SOSOK: Suratimin, Mendedikasikan Diri untuk Hutan

Suratimin di bengkel kayunya/Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
07 Mei 2019 08:17 WIB Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tinggal di area hutan membuat Suratimin, 52, lebih peka dan terdorong untuk memperhatikan lingkungan.  Setelah lama merantau karena bergabung dengan usaha perkayuan di luar Jawa, akhirnya pria asal Gunungkidul ini memlih mendedikasikan diri untuk lingkungan.

Suratimin mengaku sudah sejak lama prihatin terhadap kondisi lingkungan di kampung halamannya. Ia lelah dengan stigma Gunungkidul yang selalu dianggap sebagai daerah yang kering, kekurangan air, serta gersang.

Meski merantau, setiap tahun ia pulang dan melihat dari pesawat betapa gersangnya hutan Gunungkidul. Akhirnya, setelah memutuskan pensiun dari pekerjaannya di Kalimantan Timur pada 2003, ia kembali ke Pulau Jawa.

Pada 2004 ia bersama teman-temannya di Semoyo, Patuk mencoba memetakan beberapa permasalahan. “Permasalahan yang paling utama memang kaitannya dengan lingkungan. Sejak zaman kecil saya dulu, air itu enggak susah, tapi jauh. Artinya di sumber mata air itu ada airnya, walaupun jauh. Selain itu keragaman binatang juga banyak,” kata Suratimin ketika ditemui Harian Jogja di kediamannya di Dusun Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, belum lama ini.

Menurutnya, ada beberapa kebijakan pemerintah yang justru menjadikan alam rusak. Misalnya, menggunakan pupuk kimia dan bibit dari pabrik. Bahkan, tak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, kebijakan itu juga mempengaruhi perilaku manusianya.

“Misalnya saja dulu pas saya kecil, kalau nanam padi baru panen setelah enam tahun. Tapi, kan sekarang serba hibrida, serba super, panennya memang setahun bisa tiga kali, tapi itu lambat laun bibit lokal itu hilang,” jelasnya.

Suratimin melihat, meskipun hasil panen sekarang cenderung lebih melimpah ketimbang dulu, namun terjadi perubahan-perubahan mendasar pada dirinya sebagai seorang petani. Petani tak lagi terbiasa untuk menyiapkan bibitnya sendiri, melainkan bergantung pada bibik pabrikan. Ia merasa hal tersebut justru merugikan petani.

Untuk itu, ia berupaya bersama teman-temannya mengajak warga lain untuk membuat kelompok dan menyelenggarakan kelas-kelas pembelajaran. Ada dua kelas yang dibukanya, yaitu Sekolah Pertanian Rakyat (SPR) yang diperuntukkan bagi kalangan dewasa, serta Sekolah Anak Petani (SAP) untuk anak-anak kecil. “Yang ikut SAP itu kesininya kalau sekolah SD (sekolah dasar) udah pulang, sampai jam 5. Gurunya dari temen-temen itu sendiri, dan juga para mahasiswa, sukarela,” tutur dia.

Akhirnya, kelompok yang ia bentuk itu diberi nama Masyarakat Peduli Pertanian (MPP) yang kemudian diubah namanya menjadi Serikat Petani Pembaharu (SPP). Berkat pengalamannya selama 12 tahun di perusahaan kayu lapis di Papua membuatnya sedikit memahami industri kayu, meski dirinya sebenarnya bekerja di bagian personalia.

Setelah terbentuk kelompok itu, mayoritas warga yang merupakan petani itu pun saling belajar mengenai pengelolaan hutan rakyat yang dapat meningkatkan perekonomian mereka, sekaligus meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan.

Ia memetakan sumber mata air di Semoyo berdasarkan tiga zona, yaitu zona inti, zona resapan, serta zona penyangga.

“Itu perlu dibedakan, sebab treatment-nya berbeda terhadap pohon yang ditanam,” katanya. Alih-alih membeli bibit pabrik, Suratimin mengajak warga untuk kembali menggunakan bibit lokal dengan menyisihkan beberapa hasil panen mereka. Selain itu, bapak dua anak ini juga menganjurkan tetangga-tetangganya membuat pupuk organik serta pestisida alami. Awalnya ia merasa sulit, namun lama-kelamaan banyak tetangga mengikuti dirinya.

“Kendalanya pasti ada. Kebanyakan karena merasa belum ada contohnya, belum ada buktinya. Kemudian, motif uang juga. Yang ketiga, ya karena memang tidak acuh, kenapa harus susah-susah,” tutur Suratimin mengingat awal perjuangannya.

Namun, ia tak patah arang. Ia tetap mengajak warga sembari memberi contoh bagaimana mengelola hutan secara lestari.

Propaganda dari Radio

Kemudian, Suratimin mencoba upaya komunikasi lain yang dapat menjangkau masyarakat secara terus-menerus. “Memang bahasanya dicuci otak. Informasi tentang lingkungan harus diberikan terus-menerus supaya mau melakukan,” ujarnya.

Akhirnya, ia memilih media radio. Sayangnya, pendirian radio pada 2008 membutuhkan biaya yang banyak. Setelah ke sana-kemari mencari sumbangan dana, radio tersebut mengudara melalui saluran 107.8 FM dengan nama Radekka FM. Radekka merupakan singkatan dari Radio Desa Kawasan Konservasi.

“Sekarang kami coba streaming. Yang siaran ya saya, dibantu sama anak-anak muda. Biasanya pagi hari, mulai jam 7 sampai jam 9,” kata dia. Karena fokus isi siarannya yang seputar lingkungan, Suratimin juga sering berkeliling ke jaringan radio lain untuk menyampaikan materi tentang lingkungan.

Setelah warga memiliki komitmen untuk tidak merusak lingkungan, Suratimin juga mengajak mereka untuk memanfaatkan hasil hutan semaksimal mungkin.

“Saya pengennya warga itu, misalnya, kalau jual kayu ya enggak dijual glondongan, tapi dibuat handycraft. Kalau jual singkong ya enggak kiloan, tapi dibikin criping,” kata dia. Hal itu dirasanya akan membuat perekonomian warga meningkat, karena mereka tak hanya menjual barang mentahnya.

Dirinya pun mencontohkannya dengan membuka bengkel kayunya sendiri. Ia membuat berbagai suvenir berbahan kayu. Kini, ia sering mendapat pesanan dari kampus-kampus untuk membuat plakat maupun suvenir berbentuk lain. Bahkan, ia pernah mendapat pesanan membentuk kayu menjadi radio. Kini ia juga menggunakannya di ruang siarannya.

Apresiasi datang tak hanya dari warga sekitar, bahkan pemerintah pusat juga memberikan penghargaan melalui Anugerah Kalpataru pada 2013 yang diraihnya dalam kategori Perintis Lingkungan. Berkat itu pula, banyak mahasiswa yang datang ke Semoyo untuk berbagi pengetahuan tentang pengelolaan hutan secara lestari. “Sering dipakai penelitian. Saya juga sering diminta jadi dosen tamu di Instiper,” kata dia.