Mochtar Riady, Sang Raja Mal di Indonesia
Mal merupakan salah satu destinasi pilihan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, terutama di kota-kota besar.
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2021). Rapat tersebut membahas tentang dukungan pemerintah terhadap pengembangan vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA – Vaksin Nusantara besutan Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sempat menjadi perbincangan panas beberapa bulan lalu. Terawan sendiri mengaku bingung dengan hal itu
“Untuk titik persoalannya kami juga bingung, buat kami sebagai periset merasa nggak ada persoalan. Kaidah yang digunakan juga kaidah baru, karena dendritik sel vaksin ini belum ada yang mengerjakan untuk Covid-19. Jadi tentunya harus menggunakan kaidah baru yang berbeda. Lagi pula yang disuntikan ke badan kita sel dendiritk kita sendiri, bukan dari orang lain,” kata Terawan pada Rapat Degar Pendapat Komisi VII DPR, Rabu (16/6/2021).
Menurutnya, keributan yang terjadi, persoalannya tergantung persepsi dan bisa diselesaikan dengan duduk bersama.
“Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, karena ini hal baru, pasti akan menimbulkan ke-egoan baru, tergantung sudut pandangnya. Kalau dilihat dari sisi cara pembuatan misalnya, bisa ada yang bilang itu produk Amerika karena ada bahan dari Amerika, bisa juga bilang produk Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, yang terpenting dalam pengembangan vaksin Covid-19 adalah percaya bahwa semua pihak punya good will atau niat baik.
“Dan saya percaya kalau kita bersama-sama, kita mampu menyelesaikan pandemi ini dengan benar. Karena problem-nya kita menuju herd immunity. Salah satu caranya dengan membangun imun, dengan dendritik sel imunoterapi,” jelasnya.
Dia juga mengungkapkan, berdasarkan hasil uji di Semarang, penerima vaksin Nusantara sampai 3 bulan menunjukkan imunnya masih tinggi, dan diharapkan bisa sampai 6 bulan akan tetap muncul imun yang tinggi.
“Di literatur dendritik sel yang ada, untuk kejadian SARS di China, memang sel T-nya [antigen] masih ada sampai 6 tahun, dan itu riset di dunia mengemukakan, makanya muncullah hipotetis vaksin dendritik sel ini dianggap sebagai beginning of the end, baik untuk menangani kanker atau Covid-19,” paparnya.
Terawan pun sedikit menyayangkan keributan yang terjadi. Pasalnya, nadanya seperti meragukan riset yang telah dilakukan karena belum pernah ada riset serupa sebelumnya. “Apakah tidak boleh kalau kita mulai duluan?” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Mal merupakan salah satu destinasi pilihan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, terutama di kota-kota besar.
Pemerintah mempercepat program sektor riil seperti pangan, energi, dan hilirisasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
BI, Kemenkeu, dan DPR memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas rupiah di Rp18.000 dan meredam tekanan pasar keuangan Indonesia.
Xiaomi 18 Pro Max dikabarkan hadir dengan kamera 200MP ganda, chipset Snapdragon terbaru, dan peningkatan signifikan pada fotografi.
Kemnaker menegaskan komitmen menindaklanjuti laporan PHK, perlindungan pekerja, hingga K3 demi hubungan industrial yang adil dan kondusif.
Bank Mandiri Taspen melalui program Glow and Grow dorong pensiunan tetap aktif, sehat, dan produktif lewat edukasi dan pemberdayaan lansia.