Bawaslu Magelang Laporkan Hasil Pengawasan Pemilu 2019 pada Masyarakat

Peluncuran buletin Bawaslu Kabupaten Magelang, Kamis (12/9/2019). - Harian Jogja/Nina Atmasari
12 September 2019 18:27 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Pemilu 2019 telah usai. Pemilu serentak ini dilakukan untuk memilih Presiden, Wakil Presiden, DPD, DPR RI dan DPRD. Bawaslu Kabupaten Magelang akan menyampaikan hasil pengawasan mereka kepada masyarakat melalui media cetak dan online.

Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, M. Habib Saleh dinamika politik terus berubah. Pemilu 2019 ini berbeda dengan Pemilu 2014. Sebenarnya Pemilu 2018-2019 sudah berjalan dengan baik, namun Habib mengungkapkan tetap masih ada beberapa celah yang harus diperbaiki atau ditingkatkan agar lebih baik.

"Pemilu kemarin merupakan Pemilu serentak pertama kali, dimana terdapat lima surat suara. Tentunya hal tersebut memiliki tantangan dan dinamika yang berbeda dari Pemilu-pemilu sebelumnya," ungkapnya, dalam konferensi pers di Magelang, Kamis (12/9/2019).

Selama ini, katanya, hasil pengawasan terhadap penyelenggaraan pemilu hanya berhenti di meja. Petugas pemilu tidak memiliki data terkait pemilu sebelumnya. Atas dasar itulah, pihaknya memutuskan agar hasil pengawasan pemilu yang sudah dilakukan, dipublikasikan kepasa masyarakat.

Selama ini, dalam prose pengawasan, petugasnya mendokumentasikan hasilnya. Dokumentasi inilah yang menurutnya bisa dijadikan sarana pembelajaran leh masyarakat. "Dengan hasil dari pembelajaran ini, maka diharapkan penyelenggaraan pemilu ke depan bisa lebih baik," lanjut Habib.

Publikasi ini akan dilakukan melalui media cetak berupa majalah yang dinamai Sakha Demokrasi serta website. Majalan akan diterbitkan setiap tiga bulan. Isinya bukan hanya tentang pemilu, namun juga tentang pilkada dan demokrasi.

Kordiv Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Magelang, Sumarni Aini Chabibah mengungkapkan rasa bangganya atas hasil kerja jajarannya selama ini.

"Buletin tersebut isinya semua dokumentasi hasil kerja Bawaslu Kabupaten Magelang selama Pemilu kemarin.Termasuk dalam pengawasan, penindakan dan sosialisasi," imbuhnya.

Hal ini juga termasuk implemetasi informasi keterbukaan publik dari Bawaslu Kabupaten Magelang.

"Karena Bawaslu sudah menjadi sebuah badan dan milik publik sehingga ini juga bisa menjadi media pertanggungjawaban kita kepada masyarakat," pungkasnya.


Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, M. Habib Saleh mengatakan nama Shaka Demokrasi ini berasal dari hasil diskusi seluruh komisioner. Kata Shaka sendiri bisa diartikan dari dua versi, yakni Sansekerta dan Jawa.

"Kata Sakha dari bahasa sansekerta berarti berpikiran terbuka dan murah hati. Dimana lewat makna tersebut, kita mengajak masyarakat untuk lebih berpikiran terbuka dan selalu rendah hati," kata Habib di hadapan puluhan awak media.

Dijelaskan pula dari makna Jawa, Shaka sendiri memiliki arti (Soko) tiang penyangga rumah.

"Makna tersebut kita anggap Shaka Demokrasi bisa menjadi pilar demokrasi ke depan. Intinya adalah edukasi kepada masyarakat terkait demokrasi dalam Pemilu," jelasnya.

Habib mengungkapkan maksud dan tujuan dibuatnya Bulentin yang akan terbit setiap tiga bulan sekali ini.

"Tujuannya tadi sudah saya sebutkan yakni edukasi bagi masyarakt. Selain itu juga sebagai sarana sumbangsih pemikiran kita jajaran Bawaslu Kabupaten Magelang untuk kebaikan Pemilu ke depan agar lebih baik lagi," paparnya