Amerika Buru Informasi Program Nuklir Iran, Siapkan Hadiah Rp362 Miliar

Newswire
Newswire Minggu, 08 November 2026 08:37 WIB
Amerika Buru Informasi Program Nuklir Iran, Siapkan Hadiah Rp362 Miliar

Ilustrasi, senjata nuklir memiliki daya ledak ribuan kalilipat dibandingkan dengan bom berbahan baku TNT./8pmprimetimenews.com\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Amerika Serikat (AS) menawarkan hadiah hingga US$20 juta atau sekitar Rp362 miliar bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai program nuklir Iran. Tawaran melalui program Rewards for Justice Departemen Luar Negeri AS itu juga mencakup kemungkinan relokasi atau pemindahan tempat tinggal bagi pemberi informasi.

Melansir BBC, Minggu (8/11/2026), informasi yang dibutuhkan pemerintah AS meliputi berbagai aspek program nuklir Iran, mulai dari fasilitas, peralatan, hingga personel yang terlibat.

Penawaran hadiah tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Teheran. Presiden AS Donald Trump pada tahun lalu mengklaim fasilitas nuklir Iran telah "dihancurkan sepenuhnya" setelah serangkaian serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel.

Sementara itu, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan tidak bertujuan mengembangkan senjata nuklir.

AS Cari Informasi Fasilitas dan Personel Nuklir Iran

Departemen Luar Negeri AS menyatakan pencarian informasi tersebut berkaitan dengan berbagai komponen program nuklir Iran. Dalam pernyataan resminya, pemerintah AS juga menyoroti ketidakpatuhan Iran terhadap kewajiban pengamanan atau safeguards Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Menurut Departemen Luar Negeri AS, kondisi tersebut menyebabkan IAEA kehilangan "kesinambungan pengetahuan" mengenai produksi dan inventaris sejumlah komponen penting, termasuk sentrifugal nuklir Iran.

Sentrifugal merupakan perangkat yang digunakan untuk memproduksi uranium yang diperkaya. Material tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar reaktor untuk kepentingan sipil.

Namun, uranium yang diperkaya juga dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir apabila tingkat pengayaannya mencapai kemurnian sekitar 90% atau lebih.

AS Bentuk Task Force Iron Gate untuk Awasi Pergerakan Material Iran

Selain menawarkan hadiah bagi pemberi informasi, militer AS menyatakan sedang membentuk satuan tugas khusus untuk memperkuat upaya pembatasan pergerakan senjata dan material yang dikenai sanksi oleh Iran melintasi perbatasannya.

Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyebut satuan tugas bernama Task Force Iron Gate tersebut akan beroperasi dari Tampa, Florida. Satuan ini juga akan bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah AS lainnya.

Fokus pengawasan tidak hanya mencakup pergerakan senjata, tetapi juga material dengan penggunaan ganda atau dual-use serta aliran pendapatan ilegal.

Centcom memperkirakan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah mencegah negara tersebut mengekspor minyak mentah senilai lebih dari US$25 miliar.

Trump Singgung Kemungkinan Serangan ke Pickaxe Mountain

Spekulasi mengenai kemungkinan AS kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran meningkat setelah pemilu sela AS. Namun, sebelum pemungutan suara berlangsung, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya "tidak terburu-buru" mengambil langkah tersebut.

Dalam wawancara dengan Fox News sehari sebelum pemilu sela, Trump juga menyebut AS "mungkin perlu menyerang Pickaxe Mountain", sebuah lokasi bawah tanah yang dikaitkan dengan program nuklir Iran.

Trump menggambarkan serangan terhadap lokasi tersebut "bukan masalah besar" dan dapat dilakukan hanya dalam waktu "satu jam". Sebelumnya, dia berulang kali mengancam akan membombardir lokasi bawah tanah yang diduga menjadi bagian dari program nuklir Iran itu.

Meski demikian, Trump dan Wakil Presiden JD Vance menyatakan penolakan publik terhadap perang dengan Iran turut mendorong kekalahan besar Partai Republik dalam pemilu sela pekan ini.

Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa Gedung Putih mungkin tidak lagi berupaya meningkatkan eskalasi konflik.

Trump Klaim Iran Ingin Segera Capai Kesepakatan

Pada Jumat, Trump bersikeras bahwa Iran ingin segera mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan dengan AS. Dia menyoroti dampak perang terhadap perekonomian dan kekuatan militer Teheran.

"Kami sedang berurusan dengan mereka sekarang. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan," ujar Trump seperti dikutip BBC, Minggu (8/11/2026).

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa mengatakan kedua pihak tengah membahas sejumlah gagasan dan proposal yang telah disampaikan.

Keterangan tersebut disampaikan di tengah upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar dari konflik. Juru bicara itu juga menyatakan masih optimistis kesepakatan dapat tercapai.

Para negosiator Iran sebelumnya telah membahas proposal dengan mediator untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari, setelah AS memenuhi tujuh persyaratan yang diajukan Teheran.

AS dan Iran sebenarnya sempat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz pada Juni. Namun, kesepakatan tersebut runtuh dalam hitungan pekan setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal kembali terjadi dan AS memberlakukan lagi blokade laut terhadap negara tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online