Pemerintah Bangun Koperasi Petani dan Peternak untuk Jaga Pasokan Jagung

Newswire
Newswire Sabtu, 07 November 2026 23:17 WIB
Pemerintah Bangun Koperasi Petani dan Peternak untuk Jaga Pasokan Jagung

Peternakan ayam broiler. - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menyiapkan ekosistem jagung dari hulu hingga hilir untuk mengatasi persoalan pasokan pakan yang dihadapi peternak ayam petelur. Salah satu langkahnya dengan menghubungkan petani jagung dan peternak dalam satu rantai usaha melalui koperasi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar hadir langsung membantu petani dan peternak.

"Perintah Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir di tengah petani dan peternak, mendengar persoalan mereka dan menyelesaikannya secara nyata," kata Mentan Amran terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan itu disampaikan Amran saat bertemu peternak ayam petelur dalam kegiatan Sinergi BUMN Pangan Bersama Peternak Ayam Petelur Mikro. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan agenda pembelian telur ayam dan penyaluran jagung SPHP.

Menurut Amran, pemerintah tidak cukup hanya mendengarkan keluhan petani dan peternak. Setiap persoalan yang disampaikan harus ditindaklanjuti dengan solusi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung di lapangan.

Petani Jagung dan Peternak Dihubungkan Lewat Koperasi

Amran menjelaskan Kementerian Pertanian tengah membangun ekosistem jagung yang melibatkan petani dan peternak dalam satu rantai usaha. Melalui skema tersebut, keduanya akan dihubungkan melalui koperasi.

“Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi. Diberikan benih gratis dari pemerintah, setelah tumbuh juga pompa dengan alsintan, sesuai kemampuan APBN kita,” ujar Mentan Amran.

Dalam skema itu, hasil panen jagung petani akan dibeli oleh koperasi peternak untuk memenuhi kebutuhan pakan. Jika produksi melebihi kebutuhan, Bulog akan menyerap dan menyimpannya sebagai cadangan yang dapat digunakan kembali ketika peternak membutuhkan pasokan.

“Sehingga tidak terjadi lagi ke depan nanti kekurangan pakan dari jagung,” tegasnya.

Selain membangun solusi jangka panjang, pemerintah juga berupaya menangani kebutuhan mendesak peternak. Amran sebelumnya telah meminta jajarannya mempercepat pelayanan penyaluran jagung SPHP bagi peternak yang membutuhkan.

Pasokan pakan menjadi persoalan penting bagi peternak karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha. Karena itu, kepastian penyaluran dan pelaksanaan kebijakan di lapangan menjadi kebutuhan mereka.

Amran menegaskan pemerintah akan terus menerima dan menindaklanjuti persoalan yang disampaikan petani maupun peternak.

“Kalau ada petani berteriak dalam bentuk demo atau sendiri, tidak pernah kami menghindar. Pasti kami temui. Kami sebagai bapaknya harus bertanggung jawab di dunia. Jangan di akhirat nanti baru ditagih,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbagai upaya pemerintah, mulai dari menjaga pasokan jagung SPHP, memperkuat penyerapan hasil panen petani, membangun ekosistem jagung-peternak, hingga menindaklanjuti keluhan peternak, merupakan pelaksanaan arahan Presiden Prabowo.

“Ini bukan hanya soal jagung. Ini soal bagaimana kita hadir dan menyelesaikan masalah petani dan peternak. Kita jalankan karena ini perintah Bapak Presiden,” tuturnya.

Pemerintah memastikan pelaksanaan arahan tersebut dapat dirasakan hingga tingkat petani dan peternak, bukan sekadar menjadi kebijakan di atas kertas.

Peternak Terbantu Jagung SPHP

Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Asuti, mengatakan penyaluran jagung SPHP membantu peternak di tengah kenaikan harga komoditas tersebut di pasaran.

Ia menyebut harga jagung di luar program SPHP mengalami kenaikan dari sekitar Rp7.000 per kilogram menjadi Rp7.400 per kilogram. Harga kemudian mencapai Rp7.800-Rp7.900 per kilogram.

Sementara itu, peternak dapat menebus jagung SPHP melalui Bulog dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. Yesi berharap penyalurannya bisa berlangsung lebih lancar dan berkelanjutan sehingga kebutuhan pakan peternak lebih terjamin.

Keluhan mengenai tingginya biaya pakan juga disampaikan Ketua Koperasi Anjuk Ladang Makmur Kabupaten Nganjuk, Zainuddin. Koperasi tersebut memiliki sekitar 75 anggota dengan populasi sekitar 250.000 ekor ayam dan produksi telur rata-rata mencapai 15 ton per hari.

Menurut Zainuddin, harga jagung dan pakan pabrikan yang tinggi menjadi beban bagi peternak. Harga jagung di pasaran disebut telah mencapai Rp7.800 per kilogram, sedangkan jagung SPHP dijual sekitar Rp5.500 per kilogram.

“Dengan jagung SPHP hanya Rp5.500 per kilogram, ini sangat membantu kami selaku peternak,” ujarnya.

Selain berharap pasokan pakan lebih terjangkau, Zainuddin meminta pemerintah turut menjaga harga telur agar tetap seimbang dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online