Amerika Buru Informasi Program Nuklir Iran, Siapkan Hadiah Rp362 Miliar
AS menawarkan hadiah hingga Rp362 miliar untuk informasi fasilitas, peralatan, dan personel terkait program nuklir Iran.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan./Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakhiri ketegangan dengan Iran melalui jalur diplomasi. Erdogan juga menegaskan Turkiye akan terus berupaya mendorong perdamaian di tengah konflik yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Dalam pembicaraan melalui sambungan telepon pada Sabtu (7/11/2026), kedua pemimpin membahas hubungan bilateral Turkiye-AS serta perkembangan situasi regional dan global.
Mengutip ANTARA, Minggu (8/11/2026), kantor kepresidenan Turkiye menyampaikan Erdogan meyakini kerja sama antara Ankara dan Washington akan terus menguat. Kedua negara juga disebut akan berupaya memberikan momentum baru bagi hubungan bilateral dalam waktu dekat.
"Presiden Erdogan menyampaikan keyakinannya bahwa kerja sama antara Turkiye dan AS akan terus menguat.
Ia menyebutkan bahwa kedua negara akan berupaya memberikan momentum baru bagi hubungan tersebut dalam waktu dekat," demikian pernyataan kantor kepresidenan Turkiye.
Kantor kepresidenan Turkiye juga menyampaikan pesan Erdogan mengenai pentingnya penyelesaian konflik AS-Iran melalui diplomasi.
"Presiden kami mengatakan bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat harus diakhiri dan berbagai persoalan perlu diselesaikan melalui diplomasi. Ia juga menegaskan bahwa Turkiye akan terus berupaya mendorong perdamaian," lanjut pernyataan tersebut.
Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas serangan tersebut.
Meski konflik kini mereda, belum ada penyelesaian yang dicapai. Risiko kembali pecahnya permusuhan antara pihak-pihak yang terlibat juga masih terbuka.
Di tengah situasi tersebut, pemerintahan AS dilaporkan mengalami perbedaan pandangan mengenai langkah selanjutnya, yakni melanjutkan operasi militer atau mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi.
Mengutip laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip sejumlah pejabat AS tanpa menyebutkan nama, pemerintahan Trump terbagi menjadi beberapa kelompok dalam menentukan kebijakan terhadap Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance dan sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk Persia disebut menyarankan Trump mengakhiri perang. Namun, sejumlah penasihat lainnya mendorong agar serangan terhadap Iran dilanjutkan.
Dalam beberapa pengarahan baru-baru ini, Menteri Perang Pete Hegseth dan Kepala Komando Pusat AS Brad Cooper dilaporkan mendukung dimulainya kembali operasi militer skala besar terhadap Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent disebut mengusulkan pengetatan sanksi serta kelanjutan blokade perdagangan Iran.
Kelompok lain yang mendukung penyelesaian melalui diplomasi terdiri atas utusan khusus AS Steve Witkoff, sejumlah penasihat Trump, dan Vance. Mereka dilaporkan mendesak Trump mengupayakan solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan sejumlah opsi masih dibahas di internal pemerintahan AS, mulai dari melanjutkan tekanan militer hingga memperketat sanksi dan mengupayakan penyelesaian melalui perundingan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
AS menawarkan hadiah hingga Rp362 miliar untuk informasi fasilitas, peralatan, dan personel terkait program nuklir Iran.
Penjualan rumah primer turun 8,43% pada kuartal III/2026. Kementerian PKP menyoroti daya beli dan tetap mendorong penyaluran KPR FLPP.
BGN menegaskan kendaraan distribusi MBG bukan bagian biaya operasional Rp3.000 per penerima manfaat dan menindaklanjuti rekomendasi KPK.
Film drama meramaikan bioskop Indonesia sepanjang November 2026. Simak daftar judul, jadwal tayang, pemain, dan sinopsisnya.
Gempa magnitudo 5,7 mengguncang Jepang tengah pada Minggu dini hari. Lebih dari 20 orang terluka, tetapi tidak ada peringatan tsunami.
PM Polandia Donald Tusk menyebut polisi menemukan tiga jasad di rumah pelaku penembakan di Krakow. Insiden tersebut sebelumnya menewaskan enam orang.