Di Harlah Muslimat NU, Khofifah Deklarasikan Anti-Hoaks, Presiden Ajak Jangan Saling Mencela

Presiden RI Joko Widodo menunjukkan buku yang memuat sejarah perkembangan gedung madrasah saat hadir dan berpidato dalam acara resepsi milad 1 abad Madrasah Mu'allimin-Mu'allimat Muhammadiyah di Jalan Letjen S. Parman, Jogja, Kamis (6/12/2018). Jokowi dalam kunjungan kerjanya di Jogja juga bersilaturahmi dengan Sri Sultan HB X di Kraton Jogja. - Harian Jogja/Desi Suryanto
27 Januari 2019 13:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa memimpin deklarasi anti-hoaks, fitnah, dan ghibah saat perayaan Hari Lahir Muslimat NU ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Kegiatan tersebut diikuti 100.000 lebih warga Muslimat NU.

Deklarasi yang dinamakan Deklarasi Anti-Hoaks, Fitnah, dan Ghibah itu berisi empat poin yang dibacakan oleh Khofifah dan diikuti oleh ratusan ribu anggota Muslimat yang hadir di tempat itu.

Poin pertama dari deklarasi ini menekankan pentingnya penolakan pada hoaks, fitnah, dan ghibah yang dapat memicu perpecahan dan perselisihan bangsa, sementara poin kedua menegaskan anggota Muslimat tidak akan membuat dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan ghibah.

Adapun poin ketiga dari deklarasi ini adalah pentingnya membudayakan menyaring berita sebelum menyebar informasi yang diterima, sedangkan poin terakhir mengingatkan tentang perlunya berpikir positif untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan bangsa.

Khofifah mengatakan, komitmen ini perlu dipegang mengingat nilai-nilai yang diusung NU berkenaan dengan corak Islam yang mengedepankan toleransi dan moderasi.

"Untuk membangun toleransi dan moderasi maka di Harlah kali ini kami deklarasikan warga Muslimat antihoaks," kata Khofifah Minggu.

Pada Momen Harlah Muslimat yang menginjak usia 73 tahun ini, Khofifah juga mengingatkan potensi luar biasa yang dimiliki Muslimat sebagai organisasi perempuan yang punya kader berkualitas, berintegritas, dan komitmen yang luar biasa.

Acara ini pun dibuat sebagai bentuk syukur Muslimat pada Allah atas semua hal yang telah dialami oleh Muslimat NU. "Kekuatan muslimat NU itu dari kemandiriannya, membangun dari ranting, cabang hingga wilayah, pusat," kata dia.

Di Harlah ke-73 ini, Muslimat NU mengusung tema Jaga Aswaja, Teguhkan Bangsa . Khofifah menilai, tema ini tak lepas dari nilai toleran dan moderat yang diusung NU tadi.

Menurut dia, Indonesia diberi rahmat sebagai bangsa yang beragam baik dari suku, bahasa, tradisi, hingga agama. Namun perbedaan ini hendaknya disikapi dengan bijak bukan malah menjadi bibit perpecahan antar anak bangsa.

"Toleransi dengan yang berbeda jadi bagian yang akan menjadikan kita berlomba-lomba menuju kebaikan dari yang satu kepada yang lain," ucap Khofifah.

Dia juga menekankan perlunya memberikan ruang kebebasan berkespresi dan kebebasan berbicara, agar muncul rasa saling menghargai. "Kita harus rangkul mereka ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia," kata dia.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) juga menghadiri kegiatan harlah tersebut. Presiden mengajak Muslimat NU untuk menjaga persatuan, merawat, dan menjaga persaudaraan antara saudara sebangsa dan se-Tanah Air.

"Saya ajak bapak, ibu semuanya, khususnya Muslimat NU untuk bersama-sama menjaga persatuan kita, merawat dan menjaga persaudaraan kita, kerukunan kita, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah kita, jangan sampai perbedaan kita menjadi tidak seperti saudara, padahal kita adalah saudara sebangsa se-Tanah Air," kata Presiden. 

Presiden menitipkan pesan terlebih saat tahun politik menjelang, perbedaan pilihan politik rentan menjadi hal yang menimbulkan perpecahan. Ia prihatin karena saat ini ketika ada perbedaan pilihan politik justru menjadikan antar saudara sebangsa dan se-Tanah Air saling mencela dan menghina satu sama lain.

"Jangan seperti itu, jangan saling mencela. Boleh tidak saling mencela, saling menghina, saling mengejek, menyebarkan hoaks? Kita ini adalah saudara sebangsa se-Tanah Air," katanya.

Indonesia juga disebutkannya kembali sebagai negeri yang majemuk dengan perbedaan-perbedaan, bermacam-macam, warna-warni, beranekaragam, berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, dan berbeda bahasa daerah. "Oleh sebab itu, tadi sudah disampaikan oleh Ketua Umum Muslimat NU Bu Khofifah, marilah kita menjaga nilai-nilai aswajah, nilai-nilai toleransi saling hargai, saling menghormati, di antara suku yang ada, di antara perbedaan-perbedaan agama yang kita miliki," katanya.

Sumber : antara