Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan Berbagai Pihak untuk Amankan Vaksin Covid-19

Menteri Luar Negerti Retno LP Marsudi usai menerima 3,8 juta vaksin jadi AstraZeneca di Bandara Soekarno Hatta, Senin (26/4/2021). - Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris\\r\\n\\r\\n
18 September 2021 17:37 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menegaskan Indonesia siap bekerja sama dengan negara dan pihak manapun untuk mengamankan pasokan vaksin Covid-19 nasional dalam jangka pendek dan mengembangkan produksi vaksin lokal untuk jangka panjang.
 
Saat ini, Menlu tengah melakukan kunjungan kerja ke Los Angeles dan Houston, Amerika Serikat untuk bertemu dengan sejumlah perusahaan pengembang vaksin dan teknologi vaksin multiplatform. Berbagai penjajakan kerja sama ini juga bertujuan untuk membangun kemandirian industri kesehatan Indonesia.
 
“Kunjungan ini adalah tindak lanjut kunjungan saya Agustus lalu ke Washington DC di mana AS dan Indonesia siap kerja sama untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Ini dilakukan untuk memenuhi target dan harapan yang sudah ditetapkan oleh Bapak Presiden Jokowi,” kata Menlu dalam keterangan resmi, Jumat (17/9/2021).
 
Retno menjelaskan bahwa beberapa hari lalu COVAX telah menyampaikan tidak dapat memenuhi target pengiriman 2 miliar dosis vaksin hingga akhir tahun.
 
Bahkan COVAX yang merupakan program bersama untuk mendukung akses penanggulangan Covid-19 melalui kolaborasi mempercepat penelitian, produksi, dan akses yang setara atas vaksin Covid-19 telah menetapkan deadline baru untuk target ini yaitu kuartal pertama 2022.
 
Arti penting dose-sharing (berbagi vaksin), tambah Retno, juga disampaikan oleh Dirjen WHO pada 5 September saat bertemu dengan Menkes negara G-20.
 
Pada pertemuan tersebut, disebutkan ada tiga langkah luar biasa diperlukan saat ini untuk atasi kelangkaan dan kesenjangan vaksin.
 
Langkah tersebut adalah Queue swapping atau pertukaran antrean dosis antara negara dengan tingkat vaksinasi tinggi dengan rendah, termasuk melalui COVAX Facility.
 
“Kedua, mempercepat realisasi dose-sharing. Dan terakhir transfer teknologi dan know-how untuk mendukung produksi vaksin,” jelasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis.com