY Dr. Adhianty Nurjanah, mengatakan tujuan utama dari program tersebut adalah pengkatan kualitas masyarakat melalui pendidikan. "Fokus utama kami memang di bidang pendidikan. Oleh karena itu semua yang kami lakukan harus berkesinambungan," ungkapnya saat menyambangi Kampung Wormon Kokoda, Minggu (22/9/2019).

Selain memiliki rumah baca, masyarakat Suku Kokoda juga telah cukup mandiri dari segi ekonomi. Hal ini terjadi karena mereka diajari bagaimana bercocok tanam yang baik dan benar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengingat pada waktu dahulu, suku tersebut merupakan kelompok yang nomaden dan selalu berpindah tempat dalam kurun waktu tertentu. Saat ini penduduk kampung tersebut telah memiliki tempat tinggal tetap dan mulai merubah pola hidupnya.

Memang proses ini memakan waktu yang cukup lama, tetapi proses pendampingan ini mulai membuahkan hasil. Saat ini warga Kokoda telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) berupa warung yang menjual kebutuhan pokok dan kapal berukuran besar yang berfungsi untuk menangkap ikan ditengah laut. Kemandirian ini juga tidak lepas dari bantuan baik dalam bentuk materi atau non-materi.

Sebagai bentuk tanggungjawabnya, UMY melalui LP3M memberikan stimulasi program pengembangan Bumdes sebesar Rp15 juta yang digunakan untuk mendukung operasional Bumdes yang mereka miliki. Selain untuk mendukung sektor ekonomi, LP3M juga memberikan stimulan program pengembangan pendidikan senilai Rp25 juta yang diperuntukkan untuk menambah jumlah gedung Sekolah Dasar (SD) Lab Muhammadiyah Kokoda. Dengan bertambahnya gedung sekolah, menunjukkan antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan anaknya semakin meningkat.

Sementara itu Kepala Desa Wormon Kokoda, Ari Syamsudin Namugur merasa sangat bersyukur sekali dengan bantuan yang diberikan Muhammadiyah dan UMY. Sejak datangnya pengabdian yang diberikan oleh pihak tersebut, warga setempat menjadi lebih baik. Secara pendidikan, mereka sangat terbantu dengan adanya fasilitas rumah baca sebagai saran pendidikan formal atau non formal.

Bangunan semi permanen berbentuk pendopo ini berdiri tegak di tepi padang rumput yang luas sehingga membuat betah bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Dengan adanya tambahan bangunan gedung sekolah, ia berharap generasi dimasa mendatang dapat bersaing secara kualitas pendidikan dengan tempat-tempat lain di Pulau Jawa.

Pada dari sektor ekonomi, ia menjelaskan bahwa saat ini masyarakatnya sudah semakin maju dan mandiri. Ari Namugur berkata bahwa dana yang diberikan dari LP3M UMY akan dialokasikan untuk operasional kapal. Tidak lupa juga ia ingin menggunakan dana tersebut untuk membahas jumlah warung agar dapat buka ditempat lain. Keuntungan yang didapatkan dari kapal penangkapan ikan terbilang cukup menjanjikan. Dalam satu kali berlayar, kapal yang diberi nama "Saad bin Abi Waqash" mampu menangkap sekitar satu ton ikan. Dengan keuntungan itu, tentunya masyarakat Kokoda akan meningkat secara ekonomi.

Adhiyanti juga menjelaskan bahwa pengabdian ini berkembang dari yang semula fokus pada sektor pendidikan, berkembang di bidang ekonomi. Menurutnya, seperti itu lah pengabdian masyarakat yang baik. Warga setempat dapat berkembang secara mandiri dengan sendirinya.

"Pengabdian kita dapat dikatakan berhasil apabila masyarakat yang kita dampingi mulai memiliki ide sendiri untuk berkembang. Bukan perhatian satu arah, melainkan dua arah. Jika kita sudah tidak melakukan pendampingan kepada masyarakat setempat, tetep programnya terus berlanjut. Maka itu dapat dikatakan berhasil, " imbuhnya.


Pulau Arar

Selama kunjungan LP3M UMY di Wilayah Sorong Raya, rombongan juga sempat mengunjungi Pulau Arar pada Sabtu (21/9/2019) yang menjadi bagian dari Wilayah KKN 3T UMY. Pulau yang berjarak sekitar 30 menit dari Kabupaten atau Kota Sorong jika menggunakan mesin ini memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap. Mulai dari usia dini hingga pendidikan menengah atas. 1 Taman Kanak-kanak (TK) PAUD Aisyiyah, 1 Sekolah Dasar Negeri (SDN), 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Lab Muhammadiyah dan 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) Lab Muhammadiyah.

Selain memberikan perhatian pada sektor pendidikan bagi warga Kokoda. UMY juga memberi perhatian yang sama bagi lembaga pendidikan yang ada di tempat itu. Adhiyanti berkata bahwa walaupun Arar adalah pulau kecil, tetapi memiliki fasilitas pendidikan yang cukup memadai. Tetapi perlu untuk menambah fasilitas dan kualitas tenaga pendidik yang mumpuni untuk mempersiapkan bekal pendidikan di masa depan.

"Saya rasa perlu sekali peningkatan kualitas pendidikan di Pulau ini. Untuk itu, kami mencoba untuk berkontribusi nyata bagi pendidikan di wilayah timur Indonesia khususnya. Semoga kedepannya anak-anak disini dapat bersaing dengan wilayah manapun," ujarnya.

Untuk itu LP3M memberikan bantuan stimulan program pendidikan sejumlah Rp20 juta untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik dan penambahan bangunan yang nanti akan digunakan sebagai ruang guru bagi TK PAUD Aisyiyah Pulau Arar.

Sementara itu SMP Lab Muhammadiyah juga mendapatkan stimulan program pendidikan senilai Rp15 juta yang akan digunakan untuk peningkatan untuk kapasitas guru dan pengelola sekolah. Tidak lupa UMY untuk memberikan stimulan program pendidikan senilai Rp50 juta yang akan untuk dipakai untuk pembangunan laboratorium komputer di sekolah itu. Hal ini dipersiapkan agar anak-anak yang telah lulus sekolah SMA mampu bersaing dengan lulusan sekolah di tempat lainnya.

Program ini dapat berjalan karena mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti LAZIZMU dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat(PP) Muhammadiyah. Serta bantuan dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong. Dengan adanya program kerja sama seperti ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi di wilayah 3T.