Advertisement
Kanselir Jerman Soroti Tingginya Cuti Sakit
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik keras terhadap tingginya angka cuti sakit pekerja di negaranya yang dinilai menghambat upaya pemulihan ekonomi nasional yang tengah melambat.
Dalam agenda kampanye di Baden-Württemberg pekan lalu, Merz menyoroti rata-rata cuti sakit karyawan yang disebutnya mencapai hampir tiga pekan per tahun. Ia mendorong masyarakat Jerman untuk meningkatkan etos kerja guna mengangkat kembali kinerja ekonomi yang mengalami stagnasi.
Advertisement
Secara khusus, Merz mengkritik kebijakan pemberian surat keterangan sakit melalui sambungan telepon yang mulai diterapkan secara luas sejak pandemi Covid-19.
"Apakah itu masih masuk akal saat ini? Apakah itu benar-benar tepat? Apakah itu benar-benar perlu?" tanya Merz, dikutip dari Der Spiegel.
BACA JUGA
Berdasarkan data tahun 2024, rata-rata karyawan di Jerman mengambil 14,5 hari cuti sakit per tahun. Angka tersebut dinilai Merz sebagai hilangnya potensi produktivitas yang signifikan.
“Pada akhirnya, kita semua harus bekerja sama untuk mencapai tingkat kinerja ekonomi yang lebih tinggi daripada yang kita capai saat ini,” tegas Merz.
Kritik tersebut sejalan dengan pernyataan Merz sebelumnya yang menyerukan agar warga Jerman bersedia bekerja lebih lama. Ia menilai orientasi berlebihan pada keseimbangan kehidupan kerja serta wacana penerapan minggu kerja empat hari tidak relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
“Dengan keseimbangan kehidupan kerja dan minggu kerja empat hari, kemakmuran yang dinikmati negara kita saat ini tidak dapat dipertahankan di masa depan. Itulah mengapa kita harus bekerja lebih banyak,” ungkapnya di hadapan kamar industri awal pekan ini.
Pernyataan Merz muncul di tengah tekanan ekonomi yang berat. Jerman mencatat kontraksi ekonomi secara berturut-turut pada 2023 dan 2024, sebuah kondisi yang untuk pertama kalinya terjadi sejak awal 2000-an.
Situasi ini merupakan dampak lanjutan seusai Jerman bergabung dalam sanksi Barat terhadap Rusia pada 2022. Keputusan tersebut mengakhiri ketergantungan Jerman pada pasokan energi murah dari Rusia yang sebelumnya menyumbang sekitar 55% kebutuhan gas alam nasional.
Akibatnya, harga energi melonjak tajam. Laporan Bild menyebutkan bahwa sepanjang 2022 hingga 2025, harga listrik naik 14%, sementara harga gas melonjak hingga 74%. Merz juga mengakui pada Agustus lalu bahwa biaya negara kesejahteraan saat ini sudah tidak lagi sebanding dengan kemampuan ekonomi Jerman.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Merz tetap memprioritaskan peningkatan anggaran pertahanan. Pada Mei lalu, ia berjanji akan menjadikan militer Jerman sebagai kekuatan konvensional terkuat di Eropa.
Kebijakan ini memicu perdebatan luas di publik terkait prioritas penggunaan anggaran negara, antara pemenuhan kebutuhan sosial, investasi pemulihan ekonomi, dan penguatan keamanan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- YouTuber Resbob dan Bigmo Jadi Tersangka Fitnah Azizah Salsha
- ABK Penyelundup 2 Ton Sabu di Batam Divonis 5 Tahun Penjara
- Update Mudik Lebaran 2026: Masih Ada 2,37 Juta Tiket Kereta Api KAI
- Penetapan Hakim Adies Kadir Dipersoalkan, Begini Amar Putusan MKMK
- PBB Soroti Krisis Kemanusiaan di Timur Tengah
Advertisement
SIM Keliling Sleman Dibuka Lagi, Warga Bisa Perpanjang SIM A dan C
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cek Lokasi Bus SIM Keliling Sleman Maret 2026
- Jadwal Bus Jogja-Pantai Baron dan Parangtritis
- Jelang Lebaran, Perbaikan Jalan DIY Ditarget H-3
- Sleman Dorong Produksi Gula Semut dan Virgin Coconut Oil
- Dana Desa Turun, Kalurahan di Bantul Didorong Tetap Atasi Stunting
- Harga Sembako Bantul Stabil sejak Awal Ramadan
- Produksi Hortikultura 2025 Perkuat Ketahanan Pangan di Sleman
Advertisement
Advertisement








