Ayah dan Anak Ikut Lari di SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 Powered By Astra Financial
Benny dan Fayyadh, ayah-anak asal DIY, mengikuti SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 setelah rutin berlari bersama tiga kali sepekan.
Ilustrasi peneliti melakukan tes virus flu burung atau H5N1./istockphoto
Harianjogja.com, JOGJA—Dugaan seorang anak kecil tewas karena terinfeksi virus flu burung membuat kasus flu burung mendapat perhatian dunia. Sejumlah negara pun dilanda kekhawatiran munculnya virus H5N1.
Dilansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan Indonesia, Selasa (7/3/2023), Kementerian Kesehatan Kamboja melaporkan salah satu anak perempuan berusia 11 tahun dari Desa Roleang, Provinsi Prey Veng, Kamboja tewas akibat dari flu burung.
Kasus tersebut tercatat sebagai kasus pertama flu burung merenggut nyawa seorang anak perempuan di Kamboja sejak laporan terakhir pada tahun 2014 silam. Sebelumnya pada tahun 2003-2014 dilaporkan bahwa ada sebanyak 56 kasus konfirmasi H5N1 dengan 37 kasus kematian (CFR: 66,1 persen).
Informasi yang dikutip dari United States Geological Survey (USGS) mengungkapkan bahwa flu burung adalah penyakit yang ditimbulkan oleh virus berbagai strain yang bisa diklasifikasikan dalam dua jenis.
Baca juga: Tanda Ginjal Anda Bermasalah, Salah Satunya Alami Kelelahan Ekstrem
Strain ini menentukan kemampuan virus flu burung dalam melakukan mutasi dan tingkat keparahan yang ditimbulkan saat menginfeksi manusia. Dua strain itu adalah low pathogenic avian influenza (LPAI) atau highly pathogenic avian influenza (HPAI).
Lantas apa saja jenis flu burung yang berbahaya dan mengancam manusia? Virus Avian Influenza (AI) tipe A ini terbagi berdasarkan dua protein pada permukaan virus yakni Hemagglutinin (HA) yang terdiri dari 16 subtipe (H1-H16) dan Neuraminidase (NA) yang terdiri dari 9 subtipe (N1-N9)
Adapun kombinasi yang mungkin terjadi pada protein tipe HA dan NA yakni pada jenis H5N1, H5N2, H7N2, H7N8, dll.
Secara rinci Kementerian Kamboja mengungkapkan gejala yang dialami anak yang terduga terinfeksi flu burung yakni demam mencapai 39 derajat, batuk, serta sakit tenggorokan. Selang tiga hari kemudian, anak tersebut dilarikan ke Rumah Sakit Nasional di Phnom Penh karena sudah mulai merasa lelah dengan gejala yang dirasakan.
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh pemerintah Kamboja, anak tersebut pun dikonfirmasi positif Flu Burung A (H5N1) dan pada hari yang sama anak tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Hingga saat ini, penyebab kematian anak kecil tersebut masih dalam proses penyelidikan. Namun, berdasarkan informasi dari penduduk desa setempat bahwa telah terjadi kasus kematian pada hewan liar yang tidak wajar di desa tersebut.
Atas kasus tersebut akhirnya tim tanggap darurat Kementerian Kesehatan Kamboja bekerja sama dengan tim dokter hewan guna menyelidiki dan menemukan sumber infeksi dan kasus suspek flu burung pada hewan dan manusia sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kejadian tersebut serta upaya pencegahan penularan kasus kepada orang lain.
Tak lupa Kementerian Kesehatan Kamboja menghimbau agar masyarakat mengurangi kontak langsung dengan unggas yang dalam keadaan sakit atau mati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Benny dan Fayyadh, ayah-anak asal DIY, mengikuti SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 setelah rutin berlari bersama tiga kali sepekan.
Serangan teror di kantor polisi Kota Kohat, Pakistan, menewaskan 21 orang termasuk 15 polisi dan melukai lebih dari 80 orang.
Kemensos memperluas akses pendidikan gratis bagi lebih dari 44.000 anak keluarga miskin melalui 182 sekolah dan DTSEN.
OJK menetapkan modal disetor minimal BMKS Rp1 triliun. POJK 16/2026 juga mengatur syarat izin, direksi, dan dewan komisaris.
Prabowo menegaskan ekonomi Indonesia harus berasas kekeluargaan dan pengelolaan kekayaan alam ditujukan untuk kemakmuran rakyat.
Razia gabungan di Rutan Kelas I Surakarta menemukan korek api, besi hingga penjepit kertas. Narkoba dan handphone tidak ditemukan.